Suara.com - Bangunan yang menerapkan prinsip ramah lingkungan telah menjadi pilihan bagi sebagai masyarakat yang memperhatikan kelestarian planet Bumi.
Tingkat ramah lingkungan bangunan dapat dinilai dari desain bangunan, materi bahan bangunan, energi yang digunakan dalam bangunan, proses pembangunan hingga asal sumber materi bahan bangunannya.
Salah satu materi bahan bangunan yang paling ramah lingkungan adalah kayu, karena selain pengolahannya hemat energi, kayu menghasilkan emisi karbon yang rendah dan dapat menyimpan karbon dalam waktu yang lama.
Dengan teknologi dan desain yang tepat, kayu dapat menjadi materi bangunan yang tidak saja ramah lingkungan namun bernilai estetik tinggi, kuat, dan tahan lama.
Bangunan komersial di Amerika, Eropa dan Australia, dan sebagian Asia seperti Jepang, telah menggunakan kayu sebagai material utama karena nilai ramah lingkungannya.
Australia mendorong penggunaan kayu sebagai bahan utama bangunan melalui proyek gedung 40 lantai yang memadukan kayu dan beton.
Belanda dan Inggris juga memberlakukan kebijakan serupa. Di Indonesia juga telah berdiri bangunan kayu prefabrikasi di Semarang bernama Microlibrary Warak Kayu yang seluruhnya menggunakan kayu tersertifikasi FSC, sehingga selain proses pembangunannya ramah lingkungan karena tidak menggunakan semen dan baja dan tanpa penggunaan alat berat, kayunya juga diambil dari hutan yang tersertifikasi standar FSC.
“Sudah saatnya kita mengubah stigma lama bahwa dengan menggunakan kayu kita menyumbang pada kerusakan lingkungan. Kita justru berkontribusi melawan perubahan iklim dengan semakin banyak menggunakan kayu untuk materi bangunan. Tentunya, kayu yang kita gunakan berasal dari sumber yang berkelanjutan antara lain yang tersertifikasi FSC”, jelas Hartono Prabowo, Technical Director FSC Indonesia.
FSC juga telah menyiapkan sistem berupa sertifikasi projek, yang memungkinkan pemilik bangunan dapat membuktikan bahwa bangunannya telah menjadi bagian dari upaya melawan perubahan iklim.
Baca Juga: 5 Tips Membuat Kamar Tidur Ramah Lingkungan di Rumahmu, Sudah Tahu?
Terdapat 2 alasan kayu sebagai bahan baku utama bangunan yang paling ramah lingkungan.
Pertama, siklus hidup bangunan dengan struktur dari kayu dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 30% lebih rendah daripada baja atau beton yang setara.
Kedua, daya simpan karbon akan semakin tinggi seiring makin banyaknya jumlah bangunan yang memakai kayu.
Kayu yang sudah diolah tetap menyimpan karbon sepanjang kayu tidak musnah.
Fosil kayu yang terkubur di dalam tanah tetap menyimpan karbon yang diserap selama daur hidupnya yang akan mengurangi gas buang ke atmosfer yang menambah pemanasan global, sementara pohon baru akan menyerap karbon di udara.
Namun demikian masih merupakan tantangan bagi pembangun, arsitek, dan desainer untuk mendapatkan informasi dan sumber bahan baku yang sesuai untuk membangun bangunan yang kuat, estetik, tahan lama dan berkelanjutan, di sisi lain produsen bahan kayu berkelanjutan juga tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kebutuhan arsitek.
Untuk mempermudah pembangun dan arsitek mendapatkan material hasil hutan yang berkelanjutan khususnya kayu tropis dari hutan yang telah tersertifikasi, FSC membangun pusat data Sustainable Tropical Timber Trade Network (STTTN) yang menyimpan informasi pemasok dan pembeli kayu tersertifikasi FSC secara online dan dapat diakses dengan mudah.
Kolaborasi FSC dengan Sampoerna Kayoe dalam Event ARCH ID 2023 di ICE BSD Tangerang Selatan ini dapat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan pemahaman komunitas arsitek dan produsen kayu di Indonesia terkait sumber kayu tersertifikasi FSC sebagai bahan bangunan yang estetik, kuat, tahan lama, dan berkelanjutan.
“Komitmen kami dalam mengelola hutan yang berkelanjutan telah dibuktikan dengan perolehan sertifikasi FSC. Dengan kolaborasi bersama FSC di ARCH ID 2023 ini kami ingin memperkenalkan kepada kalangan arsitek bahwa di Indonesia telah tersedia pasokan kayu dari hutan yang berkelanjutan sehingga setiap penggunaan kayu akan semakin mendorong kami untuk mengelola hutan secara bertanggung jawab," kata Edward Tombokan, Direktur Komersial Sampoerna Kayoe.
Berita Terkait
-
18 Maret Hari Arsitek Nasional, Inilah Karya-karya Gubenur Jabar Ridwan Kamil sebagai Tokoh Arsitek Terkemuka
-
5 Tips Membuat Kamar Tidur Ramah Lingkungan di Rumahmu, Sudah Tahu?
-
Indonesia Bisa Jadi Trendsetter Furnitur Ramah Lingkungan
-
5 Manfaat dari Membeli Buku Bekas, Sudah Tahu?
-
Pemerintah Akan Gabungkan Bioetanol dengan Pertamax untuk Menyediakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten
-
Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?
-
Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan
-
Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur
-
HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan
-
Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total
-
Hilirisasi Sawit RI Diklaim Sukses, 80% Ekspor Tak Lagi Produk Mentah
-
5 Fakta Kapal Jukung Terbakar di Sungai Musi, Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
-
Bakery Singapura BIdik Pasar Kuliner RI, Ekspansi Perdana ke Jakarta
-
BGN Enggan MBG Dibenturkan dengan Sekolah Roboh: Enggak Nyambung