Suara.com - Pada hari pertama Indonesia Fashion Week (IFW) 2025, panggung runway disulap menjadi lanskap magis yang membawa penonton menelusuri rimba tropis, menjelajahi akar budaya, dan menyelami hubungan mendalam antara manusia dan alam.
Adalah KHAYAE, kolektif desainer perempuan visioner, Elok Re Napio, Mawadah Maslikhan Ilona, Yati Silvia, dan Nathania Caya Dewi yang mempersembahkan koleksi bertajuk Habitat, membuka perhelatan mode tahunan ini dengan narasi yang kuat dan menyentuh.
Koleksi Habitat bukan sekadar peragaan busana. Ia adalah pernyataan artistik tentang keterikatan manusia dengan lingkungan dan budaya yang membentuknya.
Terinspirasi dari berbagai habitat dunia, fokus koleksi ini tertuju pada hutan, bukan hanya sebagai ruang ekologis, tetapi juga ruang spiritual dan budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat Indonesia.
“Hutan adalah habitat leluhur kita. Di sana budaya tumbuh, upacara digelar, mitologi hidup, dan alam menyediakan segalanya,” ujar Ilona, salah satu perancang utama koleksi ini.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pakaian bisa menjadi rumah, bagi jiwa, bagi alam, dan bagi identitas kita yang sesungguhnya,” tambahnya.
Siluet, Material, dan Imajinasi Rimba
Ragam desain dalam koleksi ini menciptakan pengalaman visual yang menyentuh. Gaun panjang dengan potongan mengalir menyerupai akar menjuntai, cape lebar yang menghadirkan ilusi kanopi hutan, serta atasan dengan tekstur seperti kulit pohon, membentuk siluet yang seolah tumbuh dari tanah dan menyatu dengan pepohonan.
Detailnya tak kalah mengagumkan, teknik felted menghasilkan efek lumut dan kulit kayu, sulaman rumit menggambarkan dedaunan, akar, hingga fauna hutan seperti kupu-kupu, tokek, dan burung.
Baca Juga: Longsor Tambang Galian Gunung Kuda, Korban Meninggal Bertambah Jadi 17 Orang
Semua ini disempurnakan dengan pewarna alam seperti daun indigo, kulit pohon, dan akar mengkudu, menciptakan palet warna yang organik, hijau lumut, coklat tanah, krem akar, merah saga, hingga hitam batu.
Salah satu bahan utama yang menjadi sorotan dalam koleksi ini adalah tenun bulu, wastra tradisional Indonesia yang masih jarang tersentuh dalam arus mode kontemporer. Kain ini dipilih bukan tanpa alasan.
“Tenun bulu punya karakteristik yang sangat kuat dan alami. Teksturnya mengingatkan kita pada akar dan batang pohon, sangat pas untuk mewakili imaji rimba leluhur,” jelas tim KHAYAE.
Dalam dunia fashion yang sering terjebak dalam tren instan, penggunaan pewarna alam adalah keputusan yang penuh kesadaran.
Meski diakui masih belum 'seksi' di pasar komersial karena prosesnya yang panjang dan harga yang lebih tinggi, tim KHAYAE menegaskan pentingnya mengembalikan nilai kepada proses dan cerita di balik sehelai kain.
“Pewarna alam bukan sekadar estetika. Ini adalah sikap. Ia membawa pengetahuan leluhur dan lebih ramah lingkungan. Kami ingin mengajak pasar untuk melihat nilai di luar harga, yaitu dampaknya terhadap bumi dan budaya,” tutur Ilona.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Emas 1 Kg hingga Bisnis SPBE: Upeti Mewah Moch Mahrus demi Menguras Dana Hibah Jatim
-
Saat Biaya Logistik Ditekan, Pelaku Industri Beralih ke Layanan Distribusi Terintegrasi
-
Seperti Pesawat Jatuh! Kesaksian Horor Ledakan di AEON Mall yang Tewaskan 2 Orang
-
Jutaan Batang Rokok Ilegal di Malang Disita: Modus Licin Terendus
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
The House That Floated, Kisah Tanpa Dialog yang Membuat Pembaca Terharu
-
Aplikasi Snapboost Ditutup, Modusnya Berikan Suka di Media Sosial Bikin Uang Raib
-
Rudal Balistik Iran Hantam Pasukan AS, Timur Tengah di Ambang Perang Besar
-
Tinted Lip Balm Hanasui untuk Kulit Sawo Matang Shade Berapa? Cek Ulasannya
-
Anomali Harga Minyak, Mengapa Tidak Melonjak Meski Timur Tengah Memanas?