Suara.com - Setelah Hari Raya Idul Fitri, pasti tidak asing dengan acara halal bihalal. Acara ini biasa dilakukan dalam rangka berkumpul baik bersama teman, keluarga, kerabat untuk bermaaf-maafan.
Namun, bagaimana hukum halal bihalal dalam pandangan Islam? Apakah makna dan hukum acara halal bihalal?
Mengutip NU Online, dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999), Prof Dr Muhammad Quraish Shihab menjelaskan, halal bihalal sendiri terbagi dari beberapa pandangan. Berikut beberapa pandangan mengenai halal bihalal.
Fikih
Kata halal berdasarkan pandangan fikih itu sesuatu yang bertentangan dengan haram. Artinya, ketika seseorang melakukannya tidak akan mendapatkan dosa dari Allah SWT. Halal bihalal berarti mengubah sesuatu yang haram menjadi tidak berdosa. Oleh sebab itu, ketika halal bihalal seseorang akan saling memaafkan dengan lapang dada.
Meski demikian, dalam pandangan fiqih halal bihalal bisa mencakup hal yang makruh. Artinya, hal tersebut bukan sesuatu yang dianjurkan oleh agama meskipun ketika melakukannya tidak mendapatkan dosa. Namun, meninggalkannya dinilai akan lebih baik.
Bahasa atau linguistik
Dari segi bahasa, kata halal diambil dari halla atau halala yang memiliki makna sesuai rangkaian kalimatnya. Hal ini dapat berarti melepaskan ikatan yang membelenggu atau meluruskan benang kusut (masalah).
Oleh sebab itu, halal bihalal dapat diartikan sebagai meluruskan permasalahan serta menyambung kembali silaturahmi di antara sesama.
Baca Juga: CEK FAKTA: Dulu Murtad, Ari Wibowo Resmi Jadi Mualaf Usai Gugat Cerai Inge Anugrah
Qurani
Dalam pandangan Qurani, halal dapat berarti sesuatu yang menyenangkan. Tidak hanya ditujukan untuk memaafkan satu sama lain, aktivitas halal bihalal dapat berarti kegiatan saling menyenangkan sesama umat Muslim.
Oleh sebab itu, dalam Al Quran juga umat Muslim dituntut saling memaafkan dan berbuat baik kepada sesama. Bahkan, umat Muslim juga dianjurkan agar tetap berbuat baik kepada orang-orang yang pernah berbuat salah dengannya.
Dengan demikian, hukum halal bihalal diperbolehkan dalam tujuan yang baik yaitu menyambung tali silaturahmi serta saling memaafkan satu sama lain. Selain itu, halal bihalal juga dimaksudkan untuk saling menyenangkan dan menjaga keharmonisan sesama umat Muslim serta kehidupan masyarakat luas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Cukup Ganti Lantai, Rumah Langsung Terlihat Baru Jelang Ramadan dan Idulfitri
-
Makna Imlek bagi Detektif Jubun: Menata Hati, Menjaga Integritas
-
Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan
-
5 Rekomendasi Air Fryer Low Watt Terbaik, Harga Mulai Rp200 Ribuan
-
Dari Hangout ke Syuting, Begini Cara Cassandra Lee Pilih Parfum Sesuai Mood
-
Doa Bangun Tidur Arab, Latin, dan Artinya
-
5 Rekomendasi Mesin Cuci Front Loading Low Watt untuk Keluarga Baru
-
Mumpung Belum Terlambat: Bacaan Niat, Syarat, dan Batas Melakukan Qadha Ganti Hutang Puasa Ramadhan
-
Jadwal Libur Sekolah Awal Puasa 2026, Sambung Imlek Sampai Satu Minggu
-
Cheongsam untuk Cowok Namanya Apa? Ini Ciri-ciri Desain dan Warnanya