- PT Sepatu Bata (Tbk) memutuskan untuk berhenti memproduksi alas kaki
- Kerugian yang terus menerus membuat perusahaan sepatu ini membuat keputusan berat
- Selama ini Bata disangka merupakan produk lokal asli, tapi ternyata bukan.
Suara.com - Kabar mengejutkan datang dari PT Sepatu Bata Tbk (BATA). Merek alas kaki yang sudah melegenda dan sering disangka produk lokal Indonesia ini resmi menghentikan seluruh kegiatan usaha industri alas kaki untuk kebutuhan sehari-hari.
Keputusan final ini disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada September 2025, menyusul langkah awal penutupan pabriknya di Purwakarta pada April 2024.
Langkah ini sontak menimbulkan pertanyaan, mengapa merek sekuat Bata harus menyerah pada lini produksi yang telah mereka jalankan selama puluhan tahun?
Bukan Merek Lokal
Bagi masyarakat Indonesia, merek Bata sudah sangat akrab dan identik dengan sepatu sekolah "zaman dulu". Saking lamanya hadir di Tanah Air, banyak yang mengira Bata adalah merek asli Indonesia.
Faktanya, anggapan tersebut keliru. Sepatu Bata adalah merek asing yang berasal dari Republik Ceko.
Meskipun sudah melegenda dan hadir di Indonesia selama hampir satu abad, merek sepatu Bata sebenarnya berasal dari Eropa, tepatnya dari Republik Ceko (dahulu bagian dari Austria-Hungaria, kemudian Cekoslowakia). Tepatnya di kota Zlin.
Bata pertama kali berdiri pada tahun 1894 oleh tiga bersaudara yaitu Tomáš, Anna, dan Antonín Baa. Nama perusahaan lengkapnya adalah T&A Bata Shoe Company. Mereka adalah generasi kedelapan dari keluarga Baa yang telah turun-temurun menjadi pembuat sepatu.
Merek ini berhasil berekspansi secara global dan masuk ke Hindia Belanda (Indonesia) sejak tahun 1931. Pabrik pertamanya didirikan di Kalibata pada 1939.
Baca Juga: Converse KW Bikin Rugi? Bongkar Perbedaan Chuck Taylor Asli dan Palsu di Sini
Sejak 1 Januari 1978, PT Sepatu Bata Tbk (BATA) beralih status menjadi perusahaan nasional Indonesia (Penanaman Modal Dalam Negeri/PMDN) dan kemudian terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1982.
Meskipun saat ini operasional penjualan dan manajemen di Indonesia dijalankan oleh PT Sepatu Bata Tbk, merek global Bata tetap berasal dari Ceko dan berkantor pusat di Lausanne, Swiss (Bata Shoe Organization/BSO).
Bata Hentikan Produksi karena Kerugian Menggunung
Keputusan dramatis untuk berhenti memproduksi alas kaki diambil setelah perusahaan terus menerus menelan kerugian selama beberapa tahun terakhir. Perusahaan harus melakukan transformasi bisnis besar-besaran demi menyelamatkan bisnis ritelnya.
Berikut adalah gambaran kerugian yang dialami PT Sepatu Bata Tbk:
Kerugian Bersih Berkelanjutan: Perusahaan mencatat kerugian bersih selama empat tahun berturut-turut.
Kerugian pada Tahun 2024: Kerugian bersih pada tahun penuh 2024 mencapai sekitar Rp 148,0 Miliar.
Bengkak 293% di Semester I 2024: Kerugian bersih pada Semester I 2024 sempat membengkak hingga Rp 127,3 Miliar, melonjak hampir 300% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan Anjlok: Selain kerugian dari sisi bottom line, perusahaan juga menghadapi penurunan signifikan dalam penjualan neto.
Kerugian ini disebabkan oleh kombinasi faktor. Pabrik di Purwakarta dianggap memiliki kapasitas produksi yang jauh melebihi kebutuhan yang bisa diserap secara berkelanjutan. Juga karena perubahan perilaku konsumen yang beralih ke e-commerce dan persaingan ketat dengan produk impor menjadi tantangan besar.
Dengan ditutupnya operasional produksi, Sepatu Bata tidak lagi membuat sepatu sendiri. Perusahaan kini akan beralih fokus menjadi perusahaan ritel murni, yang berarti mereka akan mendapatkan pasokan alas kaki dari pihak ketiga (pemasok lokal maupun internasional) untuk dijual di seluruh gerai mereka.
Langkah ini dianggap sebagai upaya efisiensi terakhir agar merek Bata bisa bertahan di tengah badai industri alas kaki nasional.
Berita Terkait
-
Rival Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Sukses Tahan Imbang Republik Ceko
-
7 Bahan Bangunan Tahan Api untuk Rumah di Jakarta yang Rawan Bencana Kebakaran
-
Material Tembok Pagar Rumah agar Kokoh Sulit Dijarah: Mending Batako, Hebel, atau Bata Merah?
-
Marco Bezzecchi Akui Kehebatan Marc Marquez: Dia Cepat di Lintasan Manapun
-
Double Podium di GP Ceko 2025, Pedro Acosta dan KTM Dapat Angin Segar
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Daftar Lokasi Penukaran Uang Baru BI di Jawa Tengah untuk Lebaran 2026
-
Mark, Badut di Sirkus Kooza yang Bikin Ketawa Sekeluarga Lewat Humor Hangatnya
-
Jadwal Imsak dan Subuh Surabaya Hari Ini 26 Februari 2026, Cek Panduan Resmi Kemenag
-
Inspiratif, Kisah Suli dan Komunitas TWS Gagas Bantuan Seumur Hidup untuk Guru Honorer di NTT
-
7 Program Mudik Gratis Lebaran 2026 dengan Kuota Terbanyak, Aman Buat War Tiket!
-
Kampung Ramadan Wedomartani, DRW Skincare Hadirkan Berbagi dan Pemberdayaan UMKM
-
6 Sepatu Sandal Unisex Paling Nyaman dan Stylish untuk Acara Ramadan
-
Jadwal Pengisi Ceramah Tarawih di Masjid Kampus UGM, Akhir Pekan Ada Menkeu Purbaya
-
THR Lebaran 2026 Karyawan Swasta Paling Lambat Tanggal Berapa? Simak Ketentuannya
-
Lengkap! Jadwal Menu Buka Puasa dan Sahur Gratis di Masjid Kampus UGM Selama Ramadan