Suara.com - Defisit APBN senilai Rp31,2 triliun menjadi perhatian publik. Pengacara kondang Hotman Paris turut memberikan komentar dengan mengingatkan bahwa kondisi APBN sudah mengkhawatirkan padahal tahun 2025 baru berjalan singkat. Oleh karenanya Hotman Paris mengusulkan pada Presiden Prabowo Subianto agar menggelar lagi kebijakan tax amnesty.
Menurut Hotman, kebijakan ini berhasil mendatangkan pemasukan untuk negara. "Saya pesan pada pemerintah dan DPR, khususnya Pak Prabowo. APBN telah defisit Rp 31,2 triliun padahal baru beberapa bulan berjalan. (Defisit) Rp31,2 triliun dan akan makin membengkak dengan tahun berjalan," ucap Hotman Paris di Instagram pada Minggu (16/3/2025).
"Cara paling gampang mendapat uang adalah tax amnesty. Kenapa? Karena tax amnesty adalah sukarela, orang yang mau. Jadi tidak ada unsur ketidakadilan, orang yang mau dengan sukarela," lanjutnya.
Hotman mengingatkan bahwa sudah tiga kali kebijakan tax amnesty diterapkan dan menghasilkan uang hampir Rp200 triliun. Oleh karenanya, Hotman mengimbau Presiden Prabowo mempertimbangkan kebijakan pengampunan pajak tahun ini.
Lantas apa itu tax amnesty yang disarankan Hotman Paris untuk atasi defisit APBN yang defisit? Simak penjelasan berikut ini.
Apa Itu Tax Amnesty?
Dikutip dari website Pajak.go.id, tax amnesty atau amnesti pajak alias pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan. Amnesti pajak dilakukan dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak.
Uang tebusan yang dimaksud adalah sejumlah uang yang dibayarkan ke kas negara untuk mendapatkan Pengampunan Pajak. Diketahui setiap Wajib Pajak (WP) baik orang pribadi maupun badan usaha yang memiliki kewajiban penyampaian SPT Tahunan PPh dapat mengikuti amnesti pajak. Namun hal tersebut dikecualikan untuk WP yang sedang dilakukan penyidikan dan telah P-21, dalam proses peradilan, dan WP yang sedang menjalani hukuman atas pidana di bidang perpajakan.
Lantas apa yang menjadi objek pengampunan pajak?
Baca Juga: Sinyal Bahaya di Balik Defisit APBN Awal Tahun 2025, Benarkah Bisa Berujung Impeachment?
Inti dari pengampunan pajak adalah penghapusan kewajiban pajak yang belum atau tidak sepenuhnya diselesaikan oleh wajib pajak. Hal ini mencakup harta yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh terakhir. Wajib pajak dapat memperoleh pengampunan pajak dengan mengungkapkan harta mereka melalui Surat Pernyataan.
Pengampunan Pajak dilaksanakan berdasarkan asas:
- Kepastian hukum: Pengampunan Pajak harus menciptakan ketertiban di masyarakat melalui jaminan hukum yang jelas.
- Keadilan: Pelaksanaan Pengampunan Pajak harus seimbang antara hak dan kewajiban semua pihak yang terlibat.
- Kemanfaatan: Kebijakan Pengampunan Pajak harus memberikan manfaat bagi negara, bangsa, dan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan.
- Kepentingan nasional: Pengampunan Pajak harus mengutamakan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat di atas kepentingan lainnya.
Kinerja APBN Era Prabowo Jadi Sorotan
Awal tahun 2025 menjadi perhatian dengan adanya defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Hingga akhir Februari 2025, APBN mencatat defisit sebesar Rp 31,2 triliun atau 0,13 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini kontras dengan surplus yang terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memastikan bahwa angka defisit ini masih dalam batas wajar dan sejalan dengan rancangan APBN 2025, yang menetapkan target defisit sebesar 2,53 persen dari PDB atau senilai Rp 616,2 triliun.
"Defisit 0,13 persen ini masih berada dalam kisaran yang telah dirancang dalam APBN, yaitu 2,53 persen dari PDB atau setara dengan Rp 616,2 triliun," ungkapnya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Defisit ini utamanya disebabkan oleh penurunan pendapatan dan belanja negara. Pendapatan negara hingga Februari 2025 tercatat sebesar Rp 316,9 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 439,2 triliun.
Kontributor : Trias Rohmadoni
Berita Terkait
-
Akui Kaya Harta dan Bahasa Daerah, Firdaus Oiwobo Sentil Kemampuan Speaking Hotman: Lidah Lu Aja Masih Belok Begitu
-
Cuma Sepetak, Firdaus Oiwobo Marah Usai Diduga Pemilik Asli Klaim Lahan yang Diakuinya
-
Publik Bongkar Masa Lalu Hotman Paris Sebelum Konflik dengan Firdaus Oiwobo, Nyaris Jadi Petinggi BI
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara