Sukesih membudidayakan sayur-sayuran itu dengan bahan-bahan yang ada.
"Pupuk buatan Bapak (suami, Aklas, red) sendiri. Pestisida saya buat dari campuran sisa-sisa sampah organik seperti sayuran, daun bawang merah, daun bawang putih, lalu saya siramkan. Kalau di pakcoy ada ulat, saya kasih mati begitu saja," katanya. Saat ini tak banyak hama yang dihadapi di kebun. Hanya tersisa ulat bandel dalam jumlah sangat kecil dan mudah dimatikan.
Sukesih mengaku semula hanya memenuhi hobi mendukung pertanian organik sang suami. Pupuk organik tak hanya digunakan untuk menyuburkan padi di sawah, tapi juga sayur. Hasilnya, Sukesih merasakan hidupnya lebih sehat setelah mengonsumsi sayur organik. Ia tak lagi mudah terserang sakit kepala.
"Kalau dulu saya sering sakit kepala. Setelah saya tanam sendiri, alhamdulillah, sudah rasakan sendiri manfaatnya. Sekarang saya sudah jarang beli sayur di pasar. Kalau dulu sakit kepala saya hampir setiap hari dan saya minum Paracetamol," kata Sukesih.
Tak hanya memperoleh manfaat kesehatan, Sukesih juga memperoleh manfaat ekonomi. Sayur organiknya dicari banyak orang. Ada pemesan yang minta sayur itu diantar ke tempat mereka, dan ada yang datang sendiri. Para pemesan rata-rata kalangan rumah tangga dan pengelola kafe yang menjadikan sayurnya sebagai bahan campuran burger. Setiap bulan saat ramai pembeli, Sukesih bisa memperoleh tambahan uang paling sedikit Rp 3 juta.
Saat ini, pandemi membuat jumlah pembeli berkurang. "Kafe yang sekarang kan banyak yang lagi sepi juga. Tapi tidak apa-apa. Saya menanam terus, menyemai terus. Kalau tidak ada yang pakai, ya pakai sendiri saja," kata Sukesih.
Atma Agus Hermawan, Community Development Officer job tomori JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi, menyebut keberadaan perempuan dan para istri dalam mendukung pertanian ramah lingkungan sangat penting. Ia pernah menemui fakta bagaimana pasangan suami-istri petani bisa berbeda pendapat soal penerapan pertanian organik.
"Pertanian organik banyak tantangannya, termasuk dari keluarga sendiri," katanya.
Ada istri yang tidak mau menyapa suaminya karena tak setuju sang suami menerapkan pertanian organik. Si istri menilai pertanian organik berisiko mengurangi pendapatan dibandingkan pertanian konvensional yang lebih menjanjikan hasil panen lebih banyak.
Baca Juga: Kisah Jurnalis Perempuan di Balikpapan Alami Kasus Pelecehan Seksual via Media Sosial
"Tapi kemudian si istri mendukung, karena akhirnya merasakan hasilnya. Apalagi harga beras organik jauh melebihi harga beras biasa," kata Atma.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dari Apel Premium hingga Cokelat, Gaya Hidup Sehat Ala Selandia Baru Hadir di Indonesia
-
Industri Film Indonesia Masuki Era Baru dengan Dukungan Blockchain dan AI
-
Dari Anemia hingga Isu Mental, Ketika Generasi Muda Turun Tangan Racik Solusi Kesehatan
-
Tandon Air yang Bagus Merek Apa? Ini 4 Rekomendasinya yang Anti-Lumut dan Tahan Lama
-
The Apurva Kempinski Bali Angkat Isu Regenerasi dan Keberlanjutan
-
Cara Atasi Uap Keluar dari Gagang Panci Presto agar Daging Cepat Empuk
-
Saat Ekonomi Sulit, Mal Andalkan Hiburan Anak untuk Dongkrak Belanja?
-
5 Tips Layering Parfum agar Wanginya Tidak Pasaran, Ini Aroma yang Cocok Dipadukan
-
Jerawat Tak Kunjung Sembuh? 4 Rekomendasi Vitamin dari Dokter Estetika untuk Wajah Berjerawat
-
12 Destinasi Wisata Hits di Jakarta untuk Libur Sekolah, dari Pantai hingga Hutan Mangrove