- Pemahaman masyarakat Sabu Raijua berpusat pada Pohon Lontar, sumber utama yang menyediakan kebutuhan pangan dan bahan bangunan.
- Orang Sabu menganut Filosofi Kecukupan; kebahagiaan diukur dari sedikitnya kebutuhan, bukan akumulasi materi tak terbatas.
- Standar pembangunan modern sering keliru menilai kesejahteraan, padahal kearifan lokal berbasis alam lebih adaptif terhadap lingkungan.
Suara.com - Kunci memahami orang Sabu di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, bukan terletak pada angka-angka statistik ekonomi, melainkan pada sebatang pohon. Namanya Pohon Lontar. Masyarakat Sabu Raijua menyebut pohon tersebut sebagai napas kehidupan.
Di sudut Desa Raekore, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Selasa (20/1/2026), diskusi mendalam mengalir di kediaman seorang pendeta bernama Fransisko Jakob. Dia merupakan seorang sejarawan dan peneliti arsip. Tak hanya itu, pria yang karib disapa Ciko tesebut juga memiliki ikatan batin yang kuat dengan tanah kelahirannya yakni Sabu Raijua.
Ciko membagikan perspektif yang menjungkirbalikkan banyak asumsi modern tentang kemiskinan, kebahagiaan, dan pembangunan di Pulau Sabu. Tak hanya itu, dia juga menyebut bahwa memahami orang Sabu itu bukan dari angka statistik, tapi dari sebatang pohon: lontar.
Lontar sebagai jantung dan napas kehidupan
Bagi masyarakat Sabu, lontar bukan sekadar komoditas perkebunan. Lontar merupakan poros yang memungkinkan kehidupan bertahan di tengah gersangnya pulau. Ciko membuka percakapan dengan sebuah pernyataan yang merangkum esensi tersebut secara tajam:
“Selama ada pohon lontar, orang Sabu bisa hidup,” ujar Ciko saat ditemui tim dari Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia di kediamannya.
Ya, kalimat sederhana ini bermakna luas. Lontar menyediakan segala kebutuhan dasar masyarakat Sabu, mulai dari pangan hingga bahan bangunan. Niranya diolah menjadi gula sabu sebagai sumber pangan dan air minum segar. Daunnya menjadi bahan anyaman untuk wadah air. Nah, batangnya menjadi tulang punggung bagi rumah tradisional mereka.
Hubungan intim antara Pohon Lontar dan masyarakat Sabu Raijua menciptakan ritme hidup yang unik. Dalam hal ini, seluruh sendi kehidupan sosial, ekonomi, hingga upacara adat, harus tunduk pada siklus produktivitas pohon lontar dan perubahan musim. Ciko pun memiliki penjelasan soal ketergantungan yang indah ini.
“Maka bagi orang Sabu, lontar adalah pohon kehidupan. Sumber makan, sumber minum, menjadi anyaman untuk wadah air, dan lain-lain. Semua yang dibutuhkan ada di sana.”
Baca Juga: Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?
Filosofi kecukupan, kebahagiaan dalam kesederhanaan
Satu hal yang paling membedakan masyarakat Sabu dengan paradigma ekonomi global adalah Filosofi Kecukupan. Sudah menjadi rahasia umum, di dunia modern, keberhasilan diukur dari akumulasi tanpa batas. Tapi, orang Sabu malah berbeda. Menurut Ciko, orang Sabu justru memegang teguh prinsip: semakin sedikit kebutuhan, semakin bahagia.
Ciko mengisahkan bagaimana prinsip tersebut dipraktikkan oleh para penyadap lontar di Sabu Raijua. “Orang Sabu itu tidak banyak kebutuhan, secukupnya. Selama ada pohon lontar, orang Sabu bisa hidup.”
Ia mencontohkan seorang penyadap yang secara sadar akan berhenti mengambil nira ketika ia merasa persediaan untuk satu tahun sudah mencukupi. Baginya, imbuh Ciko, ini adalah bentuk kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan hidup. Meski dari kacamata ekonomi modern, tindakan ini dianggap tidak efisien.
“Kalau penyadap merasa sudah cukup untuk satu tahun, dia akan berhenti. Meskipun masih bisa sadap lebih banyak saat kemarau. Kalau pendekatan ekonomi, kita mengatakan bahwa mereka tidak memanfaatkan potensi,” ujar Ciko.
Paradoks kebahagiaan
Berita Terkait
-
Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?
-
Tanggapan Mensos Soal Kematian Siswa SD di NTT: Ini Bukan Kasus Individual, Data Kita Bocor!
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Saat Daerah Tak Sanggup Bayar Gaji ASN, Siswa SD di NTT Menyerah pada Hidup Demi Buku Tulis
-
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
BRI Siapkan KPR DP 1% Hingga Tenor 30 Tahun untuk Danantara Housing Expo 2026
-
Avanza Seret Vixion di Palembang Ternyata Berawal dari Rencana Buka Warung Kopi
-
Ulasan The Kidnapping Day: Menemukan Makna Keluarga dari Kisah Penculikan
-
5 HP Realme RAM 8 GB Murah Mulai Rp1 Jutaan, Ini Pilihannya
-
BRI Dukung Edukasi Keamanan Transaksi Digital dan Bahaya Modus Penipuan di Situbondo
-
Karhutla Ganggu Kualitas Udara, 934 Kasus ISPA Tercatat di Kayong Utara
-
Pemilik KM Mutiara Sentosa II Diduga Bermasalah, 3 Kali Alami Kecelakaan Kapal
-
Diduga Intimidasi Warga yang Nongkrong, Polresta Solo Amankan 4 Orang
-
Poco C81 Pro Bikin HP Entry-Level Makin Gahar, Bawa Baterai 6000mAh dan Layar 120Hz
-
Danantara Housing Expo 2026: BRI Hadirkan KPR Cicilan Mulai Rp1 Jutaan