Suara.com - Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan makin mendesak seluruh sektor industri untuk beradaptasi dan berkontribusi dalam upaya keberlanjutan. Tak terkecuali industri kecantikan.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, terutama dari generasi milenial dan Gen Z, industri kecantikan menghadapi tekanan besar untuk mengurangi jejak karbon dan limbah. Konsumen kini tak hanya menilai dari kualitas dan harga, tetapi juga dari nilai etis dan keberlanjutan yang diusung sebuah merek.
Survei dari McKinsey & Co. mengungkap bahwa 66 persen responden global, dan bahkan 75 persen di antaranya dari kalangan milenial, mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam keputusan pembelian mereka. Ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi tren sesaat, tetapi telah menjadi nilai jual utama.
Salah satu tantangan terbesar dalam industri ini adalah penggunaan bahan baku yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan. Banyak bahan kimia dalam produk kecantikan meninggalkan residu berbahaya yang merusak tanah dan ekosistem air. Karena itu, inovasi bahan yang lebih aman dan ramah lingkungan menjadi kebutuhan mendesak.
Merespons hal tersebut, Shell Indonesia memperkenalkan Shell Silk Alkane dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2025 pada 14 Mei lalu di Jakarta. Produk ini adalah cairan sintetis hasil teknologi gas-to-liquids (GTL) yang diklaim bersih, hampir tanpa bau, dan biodegradable.
“Shell Silk Alkane hadir sebagai pilihan premium untuk para konsumen bisnis (business customers) di Indonesia agar dapat membuat produk kecantikan dan perawatan pribadi dengan alternatif yang lebih bertanggung jawab dan biodegradable yang saat ini semakin diminati. Hal ini merupakan wujud keseriusan kami dalam berinovasi di lini Shell Life Science Fluids melalui solusi yang dapat diskalakan, bersih, dan aman,” ujar Andri Pratiwa, Managing Director Shell Indonesia.
Ia menambahkan bahwa gas alam memiliki peran penting dalam transisi energi secara keseluruhan, dan melalui teknologi GTL, Shell berusaha menghadirkan bahan yang bisa digunakan dalam produk kecantikan yang lebih berkelanjutan. Salah satu keunggulan Shell Silk Alkane adalah kemampuannya untuk terurai secara hayati hingga 77 persen dalam 28 hari, serta bebas kandungan hewani, sehingga juga cocok untuk formulasi produk vegan.
Masalah Limbah
Upaya ini menjawab kekhawatiran konsumen terhadap dampak industri kecantikan terhadap lingkungan. Menurut platform keadilan sosial TRVST, industri ini menyumbang sekitar 120 miliar unit limbah kemasan setiap tahun, termasuk plastik, kertas, kaca, dan logam. Sebagian besar tidak didaur ulang dengan benar dan berakhir di tempat pembuangan akhir.
Baca Juga: Rangkaian Skincare Nagita Slavina di Malam Hari, Praktis untuk Travelling
Selain limbah, proses produksi bahan baku juga bermasalah. Permintaan besar akan minyak alami mendorong budidaya intensif yang sering menyebabkan deforestasi, hilangnya habitat satwa, serta pencemaran tanah dan air.
Tak hanya dampak ekologis, masalah sosial juga membayangi. Salah satunya adalah penambangan mika, mineral yang kerap digunakan dalam kosmetik untuk memberikan efek kilau. Di negara seperti India, banyak anak-anak terlibat dalam tambang ilegal tanpa perlindungan, upah layak, atau pengawasan. Mereka menjadi pekerja tak terlihat dalam rantai pasok global.
Kesadaran inilah yang mendorong konsumen untuk lebih selektif. Kini, produk yang ramah lingkungan, vegan, cruelty-free, dan berkelanjutan bukan hanya menjadi alternatif, tetapi pilihan utama bagi banyak orang.
Di samping itu, seperti dikutip dari The Guardian, CEO kelompok anti-limbah Australian Packaging Covenant Organisation, Brooke Donnelly, merekomendasikan untuk mencari merek kecantikan dengan opsi isi ulang produk atau yang menggunakan kemasan minimal atau lebih ramah lingkungan.
“Konsumen punya peran besar untuk mendorong perusahaan membuat kemasan yang lebih ramah lingkungan,” kata Donnelly. “Dengan memilih produk yang kemasannya berkelanjutan, konsumen memberi sinyal kuat ke perusahaan bahwa mereka harus ikut berubah demi mendukung sistem ekonomi sirkular yang lebih bertanggung jawab.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi