Suara.com - Ketersediaan air bersih masih menjadi masalah bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Bukan hanya di daerah terluar dan terpencil, beberapa daerah di pinggiran Jakarta pun sampai harus membeli air bersih untuk konsumsi sehari-hari.
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Dr. Hayati Sari Hasibuan, S.T., M.T., mengatakan, kondisi sulitnya air bersih ini terjadi karena susahnya pipa air untuk mencapai wilayah pemukiman penduduk.
Hal tersebut membuat terpaksa menggunakan air tanah. Bahkan, dalam penelitian, 89 persen masyarakat yang menggunakan air tanah berada di daerah Jakarta Utara. Ini menjadi hal yang mengkhawatirkan karena air tanah yang digunakan dapat berdampak buruk kepada lingkungan dan kesehatan.
Melihat hal tersebut, Dr. Sari menuturkan, sebenarnya masyarakat dapat menggunakan penampungan air hujan. Ia mengatakan, air hujan ini dapat menjadi alternatif untuk mendapat air bersih karena dalam kandungannya lebih baik dibandingkan air tanah.
“Nah yang di daerah Jakarta utara tadi persoalannya adalah untuk akses perpipaan untuk masuk ke daerah pemukiman itu gak nyampe. Karena keterbatasan infrastruktur. Padahal itu tadi. Sebenarnya bisa digunakan menggunakan intalasi panen air hujan,” ucap Dr. Sari dalam acara konferensi pers Program Water Stewardship bersama Unilever, Rabu (2/8/2023).
Meski demikian, air hujan yang digunakan ini bukan mengganti seutuhnya. Namun, air hujan ini dapat ditampung sebagai cadangan air bersih untuk digunakan.
”Tetapi yang waktu ada air hujan itu kita manfaatkan, jadi air hujan tidak mengganti sumber air yang lain, tetapi dia ketika ada air hujan, maka itu dimanfaatkan sebagai tabungan air bersih yang bisa kita gunakan pada waktu tidak hujan,” jelasnya.
Dengan menampung air hujan ini, masyarakat bisa menggunakannya untuk kepentingan sehari-hari. Dr. Sari menjelaskan, saat ini terdapat instalasi elektrolisis yang bisa membuat air hujan digunakan untuk kepentingan sehari-hari.
Namun, sebab mahalnya hal tersebut, masyarakat dapat menggunakan secara komunal. Artinya, alat tersebut dibuat untuk dipakai bersama-sama untuk satu wilayah.
Baca Juga: Pacitan Gelar Festival Rawat Jagat 2: Ajak Masyarakat Angkat Budaya dan Peduli Lingkungan
“Karena untuk masyarakat di daerah menengah ke bawah itu untuk memasukkan instalasi itu mahal dan berat. Dan juga untuk pemeliharaan juga berat. Maka itu harus komunal. Jadi di bangun di sati RT,” ujarnya.
Penting juga diketahui kalau air hujan yang sudah diolah elektrolisis ini bisa dikonsumsi untuk masyarakat. Sementara, mereka yang menampung sendiri, tidak bisa dikonsumsi, kecuali harus dimasak terlebih dahulu.
“Nah kami dari UI waktu Jakarta utara kami menggunakan elektrolisis, air hujannya langsung bisa dengan elektrolisis. Kalau nampung sendiri bisa, tapi harus dimasak dulu untuk diminum, enggak bisa langsung begitu saja. Kalau mau langsung ya pakai elektrolisis tadi,” kata Dr. Sari.
Mendukung dari penggunaan alat ini untuk mencegah buang-buang air bersih, Unilever Indonesia dan Sekolah Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) berkolaborasi membuat program Water Stewardship di lingkungan masjid.
Program ini dibuat untuk memulai kebiasaan menggunakan air dengan lebih bijak. Nantinya, alat ini akan dipasang sehingga pemakaian air bersih menjadi lebih hemat. Misalnya, pada alat yang dipasang di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, air wudhu yang digunakan akan ditampung dan digunakan untuk menyiram tanaman.
Hal ini akan membantu mencegah penggunaan air berlebih. Apalagi, rata-rata jumlah penggunaan air di Masjid Istiqlal sekitar 13.958 liter per hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Aksi Copet di Tengah Zikir Monas: iPhone 13 Wartawan dan Dompet Jemaah Lenyap
-
Danantara Akui Banyak Masalah Luar Biasa Besar di BUMN, Janji Bereskan Utang Kereta Cepat
-
Satu Tahun Sekolah Rakyat, Ratusan Siswa Torehkan Prestasi
-
Taruna Bhakti Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Gus Ipul: Jadi Fondasi Bentuk Karakter Siswa
-
Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono
-
Danantara: Seluruh BUMN Properti Dalam Kondisi Tidak Baik, Akan Dikonsolidasikan
-
Kesukseskan Pemberantasan Judol Tak Hanya dari Turunnya Nominal Transaksi
-
Dukung Program Prioritas Presiden, Mendagri Tito Groundbreaking Sekolah Rakyat Kabupaten Biak Numfor
-
Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan 1 hingga 31 Agustus 2026 di Riau
-
Aston Villa Bungkam Indonesia All Stars 3-1 di GBK, Arkhan Kaka Cetak Gol Penghibur