Lifestyle / Komunitas
Minggu, 12 Oktober 2025 | 17:35 WIB
Ilustrasi Palestina Merdeka. (freepik)

Suara.com - Setelah dua tahun penuh konflik, akhirnya kabar gencatan senjata kembali datang dari Gaza. Usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya dikenal keras terhadap pihak-pihak di Timur Tengah kali ini diterima oleh Hamas.

Dilansir Reuters, Sabtu (11/10/2025) malam waktu Mesir, dua sumber Palestina yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Hamas menilai Trump mampu menekan Israel untuk mematuhi kesepakatan damai.

Sebelumnya, Trump sempat memperlihatkan sikap keras terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan beberapa pejabat Israel lainnya.

Usai mengumumkan usulan gencatan senjata, Trump bahkan menulis di media sosial agar Israel segera menghentikan pengeboman di Gaza.

Sikap ini cukup mengejutkan dunia internasional, mengingat pada masa lalu Trump dikenal sangat pro-Israel.

Demonstran Pro-Palestina akan Serbu Laga Italia vs Israel di Luar Stadion. [Dok. IG eye.on.palestine]

Bulan Juni 2025 lalu, Trump juga pernah menuntut Israel menghentikan serangan udara ke Iran. Tuntutan itu disampaikan sesaat setelah Israel dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Jet-jet tempur Israel yang sudah bersiap meluncur ke Iran akhirnya batal menyerang, memperlihatkan bahwa Trump memang berusaha memaksa semua pihak menghormati kesepakatan damai.

Bahkan, pada akhir September 2025, dalam telekonferensi antara AS, Israel, dan Qatar, Trump disebut menegur Netanyahu dan memintanya meminta maaf kepada Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani.

Hal itu terkait serangan Israel ke wilayah Qatar yang dinyatakan sebagai sekutu penting AS di kawasan.

Baca Juga: Legislator PKS Desak Imigrasi Tolak Visa Atlet Israel masuk Indonesia Ikut Kejuaraan Senam Dunia

Uniknya, kabar kesepakatan ini menarik diskusi warganet mengenai spekulasi kedamaian di Palestina bisa jadi pertanda akhir zaman atau kiamat. 

Benarkah Kemerdekaan Palestina Termasuk Tanda Akhir Zaman?

Spekulasi ini muncul karena beredarnya hadis yang sering dikaitkan dengan kemerdekaan Palestina. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, melalui sahabat Abdullah bin Hawalah al-Azdi, sebagai berikut:

"Wahai Ibn Hawalah, apabila kamu melihat kekhilafahan telah turun di Baitul Maqdis (Yerusalem), maka saat itu gempa bumi, bencana, dan peristiwa besar akan terjadi. Pada saat itu, Kiamat akan lebih dekat kepada manusia daripada jarak tanganku dengan kepalamu." (HR. Abu Dawud)

Hadis ini sering dijadikan acuan bahwa ketika kekuasaan Islam kembali ke Yerusalem, maka hari akhir semakin dekat. Namun, apakah hadis ini sahih dan bisa dijadikan pegangan?

Dalam Syarh Sunan Abi Dawud, ulama Ibnu Ruslan menjelaskan bahwa sahabat Abdullah bin Hawalah hidup hingga masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abdul Malik bin Marwan.

Dalam masa itu, memang banyak terjadi gempa dan konflik besar di kawasan Syam (Suriah) dan Irak.

Namun, para ulama kemudian menilai bahwa hadis ini tidak bisa dijadikan dasar keyakinan tentang waktu dekatnya Kiamat.

Peneliti hadis modern, Syuaib al-Arnaout, dalam catatan kakinya menyebut hadis ini berstatus lemah (dhaif).

Alasannya, karena dalam rantai periwayatan terdapat nama-nama yang diragukan kredibilitasnya. Beberapa perawi seperti Ibn Zughb al-Iyadi dianggap tidak dikenal luas oleh para ahli hadis, sehingga riwayatnya tidak cukup kuat.

Selain itu, isi hadis ini dianggap tidak sejalan dengan kaidah umum dalam ajaran Islam, yakni bahwa waktu Kiamat adalah rahasia Allah SWT semata. Maka, hadis tersebut tidak bisa dijadikan dalil atau hujjah dalam urusan akidah.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (HPT) Jilid 1, dijelaskan bahwa persoalan akidah hanya dapat ditegakkan dengan dalil yang tegas dari Al-Qur’an atau hadis mutawatir (yang diriwayatkan oleh banyak orang dan tidak diragukan). Karena hadis tentang Baitul Maqdis ini lemah, maka tidak dapat dijadikan landasan keyakinan.

Majalah Suara Muhammadiyah edisi No. 7 Tahun 2009 juga menegaskan bahwa dalam hal keimanan kepada tanda-tanda Kiamat, Muhammadiyah hanya mengakui yang bersumber dari dalil-dalil sahih dan mutawatir.

Allah dengan tegas menjelaskan dalam Al-Qur’an, Surah Al-A’raf ayat 187:

"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, 'Kapan terjadi?' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia'."

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk Nabi, yang mengetahui kapan Kiamat akan datang.

Semua makhluk hanya diperintahkan untuk beriman, beramal saleh, dan mempersiapkan diri, bukan menebak-nebak waktunya.

Oleh karena itu, mengaitkan kemerdekaan Palestina dengan tanda-tanda Kiamat bukanlah pemahaman yang tepat. Kemenangan rakyat Palestina adalah bagian dari perjuangan kemanusiaan dan keadilan, bukan sinyal akhir zaman.

Demikian itu jawaban atas spekulasi Palestina merdeka sebagai tanda akhir zaman. Kiamat adalah urusan Allah. Ia akan datang sesuai kehendak-Nya, tanpa pertanda politik atau militer apa pun.

Kontributor : Mutaya Saroh

Load More