Suara.com - Dampak buruknya pengolahan sampah plastik bagi sektor pariwisata kerap kalai diabaikan. Padahal sampah plastik yang menumpuk dapat merugikan sektor pariwisata di Indonesia.Sampah plastik yang menumpuk akan mengurangi keindahan sektor wisata dan menurunkan potensi datangnya wisatawan.
Tak hanya itu, penanganan sampah plastik di sekitar objek wisata memerlukan biaya tambahan. Dana yang seharusnya digunakan untuk pengembangan pariwisata dan pemeliharaan lingkungan alam malah harus dialokasikan untuk pembersihan dan pengelolaan sampah. Hal ini dapat menghambat potensi pertumbuhan sektor pariwisata dan mengurangi keuntungan ekonomi.
Inilah yang menjadi alasan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) telah menggelar sebuah aksi bersih-bersih serentak di 10 kota utama di Indonesia, menciptakan gelombang kesadaran tentang lingkungan dan pengelolaan sampah yang efisien. Aksi ini melibatkan lebih dari 1.000 partisipan, termasuk karyawan, komunitas, dan pemerintah daerah di seluruh negeri.
Salah satu contoh nyata keberhasilan kolaborasi ini adalah kegiatan bersih-bersih di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk Bank Sampah Budi Luhur, mahasiswa, akademisi, dan media. Inisiatif ini mendapat dukungan dan apresiasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah daerah lainnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menggarisbawahi pentingnya edukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah. Ia menyatakan pemahaman masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah dapat memainkan peran besar dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Saat ini, setiap harinya 7.500 ton sampah dibawa ke TPA Bantargebang dari Jakarta. Ini menjadi krusial, terutama saat beban TPA kini semakin meningkat dan memerlukan langkah-langkah konkret untuk menanganinya," terangnya dalam keterangan yang diterima Suara.com.
Lucia Karina, Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia & Papua New Guinea, menyoroti komitmen kuat CCEP Indonesia dalam mendukung visi masyarakat untuk lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. Dalam aksi kali ini, perusahaan tidak hanya memusatkan perhatian pada kegiatan pembersihan, tetapi juga berfokus pada upaya pendidikan dan penyadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang benar, mulai dari pemilahan hingga pengelolaan yang tepat dari sumbernya, seperti rumah dan sekolah.
"Mengerti cara memilah sampah dengan benar adalah fondasi dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Maka dari itu, kegiatan kami kali ini tidak hanya sekedar mengumpulkan sampah, tapi juga memastikan bahwa setiap jenis sampah dikelompokkan dengan benar, baik itu sampah organik, kemasan PET (polyethylene terephthalate), plastik fleksibel, plastik fleksibel, plastik multilapis (multilayer), maupun sampah non organik lainnya," kata Karina.
Mengatasi masalah sampah memerlukan kerja sama lintas sektor. Konsep Nonahelix menekankan pentingnya kerja sama yang melibatkan pemerintah, industri, masyarakat, akademisi, jasa keuangan, LSM, tokoh masyarakat, komunitas, dan media. Melalui kolaborasi ini, setiap entitas dapat memberikan kontribusi terbaiknya dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah di Indonesia.
Baca Juga: Salsabila Tiara Saputri dari Provinsi Sulawesi Utara Raih Gelar Putri Pariwisata Indonesia 2023
Hasil dari kegiatan ini mencakup pengumpulan 4,9 ton sampah organik dan 4,6 ton sampah anorganik, termasuk lebih dari 3,4 ton sampah plastik berbagai jenis, seperti multilapis, dan 1,2 ton botol kemasan PET. Botol PET yang terkumpul akan dikelola oleh Yayasan Mahija Parahita Nusantara dan selanjutnya diolah kembali oleh PT Amandina Bumi Nusantara, pabrik daur ulang yang didirikan oleh CCEP Indonesia bersama Dynapack Asia.
Upaya ini mencerminkan tekad CCEP Indonesia untuk mendukung sistem daur ulang tertutup untuk botol PET, mendekati target global mereka, "This is Forward," yang mengejar pengumpulan 100% kemasan yang dihasilkan pada tahun 2030 dan memastikan 50% kemasan yang diproduksi berasal dari recycled PET (rPET).
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Tinted Sunscreen Wardah vs Facetology Lebih Bagus Mana? Ini yang Cocok Buat Kulit Orang Indonesia
-
Daftar Harga Cushion Wardah Terbaru April 2026 untuk Makeup Flawless
-
Escape 3 Jam dari Jakarta: Menikmati Sisi Magis Pandeglang Sambil Healing Tipis-tipis
-
Urutan Skincare Wardah untuk Menghilangkan Flek Hitam, Cocok Buat Usia 40 Tahun Keatas
-
Rismon Sianipar itu Siapa? Akan Dilaporkan JK ke Polisi soal Kasus Ijazah Jokowi
-
Berapa Suhu Ideal AC saat Cuaca Panas agar Tidak Cepat Rusak? Jangan Keliru!
-
Pendeta Dyan Sunu dan Upaya Membumikan Iman di Tanah Cadas Wonogiri
-
Mengapa Harga Plastik Mendadak Naik Selangit? Ini Penjelasannya
-
8 Keunggulan Ijazah Blockchain yang Diterima Pratama Arhan, Lebih Ramah Lingkungan
-
7 Pilihan Clay Mask untuk Mengecilkan Pori-Pori, Bikin Wajah Lebih Mulus