Lifestyle / Male
Senin, 09 September 2024 | 12:47 WIB
Ridwan Kamil di acara Narasi (YouTube/Najwa Shihab)

Suara.com - Calon Gubernur Jakarta Ridwan Kamil kembali menuai kontroversi. Ini setelah pria yang akrab disapa Kang Emil itu mengungkap pandangannya terkait tragedi Kanjuruhan.

Pendapat Ridwan Kamil soal tragedi Kanjuruhan itu diutarakan saat menghadiri acara Narasi sebagai bintang tamu. Saat diwawancarai Najwa Shihab, Ridwan Kamil membahas fanatisme penggemar sepak bola.

Menurutnya, tragedi Kanjuruhan disebabkan oleh fans bola yang terlalu fanatik. Akibatnya, banyak anak muda meninggal dunia karena begitu fanatik mendukung tim kesayangan mereka.

"Sepak bola suka tidak suka adalah olahraga paling populer. Saking populernya, fanatismenya tinggi," kata Ridwan Kamil dalam acara Narasi seperti dikutip pada Senin (9/9/2024).

"Dan mbak Nana (Najwa Shihab) tahu ada 50 anak muda meninggal dunia gara-gara sepak bola. Mungkin sekarang lebih gara-gara (tragedi) Kanjuruhan. Sefanatis itu," sambung mantan Gubernur Jawa Barat tersebut.

Ridwan Kamil di acara Narasi (YouTube/Najwa Shihab)

Cuplikan pernyataan Ridwan Kamil itu langsung viral di media sosial setelah dibagikan seorang netizen. Netizen ini bahkan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Ia tidak habis pikir bagaimana Ridwan Kamil memandang tragedi Kanjuruhan sebagai masalah fanatisme sepak bola, alih-alih bentuk kebrutalan polisi yang melepaskan gas air mata di dalam stadion Kanjuruhan.

"Terlepas dari konteksnya, dalam wawancara dengan Najwa ini apakah saya baru saja mendengar RK (Ridwan Kamil) mengatakan tragedi Kanjuruhan adalah masalah fanatisme sepak bola, BUKAN kebrutalan polisi?" tulis netizen ini.

Sontak, omongan Ridwan Kamil tentang tragedi Kanjuruhan langsung menuai kecaman dan kemarahan dari warganet X. Hingga berita ini dipublikasikan, kata kunci Kanjuruhan bahkan telah menduduki daftar trending topic di X.

Baca Juga: Ogah Muluk-muluk Seperti RK, Pramono Anung Janji Urus Sampah hingga Selokan di Jakarta

"Hai @ridwankamil, pelaku-pelaku pembunuh #Kanjuruhan sudah disidangkan, ya aparat dan petugas. TPF Menkopolhukam, Komnas HAM dan juga masyarakat sipil juga menemukan faktor-faktornya. Faktor aparat dan penggunaan gas air mata dominan. Tong jadi belegug," kritik warganet.

"Ternyata begitu pemerintah memandang tragedi Kanjuruhan. Disamakan dengan kasus suporter yang meninggal karena dianiaya suporter lain. Kanjuruhan berbeda, 138 orang itu dibunuh negara menggunakan gas air mata yang dibeli pake uang pajak," kecam warganet.

"Kok bisa nyambungin #Kanjuruhan dengan fanatisme, di hadapan banyak sekali bukti-bukti kekerasan aparat? Aku pikir kau tidak bisa lebih rendah lagi, tapi astaga," kecam warganet lainnya.

"Tanpa ingin membandingkan tragedi, jika fanatisme yang disalahkan, korban harusnya dari pihak lawan. Ini di kandang sendiri. Fans yang dibunuh oleh sistem dan manajemen pertandingan. Kapasitas membludak, tembakan gas air mata yang sembarangan, dan akses pintu keluar terbatas," tambah yang lain.

"Ayo Jakmania, dan yang masih bersolidaritas dengan korban Kanjuruhan. Makin jelas alasan untuk tidak memilih manusia ini," ajak warganet.

Load More