Suara.com - Peneliti dari Divisi Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengatakan, cuti melahirkan 6 bulan terbukti secara ilmiah memberi dampak baik terhadap kesehatan ibu dan anak, yang berujung pada kesehatan masa depan bangsa. Hal ini diungkapkannya menanggapi wacana DPR RI untuk menyetujui RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA), termasuk kewajiban cuti melahirkan menjadi 6 bulan.
“Penelitian kami sejak sepuluh tahun silam menunjukkan bahwa memperpanjang cuti melahirkan hingga 6 bulan mutlak memberi daya ungkit terhadap keberhasilan ASI eksklulsif, kesehatan ibu dan bayi, serta mempertahankan produktivitas pekerja perempuan,” ujar Dr Ray.
Menurutnya, tim kedokteran kerja FKUI, sejak 2012 sudah melakukan banyak penelitian dan mempublikasikan hasil riset terkait cuti melahirkan 6 bulan pada pekerja perempuan. Mayoritas hasil penelitian ini merujuk pada satu bukti yang sama, yaitu cuti 6 bulan sangat efektif meningkatkan potensi kesuksesan ASI eksklusif, mengoptimalkan status kesehatan ibu dan bayi, mempertahankan produktivitas pekerja, serta berdampak positif bagi ketahanan keluarga.
“Bila pekerja perempuan baru masuk kerja setelah 6 bulan dan berhasil memberi ASI Eksklusif, maka tingkat produktivitasnya 8 kali lebih baik. Sebaliknya, apabila ibu menyusui harus kembali bekerja di usia bayi 2-3 bulan, maka risiko kesehatan meningkat signifikan, terutama karena proses laktasinya terganggu. Akibatnya, produktivitas tidak maksimal,” ungkap Dr Ray, yang aktif memberi edukasi lewat akun Instagram @ray.w.basrowi.
Penelitian yang dilakukannya dimulai sejak 2012 hingga 2015. Hasil penelitian menegaskan bahwa pekerja buruh perempuan yang kembali bekerja pada usia bayi 3 bulan, maka tingkat kegagalan ASI eksklusif mencapai 81%. Artinya, hanya 19% buruh yang menyusui yang bisa ASI eksklusif.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PGHN bertajuk “Benefits of a Dedicated Breastfeeding Facility and Support Program for Exclusive Breastfeeding among Workers in Indonesia” membuktikan bahwa cuti melahirkan 3 bulan dan gagal ASI eksklusif mengakibatkan kondisi kualitas kerja menurun drastis dan peluang ibu untuk absen dari pabrik dan kantor 2 kali lebih besar.
“Artinya, cuti 3 bulan saja tidak membuat perusahan lebih untung, malah jadi buntung karena pekerja harus sering absen," ujar Ray, yang meneliti secara khusus bidang formulasi promosi laktasi pada pekerja perempuan.
Penelitian tim kedokteran kerja FKUI juga diperdalam dengan formulasi kebijakan dan program serta intervensi hingga tahun 2019. Dalam penelitian berjudul Developing Workplace Lactation Promotion Model in Indonesia, yang dipublikasikan di BMC Archives of Public Health, konsensus multi pakar menegaskan bahwa cuti melahirkan minimal 6 bulan adalah kebijakan utama yang paling efektif dalam meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif hingga 8 kali lebih besar.
Dr Ray menegaskan, RUU KIA sebaiknya segera dilaksanakan di Indonesia, apalagi negara tetangga pun sudah melakukannya.
Baca Juga: 7 Manfaat ASI Eksklusif untuk Bayi, Salah Satunya Menghindari Stres
Berita Terkait
-
Bangga Banget! FKUI Jadi Fakultas Kedokteran Nomor 1 Indonesia
-
Meski Pandemi Belum Usai, Masalah Anemia pada Anak Indonesia Tetap Harus Jadi Prioritas
-
Dekan FKUI Minta Masyarakat Cermati Aturan Makan 20 Menit, Ini Alasannya
-
Profesor UI Sebut Puasa Tingkatkan Imun Lawan Covid-19, Faktanya?
-
Wapres Maruf Ingatkan Pemberian ASI Ekslusif Cegah Stunting
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan
-
Ridwan Kamil Siap-Siap, KPK Buka Peluang Panggil Lagi terkait Kasus Korupsi Bank BJB
-
Siswi Tertemper Kereta di Jurangmangu, 4 Perjalanan Commuter Line Terdampak
-
Dedi Mulyadi Ancam Tahan Bantuan Desa, Ini Penyebabnya!
-
Viral Pungli Wisata Air Panas Karo Berujung Blokade Jalan, 3 Orang Ditangkap
-
KPK Tahan 4 Tersangka Korupsi Dana Iklan Bank BJB, Kerugian Negara Rp223,6 Miliar