- Penulis buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki, Baek Se-hee, meninggal dunia di usia 35 tahun.
- Semasa hidupnya, Baek Se-hee telah menyentuh jutaan warga dunia melalui buku self-help uniknya.
- Buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki mengikuti percakapan Baek Se-hee dengan psikiaternya tentang distimia.
13. “Mungkin kamu juga memiliki ketergantungan emosional terhadap pekerjaanmu. Saat hasilnya baik, kamu merasa berharga dan bisa tenang, tapi kepuasan itu tak pernah bertahan lama — itulah masalahnya.”
14. “Melihat ke dalam diriku sendiri selalu sulit. Terutama ketika aku sedang dikuasai oleh emosi negatif. Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Rasanya seperti aku tahu semuanya baik-baik saja, tapi aku tak bisa berhenti memastikan bahwa semuanya benar-benar baik-baik saja, dan dalam proses itu, aku justru membuat diriku sengsara. Hari ini seperti itu. Aku hanya ingin mengeluh. Bersandar pada seseorang, dan merasa sedih. Bagiku, kesedihan adalah jalan paling mudah, emosi yang paling akrab dan dekat denganku. Sebuah kebiasaan yang telah melekat pada keseharianku.”
15. “Mustahil memahami sepenuhnya kesedihan mereka yang ditinggalkan, tapi jika hidup memberi seseorang lebih banyak penderitaan daripada mati, bukankah seharusnya kita menghormati hak mereka untuk mengakhirinya? Kita begitu buruk dalam berduka, mungkin karena kita gagal menghormati. Beberapa orang menyebut mereka yang memilih kematian sendiri sebagai pendosa, pecundang, atau orang yang menyerah. Tapi benarkah hidup sampai akhir selalu berarti kemenangan? Seolah-olah dalam permainan hidup ini benar-benar ada yang menang dan yang kalah.”
16. “Yang penting bukan apa yang orang lain katakan, melainkan apa yang kamu sukai dan apa yang membuatmu bahagia. Aku harap kamu bisa lebih sedikit memikirkan pandangan orang lain, dan lebih banyak berfokus untuk memenuhi keinginanmu yang sejati.”
17. “Sejujurnya, tak ada seorang pun yang merendahkanku selain diriku sendiri.”
18. “Tapi sekali lagi, kamu bisa menikmati kebebasan dari pikiranmu sendiri. Alih-alih berpikir, ‘Aku tidak boleh punya pikiran seperti ini.’”
19. “Tapi buku-buku berbeda. Aku sering mencari buku yang seperti obat, yang cocok dengan situasiku dan pikiranku, lalu membacanya berulang-ulang sampai halamannya lusuh, menggarisbawahi setiap bagian, dan tetap saja buku itu punya sesuatu untuk diberikan padaku. Buku tidak pernah lelah padaku. Dan pada waktunya, mereka menawarkan solusi, diam-diam menunggu hingga aku benar-benar pulih. Itulah salah satu hal terindah tentang buku.”
20. “Psikiater: Jika kamu membuat dirimu cemas untuk mendapatkan perhatian, seseorang memang akan memberimu perhatian. Lalu kamu merasa nyaman, dan orang itu pun begitu. Tapi setelah itu, kamu akan merasa putus asa lagi. Tanpa sadar, kamu mulai berpikir, ‘Kalau aku bahagia, orang ini akan berhenti memperhatikanku,’ dan akhirnya kamu berusaha menghindari kebahagiaan dengan segala cara.”
21. “Aku ingin menikmati gelombang perasaanku seolah aku sedang menari pada sebuah musik. Aku berharap aku bisa menjadi seseorang yang kebetulan menemukan secercah cahaya dan bertahan bersama cahaya itu setelah lama berjalan di dalam kegelapan yang besar. Aku percaya suatu hari nanti aku bisa menjadi seperti itu.”
Baca Juga: Penulis Baek Se-hee Meninggal: Perjuangan Melawan Distimia dan Donasi Organ yang Menginspirasi
22. “Aku tidak mengerti mengapa seseorang harus diperlakukan seolah lebih rendah dan berusaha keras menyesuaikan diri dengan standar masyarakat, padahal orang-orang yang merendahkan orang lainlah yang sebenarnya menjadi masalah. Hal itu membuatku frustrasi. Bahwa aku tidak bisa keluar dari situasi ini, bahwa aku masih merasa rendah diri ketika bertemu seseorang yang dianggap lebih hebat dariku, dan bahwa aku merasa percaya diri serta nyaman ketika bertemu seseorang yang dianggap lebih rendah. Aku benar-benar membenci hal itu dari diriku sendiri.”
23. “Tingkat kepercayaan dirimu menentukan bagaimana kamu merasakan ketulusan orang lain.”
24. “Terkadang, saat seseorang berkata ‘Semangat ya’ ketika aku sedang mengalami masa sulit, rasanya aku ingin mencekik leher mereka.”
25. “Ini adalah catatan tentang seseorang yang sangat biasa dan belum utuh, yang bertemu dengan orang lain yang sama-sama biasa dan belum utuh — hanya saja yang kedua kebetulan adalah seorang terapis.”
26. “Aku merasa terlalu muda untuk sudah menyaksikan kehidupan dan kematian dari makhluk hidup yang punya perasaan.”
27. “Rasa takut akan semakin besar ketika kamu memendamnya sendirian. Daripada menderita sendiri, sering kali lebih baik membaginya dengan seseorang.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
Promo Sirup dan Biskuit di Indomaret 2026, Belanja Hemat buat Persiapan Lebaran
-
Bolehkah Menghirup Inhaler saat Puasa? Begini Hukumnya Menurut Syariat
-
Puasa Kurang Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur Lebaran Idulfitri 1447 H
-
Niat Sholat Hajat 2 Rakaat di Bulan Ramadan, Amalkan Doa Ini Agar Segera Terkabul
-
Perjalanan Karier Vidi Aldiano Si "Duta Persahabatan", Menginspirasi Lewat Karya dan Resiliensi
-
Apa Keutamaan Wafat di Bulan Ramadan? Simak Penjelasannya dalam Islam
-
Muntah Apakah Membatalkan Puasa? Hukum Disengaja dan Tidak Ternyata Berbeda
-
Jadwal Lengkap One Way, Ganjil Genap dan Contra Flow Mudik Lebaran 2026, Jangan Sampai Kena Macet!
-
Awal Mula Vidi Aldiano Sakit, Perjalanan Panjang sang Musisi Melawan Kanker Ginjal
-
7 Maret 2026 Tarawih ke Berapa? Simak Keutamaannya Menurut Kitab Durratun Nashihin