Seiring bertambahnya usia perempuan, mereka mungkin melihat peningkatan kekeringan vagina. Setelah menopause, tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen, sehingga vagina lebih sulit dilumasi. Dinding vagina juga menjadi lebih tipis, yang bisa membuat vagina kering terasa nyeri.
Perubahan hormon
Tingkat estrogen yang lebih tinggi dapat meningkatkan kebasahan vagina dengan menyebabkan kelenjar Bartholin memproduksi lebih banyak cairan. Orang yang menjalani perawatan hormon, seperti mereka yang menjalani terapi penggantian hormon, mungkin melihat peningkatan kebasahan vagina.
Beberapa orang menggunakan estrogen vagina untuk meningkatkan kebasahan vagina. SEBUAH Studi 2018 menemukan bahwa praktik ini tidak lebih efektif daripada menggunakan pelumas tradisional. Jadi bagi orang yang lebih suka menghindari perawatan estrogen, pelumas vagina juga bisa bekerja dengan baik.
Infeksi
Ketika cairan miss v berubah atau seseorang memproduksi cairan vagina secara signifikan lebih banyak dari biasanya, itu mungkin merupakan tanda infeksi.
Infeksi jamur menyebabkan cairan kental, putih, seperti keju cottage. Vagina mungkin gatal, terbakar, atau terasa sangat perih dan kering, dan seks bisa sangat menyakitkan.
Infeksi ragi adalah infeksi jamur. Dalam kebanyakan kasus, obat infeksi jamur antijamur yang dijual bebas (OTC) dapat mengobatinya. Antibiotik tidak akan membantu dan bahkan dapat memperburuk infeksi.
Vaginosis bakteri adalah ketidakseimbangan bakteri pada vagina. Beberapa orang tidak memiliki gejala, tetapi yang lain merasa gatal atau terbakar. Vagina bisa mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu, atau kuning yang berbau amis. Bau terkadang lebih buruk setelah berhubungan seks.
Baca Juga: Cara Mengatasi Vagina Gatal dengan Pengobatan Rumahan, Murah dan Mudah!
Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan keluarnya cairan kekuningan atau kehijauan. Terkadang keputihan terlihat berbuih dan berbau tidak sedap, terutama setelah periode menstruasi. Vagina terkadang terasa gatal atau terbakar.
Terkadang kelenjar Bartholin tersumbat dan dapat membentuk kista yang menyakitkan. Seseorang yang mengalami pembengkakan yang nyeri dan nyeri tepat di dalam vagina mungkin menderita kista kelenjar Bartholin. Banyak yang hilang dengan sendirinya, tetapi jika kista membesar atau tidak kunjung sembuh, dokter dapat mengeringkannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
-
Cara Buat QRIS Lewat Aplikasi BRImerchant
-
Deretan Fakta Sekolah Islam Harapan Ibu: Warisan Wapres sampai Pinjam Uang Demi Lapangan Padel
-
Bank Jakarta Resmi Ganti Alamat Situs, Dorong Transformasi Digital
-
Timnas Indonesia Gagal Total di Piala AFF 2026, Wakil Rakyat Ingatkan Bahaya Naturalisasi Instan
-
BRI Bebaskan Biaya Potongan QRIS (MDR 0%) Lewat BRImerchant, Ini Caranya
-
AC Milan Digilas Chelsea 0-3, Ruben Amorim Singgung Suporter Indonesia
-
Indonesia Butuh Industri Alat Kesehatan, Bukan Sekadar Pasar Impor
-
Contoh Teks MC Malam Tirakatan 17 Agustus Lengkap dengan Doa dan Susunan Acara
-
Prabowo Klaim Kinerja Pemerintahannya 'Oke', Gerindra Sodorkan Angka Kepuasan Publik