Suara.com - Praktik seks petualang kerap dianggap baru mulai populer setelah adanya gerakan pembebasan seksual wanita sekitar tahun 1960-an sampai 1970-an. Tapi nyatanya fenomena tersebut, termasuk fetish, sebenarnya sudah ada ratusan tahun sebelumnya.
Fetish telah muncul sepanjang sejarah, menurut Esmé Louise James, seorang peneliti Australia yang mempelajari erotisme dalam literatur abad ke-18.
James berbagi info tentang sejumlah tokoh terkenal dunia yang dia sebut juga memiliki fetish. James mengungkap itu saag jadi bintang tamu podcast Sex and Psychology, yang dipandu oleh peneliti Kinsey Institute, Justin Lehmiller.
Menurut James, memanjakan diri dengan hal-hal erotis bukanlah hal baru. Dia mengatakan bahwa norma dan peristiwa budaya, seperti moral agama juga ancaman penyakit menular seksual, seringkali menginformasikan minat seksual yang umum terjadi pada era tertentu. Selama epidemi AIDS, misalnya, fetish kaki semakin populer, kata James.
Dikutip dari Insider, berikut beberapa pria yang dibahas James memiliki fetish semasa hidupnya.
1. Amadeus Wolfgang Mozart
Komposer Austria yang hidup pada abad ke-18 masib dikenal sampai saat ini karena lebih dari 600 karyanya dari musik simfoni klasik. Dia juga menulis lagu yang mengungkap minat khususnya pada analingus, atau dijilat di lubang pantat untuk kesenangan, Mental Floss sebelumnya melaporkan.
Salah satu judul lagunya adalah "Leck mich im Arsch", yang diterjemahkan menjadi "Jilat pantatku", idiom bahasa Jerman untuk "Kiss my ass". Salah satu baris lagu berbunyi "Jilat pantatku, cepat, cepat!"
Baca Juga: 5 Tips Hubungan Seks Pertama Kali Tanpa Rasa Sakit
Einstein menikah dengan mantan muridnya Mileva Mari, kemudian sepupunya, Elsa Lowenthal. Dalam surat kepada Mari, Lowenthal, juga sekitar enam wanita lainnya, Einstein menjelaskan bahwa dia menganggap perselingkuhannya erotis, kata James kepada Lehmiller selama podcast.
3. James Joyce
Penyair dan penulis Irlandia James Joyce sering berkirim surat dengan istrinya Nora Barnacle selama pernikahan mereka karena sering hidup terpisab. Isi surat tersebut bernada erotis satu sama lain.
4. Benjamin Franklin
Salah satu bapak pendiri Amerika dan penemu kacamata bifokal ini dikenal sebagai 'penjahat seksual' dan memiliki setidaknya 12 wanita simpanan, menurut Chicago Tribune. Dalam sebuah surat tahun 1745, Franklin menulis manfaat berhubungan seks dengan wanita yang lebih tua, dalam upaya untuk meyakinkan pria yang lebih muda untuk berhubungan seks dengan wanita pada usia tertentu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan