Suara.com - Fakta menarik diungkap Nikita Willy yang terkena brain fog atau kabut otak setelah menjadi ibu dan memiliki anak. Apa sebenarnya brain fog itu, dan seberapa berbahaya?
Pengakuan ini disampaikan langsung Nikita yang mengalami pola pikir membingungkan, karena semua hal perlu diperlu dipikirkan padahal kondisi ini berbeda saat dirinya masih single atau belum menikah.
"Perubahanl yang aku alami jujur sih lebih ke brain fog. Jadi kayak mom brain, kadang suka bengong gitu loh, karena banyak banget yang harus dipikirin. Kalau dulu aku mikirnya cuma A, B, C, D. Tapi setelah nikah semuanya harus dipikirin A sampai Z, anak aku gimana suami gimana, harus diurusin semuanya," jelas Nikita dalam potongan video yang dibagikan akun instagram @dearmom.id, dilihat suara.com, Kamis (6/7/2023).
Melansir Healthline, kabut otak adalah gejala yang disebabkan stres, perubahan pola tidur, obat-obatan, dan faktor lainnya. Ini dapat menyebabkan kebingungan, masalah memori, dan kurangnya fokus.
Kabut otak bukan kondisi medis melainkan gejala dari kondisi medis lainnya, tapi sejenis disfungsi kognitif.
Beberapa orang juga menggambarkan kabut otak sebagai kelelahan mental, dan tergantung pada tingkat keparahan kabut otak, dapat mengganggu pekerjaan atau sekolah.
Berikut ini beberapa penyebab kabut otak atau brain fog yang harus diwaspadai:
1. Stres
Stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan memicu depresi penelitian juga menyebutkan kabut otak bisa terjadi karena kelelahan mental.
Ketika otak lelah, akan lebih sulit untuk berpikir, bernalar, dan fokus.
2. Kurang Tidur
Kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu seberapa baik fungsi. Jadi sebaiknya cukup tidur 8 hingga 9 jam per malam. Tidur terlalu sedikit juga dapat menyebabkan konsentrasi yang buruk dan pikiran yang mendung.
3. Perubahan Hormon
Perubahan hormon juga bisa memicu kabut otak. Tingkat hormon progesteron dan estrogen meningkat selama kehamilan. Perubahan ini dapat memengaruhi memori dan menyebabkan gangguan kognitif jangka pendek.
Demikian pula, penurunan kadar estrogen selama menopause dapat menyebabkan pelupa, konsentrasi yang buruk, dan pemikiran yang bekabut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
4 Rekomendasi Bedak Red-A Murah untuk Makeup Harian, Mulai Rp14 Ribuan
-
5 Pilihan Daily Foundation Viva Cosmetics untuk Makeup Natural Sehari-hari
-
4 Zodiak yang Diprediksi Dapat Energi Positif dan Keberuntungan pada 8 Mei 2026
-
Bahaya Sepatu Kekecilan bagi Kesehatan Kaki dan Tips Memilih Ukuran Tepat
-
4 Shio yang Diprediksi Penuh Keberuntungan dan Energi Positif pada 8 Mei 2026
-
Jerawat Punggung Muncul karena Apa? Ini 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya
-
Daftar Harga Facetology Sunscreen Terbaru 2026, Tawarkan Triple Care
-
Ubah Sampah Makanan Jadi Aksi Iklim: Jejak Food Cycle Indonesia Tekan Emisi dari Limbah Pangan
-
Jaga Alam, Jaga Kehidupan: Festival Raksha Loka Dorong Aksi Kolektif Untuk Masa Depan Hijau
-
6 Sunscreen dengan Kandungan Brightening yang Bantu Cerahkan Wajah Mulai Rp30 Ribuan