Suara.com - Kehebohan mengenai minyak rakyat Minyakita yang tak sesuai takaran mencuat setelah beredar laporan bahwa beberapa kemasan minyak goreng subsidi tersebut memiliki volume yang lebih sedikit dari yang seharusnya.
Sejumlah konsumen dan pedagang melaporkan bahwa kemasan 1 liter Minyakita ternyata berisi kurang dari jumlah yang tertera, menimbulkan dugaan adanya kecurangan atau kesalahan produksi.
Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman sendiri menemukan volume MinyaKita tidak sesuai takaran di Pasar Gede Solo Jawa Tengah meski sesuai HET (harga eceran tertinggi), yakni Rp15.700 per liter.
"Yang botol ini kurang, hanya 900 ml, jadi kurang 100 ml. Harganya sesuai HET tapi masih kurang, ini harus diperbaiki," ujarnya dikutip Antara, Selasa (11/3/2025).
Sebelumnya ditemukan pula MinyaKita dengan kemasan 1 liter namun isinya hanya 750 ml.
Terkait temuan tersebut, ia meminta Satgas Pangan dan Polresta Surakarta untuk segera menindaklanjuti indikasi penyimpangan itu. Namun, ia menekankan agar kepolisian menindak tingkat produsen, bukan ke penjual maupun pengecer.
Hukum Mengurangi Takaran Dalam Islam
Mengurangi takaran berarti menakar suatu produk kurang dari semestinya atau menimbang/mengukur kurang dari ukuran sebenarnya.
Dalam Islam, mengurangi takaran atau timbangan dalam jual beli termasuk perbuatan yang dilarang keras dan tergolong gharar (penipuan).
Baca Juga: Produsen MinyaKita yang 'Sunat' Takaran Sudah Pindah Pabrik
Dilansir dari laman Rumah Zakat, Allah SWT bahkan telah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang ancaman bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Hal itu tertera dalam Surah Al-Muthafifin 1-3.
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."
Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa melakukan kecurangan (mengurangi takaran) merupakan sifat yang tercela.
Perbuatan tersebut bisa menghilangkan keberkahan rezeki dan mendatangkan murka Allah SWT. Pelakunya pun bisa mendapat sanksi di dunia (hukum negara) dan juga azab di akhirat.
Seperti pepatah, "Apa yang ditanam, maka itulah yang akan dituai", yang artinya bila seseorang melakukan keburukan, maka keburukan itu akan kembali pada dirinya sendiri, bahkan mungkin dalam bentuk yang lebih buruk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Tampil Elegan di Hari Raya, Koleksi Hijab Ini Angkat Kerinduan pada Keindahan Tanah Suci
-
Takbiran Idul Adha Berapa Hari? Ini Perbedaannya dengan Takbir Idul Fitri
-
5 Rekomendasi Parfum Lokal Aroma Mawar, Wangi Segar Tahan Lama Seharian
-
4 Bedak Padat yang Tahan sampai 24 Jam: High Coverage, Makeup Tetap Flawless Seharian
-
Daging Kurban yang Sudah Direbus Tahan Berapa Lama? Ini Tips Menyimpannya agar Awet
-
5 Moisturizer untuk Ibu Hamil Saat Berjerawat, Harga Mulai Rp40 Ribuan
-
Raline Shah Bicara Soal Manfaat Kolagen: Bukan Cuma untuk Kulit, tapi Juga Penting buat Tubuh
-
Daging Sapi Supaya Cepat Empuk Dikasih Apa? Ini Cara Mudahnya Tanpa Harus Direbus
-
Di Balik Ledakan Data Era AI, Sosok Perempuan Ini Bicara soal Masa Depan Bisnis Indonesia
-
Gak Perlu Presto! Ini 5 Trik Rahasia Merebus Daging Sapi Jadi Super Empuk dalam Sekejap