Suara.com - Dubai Desert Conservation Reserve (DDCR) atau Cagar Alam Konservasi Gurun Dubai menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan untuk lebih mengenal alam, sekaligus kebudayaan masyarakat Dubai. Kawasan ini memiliki luas kurang lebih 225 kilometer persegi dan telah menjadi rumah bagi lebih dari 50 spesies tumbuhan, 120 burung, dan 43 mamalia dan reptil.
Bersama Dubai Department of Economy and Tourism, Suara.com berkesempatan untuk mengunjungi dan merasakan langsung pengalaman menyusuri dan membelah gurun yang juga menjadi kawasan cagar alam terluas yang dilindungi oleh pemerintah Uni Emirat Arab.
Perjalanan dimulai dari tempat kami menginap di kawasan Al Seef yang lokasinya tepat berada di sisi Dubai Creek. Kami berkendara sejauh 55 kilometer ke arah Tenggara. Jalan yang kami tempuh relatif mulus, sebelum akhirnya tiba di sebuah jalan bergelombang dengan lubang sana sini yang sukses membuat perut kami berguncang.
"Penguasa di Dubai sebetulnya punya uang membenahi jalanan ini. Tapi karena di kawasan ini ada 'rumah akhir pekan' para keluarga kerajaan dan di sepanjang jalan tidak ada speed camera, jadi jalan ini dibiarkan seperti ini, agar mereka bisa menjaga kecepatan," ujar Razak, pemandu Platinum Heritage yang membawa mobil yang kami tumpangi.
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit kami tiba di sebuah gerbang kawat yang telah dijaga oleh petugas keamanan. Di satu bagian tertulis "Private Access". Setelah mendata penumpang yang ada di dalam kami akhirnya tiba The Dubai Desert Conservation Reserve.
Sebelum memulai perjalanan kami 'didandani' dengan penutup kepala layaknya warga asli Emirate. Setelah selesai, kami pindah ke sebuah mobil Land Rover klasik untuk memulai menelusuri taman nasional pertama Uni Emirat Arab.
Dua ekor unta langsung menyambut kami tak lama setelah mobil yang kami tunggangi menyentuh gurun padang pasir. Kami pun berhenti sejenak untuk sekadar mengabadikan hewan berpunuk itu. Razak, yang menjadi pemandu kami, kembali menginjak pedal gas, dan membuat mobil melaju membelah gurun yang pasirnya berwarna kemerahan karena kandungan besi dan sorotan sinar mentari.
Sepanjang perjalanan, Razak juga menjelaskan berbagai hal tentang gurun. Salah satunya tentang cara bertahan hidup saat tersesat di tengah gurun.
Ketika matahari mulai merosot ke ufuk barat, kami tiba di sebuah perkemahan untuk menyaksikan atraksi burung falcon, atau alap-alap, yang memiliki sejarah panjang dalam budaya masyarakat Dubai. Berburu dengan falcon dilarang di sebagian besar wilayah UEA, namun penduduk setempat masih menjadikan mereka sebagai sahabat, dan sering menganggap mereka sebagai anggota keluarga.
Baca Juga: 5 Reality Show Korea Terbaik yang Tayang Tahun 2023, Dijamin Seru Semua!
Sebelum langit semakin gelap, Razak kembali memacu mobilnya untuk bisa tiba di perkemahan selanjutnya. Setelah kurang lebih 10 menit kami tiba di perkemahan Badui autentik yang diterangi obor.
Saat masuk ke perkemahan, kami disuguhkan air mawar untuk mencuci tangan, dan disuguhkan kopi beserta kurma. Seperti diketahui, air mawar dan kurma adalah tradisi Bdaui kuno untuk menyambut tamu.
"Karena orang Badui adalah pengembara gurun, mereka melakukan ini untuk menyegarkan tamu mereka dan menghilangkan bau tidak sedap yang mereka peroleh selama perjalanan," kata Razak.
Sebelum menyantap makan malam, kami diajak berkeliling menyaktikan pembuatan roti dan kopi secara langsung. Sambil menunggu makan malam tradisional tiba, kami juga berkesempatan untuk berkeliling dan menunggang unta.
Sambil menunggu hidangan utama, kami disuguhkan sup lentil, yang merupakan hidangan favorit terutama saat musim dingin. Hidangan ini terdiri dari lentil, bawang merah, lada hitam, jinten, jeruk nipis, ketumbar, kentang, wortel, bawang putih, seledri.
Kemudian kami juga disuguhkan beberapa hidangan pembuka, salah satunya Kibbeh yang menjadi makanan populer pilihan turun temurun. Kibbeh terdiri dari biji-bijian gandum, daging sapi cincang, bawang bombay, rempah-rempah, biji pinus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Cara Isi Saldo E-Toll Tanpa NFC, Mudah dan Cepat
-
Apa Itu Furab? Fans Fuji dan Reza Arap Berusaha Jadi Mak Comblang
-
Dari Duka ke Syukur, Bos Pabrik HS Umrohkan 150 Karyawan Usai Kecelakaan
-
7 Bedak untuk Kulit Kering Agar Terlihat Glowing, Bikin Fresh!
-
Benarkah Denda Telat Lapor Pajak Dihapus? Ini Aturan Terbaru Menurut KEP 55 PJ 2026
-
7 Rekomendasi Parfum Mykonos Paling Tahan Lama, Wanginya Awet Seharian!
-
Strategi Jualan Online dan Fotografi Produk Jadi Kunci UMKM Bersaing di Era Digital
-
Daftar Harga Gas LPG 3 Kg dan Bright Gas Terbaru per Maret 2026
-
Skincare Panthenol Bagusnya Digabung dengan Apa? Agar Kulit Makin Sehat Bukan Malah Iritasi
-
Batas Lapor SPT Tahunan Coretax Sampai Kapan? Resmi Diperpanjang, Cek Batas Akhirnya