Suara.com - Pariwisata dan keberlanjutan kini tak bisa lagi berjalan di jalur yang terpisah. Dalam menghadapi krisis iklim global, industri pariwisata dituntut untuk tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga solusi.
Dari penggunaan bahan bangunan ramah lingkungan hingga pengelolaan limbah yang lebih baik, tren hotel dan resor kini mulai beralih ke praktik hijau, dan salah satu yang paling menjanjikan adalah pemanfaatan energi matahari.
Di negara tropis seperti Indonesia, sinar matahari adalah sumber daya alam yang melimpah namun masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), khususnya PLTS atap, kini semakin mudah diakses dan efisien.
Bagi industri perhotelan, penggunaan PLTS bukan hanya menghemat biaya energi, tetapi juga mengurangi emisi karbon secara signifikan dan memperkuat citra sebagai pelaku bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
PLTS juga menjadi solusi ideal untuk hotel dan resor yang berada di lokasi terpencil atau kawasan wisata yang belum sepenuhnya terjangkau infrastruktur energi konvensional.
Dengan memanfaatkan energi matahari, hotel dapat mandiri secara energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi berbasis fosil seperti diesel, yang tidak hanya mahal tetapi juga mencemari lingkungan.
Swiss-BelResort Pecatu: Langkah Hijau dari Jantung Pariwisata Bali
Salah satu contoh konkret dari pergeseran ini adalah langkah yang diambil oleh Swiss-BelResort Pecatu, resor bintang empat yang berlokasi di kawasan eksklusif Pecatu Indah Resort, Bali Selatan. Pada Mei 2025, resor ini meresmikan pengoperasian PLTS atap, menjadikannya pelopor di jaringan Swiss-Belhotel International dalam penggunaan energi terbarukan.
Dikerjakan bersama perusahaan energi terbarukan Xurya Daya Indonesia, sistem PLTS atap ini diperkirakan menghasilkan 246.316 kWh energi bersih per tahun dan mampu mengurangi emisi karbon hingga 220.207 kilogram per tahun, setara dengan penanaman hampir 3.000 pohon. Langkah ini bukan hanya efisien, tapi juga sangat simbolis: bahwa dunia perhotelan bisa menjadi ujung tombak dalam transisi energi bersih.
Baca Juga: Bali United Resmi Datangkan Pelatih PEC Zwolle, Asistennya Rekomendasi Alex Pastoor
"Sebagai bagian dari industri pariwisata, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk mendukung transisi menuju energi bersih dan mewujudkan pariwisata hijau di Bali," ujar Ricky Teguh Utama Argawa, President Director PT Tujuh Havenindo Hotel yang menaungi Swiss-BelResort Pecatu.
Sejalan dengan Agenda Bali Mandiri Energi
Langkah Swiss-BelResort Pecatu ini sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Bali melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2022 yang mendorong sektor pariwisata beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Provinsi Bali sendiri memiliki potensi energi surya mencapai 22 GW, dengan potensi PLTS atap sebesar 3,3 hingga 10,9 GW. Namun, realisasi pemanfaatannya hingga saat ini masih sangat rendah.
Dengan mengadopsi PLTS, Swiss-BelResort Pecatu tidak hanya mendukung target Bali Mandiri Energi, tetapi juga menjadi contoh bahwa sektor swasta dapat mengambil peran nyata dalam transformasi energi Indonesia.
Menginspirasi Industri Perhotelan
Penggunaan PLTS atap memberikan banyak keuntungan bagi hotel: efisiensi energi, pengurangan emisi, hingga peningkatan daya tarik bagi wisatawan yang sadar lingkungan. Bahkan dalam jangka panjang, hal ini bisa menjadi nilai jual yang kuat dalam industri pariwisata global yang semakin hijau.
Inisiatif Swiss-BelResort Pecatu menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar wacana saja, tetapi tindakan nyata yang bisa dimulai dari atap—secara harfiah. Ketika industri perhotelan mulai bertransformasi, bukan tidak mungkin energi surya akan menjadi standar baru dalam dunia pariwisata Indonesia yang lebih hijau, cerdas, dan bertanggung jawab.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana
-
Kita Cari! Bahar bin Smith Geruduk The Sounds Project Buru Pelaku Hafalan Quran Hadiah Miras
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo
-
Polresta Cirebon Sita 6.964 Butir Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Ditangkap
-
Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci