2. KH Syuaib
KH Syuaib berasal dari Desa Karangturi, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Setelah menikah dengan Muntayyah, Syuaib pindah ke Surabaya.
Di sana Syuaib sempat berdagang di Pasar Turi. Pada tahun 1969, Syuaib dan istri pindah ke Kelurahan Dupak Bangunsari, Surabaya. Saat itu, Dupak Bangunsari adalah tempat prostitusi terbesar di Kota Pahlawan.
Dikutip dari buku "Kiai Prostitusi", sebagai pendakwah, Kiai Syuaib mulai berdakwah di Masjid Nurul Fatah dan Masjid Nurul Hidayah Kelurahan Dupak Bangunsari Surabaya.
Dia mengajarkan Kitab Tafsir Al-Ibris di kedua masjid tersebut. Pada waktu magrib, ia menjadi imam salat di Masjid Hidayah. Pada waktu subuh ia menjadi imam salat di Masjid Nurul Fatah.
Ia juga sering berdakwah di warung makan di rumahnya kepada para pelanggan yang kebanyakan adalah preman, muncikari, pekerja seks komersial (PSK) maupun pelanggan lokalisasi.
Dakwah di lokalisasi tidaklah mudah. Banyak halangan dan rintangan yang dihadapi KH Syuaib. Ia pernah ditantang duel oleh preman setempat. Dengan kesabaran, KH Syuaib memberi nasehat namun tidak digubris.
Akhirnya KH Syuaib duel dengan si preman. Tanpa disangka, preman yang secara fisik berbadan kekar itu mampu dilempar keluar oleh KH Syuaib. Dari sinilah, warga sekitar lokalisasi menaruh rasa hormat terhadap KH Syuaib.
Kiai Syuaib juga mengajari mengaji Alquran kepada anak-anak para PSK dan anak-anak para mucikari yang ada di lokalisasi tersebut tanpa mengharapkan upah sedikitpun.
Baca Juga: Gus Miftah Blak-blakan Tarif Endorse Follower Jutaan: Setara Haji Furoda Satu Keluarga
3. KH Khoiron
Muhammad Khoiron adalah putra dari KH Syuaib yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1959. Ia terlahir di tengah-tengah lingkungan prostitusi, Kelurahan Dupak Bangunsari, Kota Surabaya.
Memasuki sekolah dasar, Khoiron dikirim ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, dengan harapan agar tidak terkontaminasi kehidupan lokalisasi yang akrab dengan kemaksiatan dan kekerasan.
KH Khoiron masuk Madrasah Ibtidaiyah Sabilal Muttaqin pada tahun 1972, Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafiiyyah Tebu Ireng pada tahun 1975.
Kemudian dilanjutkan lagi ke Madrasah Aliyah Tsanawiyah Salafiyah Syafiiyyah Tebu Ireng pada tahun 1978. Lulus dari Madrasah Aliyah, KH Khoiron melanjutkan pendidikan ke Universitas Hasyim Asyari Tebu Ireng untuk memperoleh gelar B.A. (Bachelor of Art) pada tahun 1982.
Kemudian ia melanjutkan ke Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, sehingga lulus pada tahun 1988 dan mendapatkan gelar doktorandus (Drs.).
Lulus dari Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, hati Kiai Khoiron mulai tergerak untuk berbuat sesuatu bagi lingkungannya.
Ia lalu merangkul para ketua RW di lokalisasi untuk melancarkan dakwahnya. Kebanyakan jamaah KH Khoiron adalah para PSK di lokalisasi.
Pendekatan dakwah Kiai Khoiron cukup persuasif. Ketika mendapati Ketua RW asyik pesta minuman keras bersama PSK dan muncikari, Kiai Khoiron tidak langsung menegurnya.
Ia menunggu ketua RW sadar terlebih dahulu baru mengajak ngobrol mengenai kebaikan dan masa depan
kampungnya.
Kiai Khoiron lalu mendapatkan izin dari para ketua RW untuk melakukan dakwah dan pembinaan mental kepada para PSK dan muncikari.
Salah satu cara Kiai Khoiron berdakwah ke para PSK adalah dengan mengajak mereka nonton bioskop gratis. Begitu film selesai, di situlah Kiai Khoiron masuk memberikan ceramah.
Materi dakwah KH Khoiron cukup sederhana tidak mengancam para PSK dan muncikari dengan ayat dosa dan neraka.
Kiai Khoiron hanya mengutip ayat yang menyebutkan bahwa Allah akan mengampuni dosa apa pun kecuali dosa syirik atau meyekutukan-Nya.
Berita Terkait
-
Gus Miftah Blak-blakan Tarif Endorse Follower Jutaan: Setara Haji Furoda Satu Keluarga
-
Siapa Anak Yati Pesek? Nyaris Labrak Gus Miftah gara-gara Tak Terima Ibunya Direndahkan
-
Beda Reaksi Gus Miftah dan Ustaz Solmed Saat Honor Ceramah di Luar Harapan, Ada yang Frontal sampai Ancam-Ancam
-
Ditegur Murid SMA Suka Bicara Kasar, Gus Miftah Berdalih Ingin Dekat Dengan Kaum Marjinal
-
Gus Miftah Ngaku Keturunan ke-9 Kiai Ageng Muhammad Besari, Dibantah Menohok Sama Keluarga Asli
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim