Suara.com - Setelah kabar perseteruannya dengan Silfester Matutina viral, akademisi Rocky Gerung kembali jadi sorotan publik lantaran diduga telah keceplosan menyebut Gibran Rakabuming melakukan tindak korupsi.
Pada sebuah program diskusi di televisi nasional, Rocky Gerung menyampaikan bahwa saat Gibran masih menjabat Wali Kota Solo sering datang ke rumahnya untuk meminta kritik sebagai masukan.
Kemudian, Rocky Gerung juga menceritakan pengakuan Gibran jika banyak menteri yang datang ke rumahnya untuk memberi uang.
"Dia ngaku bahwa setiap Sabtu, berbagai macam menteri datang ke dia, kasih duit supaya Solo. Saya bilang, 'You koruptor tuh'", ungkap Rocky.
Dari ucapan Rocky Gerung, warganet menyerukan dan mendesak agar KPK memeriksa kebenaran terkait informasi tersebut.
Selain meminta KPK untuk mengusut, warganet juga membanding-bandingkan latar pendidikan antara Rocky Gerung dan Gibran Rakabuming Raka yang dianggap cukup jomplang.
Pendidikan Rocky Gerung
Rocky Gerung adalah seorang akademisi yang diketahui pernah mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Dalam beberapa kesempatan, Rocky mengaku jika dirinya mengajar selama 15 tahun dan menolak untuk menerima imbalan. Bahkan, ia sering membantu mahasiswa yang kesulitan biaya pendidikan.
Baca Juga: Bibit Bebet Bobot Silfester Matutina: Mau Kejar Rocky Gerung sampai Lubang Tikus
Mengenai latar pendidikan, Rocky merupakan lulusan sarjana Ilmu Filsafat Universitas Indonesia. Sebelumnya, ia pernah mengenyam pendidikan Ilmu Hubungan Internasional, namun tidak tuntas.
Fokusnya pada dunia politik tidak hanya disalurkan melalui jalur akademisi, tapi juga kepada masyarakat umum melalui lembaga-lembaga sosial.
Pria yang lahir di Manado tahun 1959 ini mendirikan lembaga SETARA Institute yang berfokus pada masalah sosial, isu HAM, serta keberagaman.
Pendidikan Gibran Rakabuming Raka
Sementara itu, Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka memiliki latar pendidikan yang cukup bergengsi.
Diketahui, putra sulung Presiden Jokowi tersebut merupakan lulusan dari Management Development Institute of Singapore (MDIS) dan dilanjut ke program Insearch di University of Technology, Sydney, Australia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
5 Sepatu Lari Nike Termurah di Sports Station, Harga Mulai Rp400 Ribuan
-
Bukan Soal Jumlah, Frekuensi Pakaian Dapat Tentukan Dampak Lingkungan
-
Tak Perlu Hapus Makeup! Ini Cara Praktis Reapply Sunscreen Tanpa Merusak Riasan
-
Apakah Viva Covering Cream Oksidasi? Simak Manfaat, Harga, dan Review Pengguna
-
5 Rekomendasi Setrika Anti Lengket dan Hemat Listrik, Cocok untuk Rumah Daya 450 VA
-
Perbedaan Body Mist dan Body Cologne Sariayu Tanjung, Begini Karakter dan Review Penggunanya
-
2 Cushion Wardah untuk Kulit Kering, Hasil Makeup Natural Menurut Review Pengguna
-
Bedak Sariayu Tabur Harga Berapa? Ini 2 Varian yang Kurangi Kilap, Lengkap Ulasan Pembeli
-
3 Kategori Usaha yang Tidak Didata di Sensus Ekonomi 2026, Apa Saja?
-
7 Sepatu New Balance yang Mengandung Kulit Babi, Cek Rinciannya Sebelum Membeli