Suara.com - Para ilmuwan menemukan bahwa lendir alami dari tanaman okra dan fenugreek (klabet) mampu menghilangkan hingga 90 persen mikroplastik dari air laut, air tawar, hingga air tanah.
Penemuan ini menambah daftar solusi ramah lingkungan untuk mengatasi krisis pencemaran plastik mikro, yang kini mencemari hampir seluruh sistem air dunia, termasuk air minum kita.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ACS Omega pada April 2025 oleh tim peneliti dari Tarleton State University di Texas, Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Rajani Srinivasan. Mereka mengembangkan metode sederhana berbasis tanaman untuk menjebak mikroplastik menggunakan polisakarida—senyawa lengket alami—yang diekstrak dari okra dan fenugreek.
“Dengan menggunakan ekstrak nabati ini, kita bisa menghilangkan mikroplastik dan polutan lainnya dari air tanpa menambahkan zat beracun ke dalamnya. Ini penting untuk mengurangi risiko kesehatan jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Srinivasan, melansir Scitechdaily, Jumat (20/6/2025).
Uji Laboratorium Menunjukkan Efektivitas Tinggi
Dalam pengujian laboratorium menggunakan air yang telah disuntikkan mikroplastik, satu gram bubuk ekstrak dari masing-masing tanaman yang dilarutkan dalam satu liter air mampu mengikat partikel plastik dengan efektif.
Fenugreek terbukti paling ampuh, menghilangkan 93 persen mikroplastik dalam satu jam. Okra menghilangkan sekitar 67 persen dalam waktu yang sama. Menariknya, kombinasi keduanya dalam rasio 1:1 mampu mencapai efisiensi pembersihan 70 persen hanya dalam waktu 30 menit.
Tidak hanya di laboratorium, peneliti juga menguji efektivitas metode ini terhadap air sungguhan yang terkontaminasi mikroplastik dari berbagai sumber di negara bagian Texas. Hasilnya beragam tergantung jenis dan kandungan mikroplastik. Okra paling efektif pada air laut (hingga 80%), fenugreek unggul pada air tanah (80-90%), dan kombinasi keduanya paling ampuh untuk air tawar (77%).
Yang mencolok, metode ini mengungguli polimer sintetis yang saat ini umum digunakan dalam pengolahan limbah, yaitu poliacrilamida. Selain lebih ramah lingkungan, ekstrak nabati ini juga mudah terurai dan tidak menimbulkan residu toksik.
Baca Juga: Dari Open Dumping ke Sanitary Landfill: Cirebon Tata Ulang Sistem Pembuangan Sampah
Ancaman Mikroplastik di Indonesia dan Dunia
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari degradasi sampah plastik, serat sintetis dari pakaian, serta limbah industri dan kosmetik. Laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada 2021 memperkirakan bahwa lebih dari 11 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahunnya, dan jumlah ini bisa melonjak tiga kali lipat pada 2040 jika tidak ada intervensi nyata.
Di Indonesia, studi Kementerian Kelautan dan Perikanan serta LIPI menemukan bahwa mikroplastik sudah ditemukan dalam tubuh ikan konsumsi dan air laut di berbagai wilayah pesisir, termasuk Teluk Jakarta dan perairan Selat Makassar.
Masalah ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam rantai makanan dan kesehatan manusia. Penelitian oleh Universitas Newcastle pada 2019 menunjukkan bahwa rata-rata manusia mungkin menelan hingga 5 gram plastik setiap minggu—setara dengan satu kartu kredit.
Peluang Implementasi di Indonesia
Metode berbasis okra dan fenugreek ini bisa menjadi solusi alternatif yang relevan untuk Indonesia, mengingat kedua tanaman tersebut cukup mudah ditemukan dan dibudidayakan di berbagai daerah. Selain berpotensi memberdayakan pertanian lokal, teknologi ini juga mendukung upaya transisi ke pengolahan limbah yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Namun, tantangan implementasi tetap ada. Diperlukan penelitian lanjutan tentang skalabilitas dan efisiensi biaya di sistem pengolahan air berskala besar. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah menargetkan pengurangan 70 persen sampah plastik di laut pada 2025, dan inovasi seperti ini bisa menjadi bagian dari solusi tersebut.
Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya mikroplastik, metode alami ini menjadi harapan baru untuk mengurangi jejak plastik di perairan tanpa menambah beban kimiawi baru bagi ekosistem maupun manusia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
-
Kenapa Cushion Cepat Oksidasi? Ini Penyebab dan 3 Rekomendasi untuk Makeup Anti Kusam
-
6 Shio yang Gampang Dapat Keberuntungan, Anak Emas Alam Semesta
-
4 Lipstik Wardah di Alfamart dengan Formula Transferproof hingga Foodproof
-
Apakah Sunscreen Wardah Boleh untuk Anak? Ini Batasan Usia dan 3 Rekomendasi Produknya
-
6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
-
Bedak Two Way Cake yang Bisa Menutupi Flek Hitam, Ini 5 Pilihan Terbaik dari Harga Termurah
-
Tas Sekolah yang Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 5 Brand yang Terkenal Kuat dan Ergonomis
-
3 Rekomendasi Sunscreen Wardah di Indomaret yang Cocok Dipakai Setiap Hari
-
Sepatu Versatile seperti Apa? Ini 5 Ciri dan Alasan Banyak Orang Memilihnya