Suara.com - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menarik perhatian publik setelah mengalami erupsi dahsyat pada Rabu, 19 November 2025 kemarin. Letusan ini meluncurkan awan panas sejauh 13 kilometer, memaksa status gunung dinaikkan menjadi level IV (Awas) dan menahan 178 pendaki di kawasan Ranu Kumbolo.
Hingga kini, asap kelabu masih terlihat mengepul dari puncak tertinggi Pulau Jawa ini. Petugas terus memantau kondisi sambil menghimbau warga menjauh dari sisi tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 20 kilometer dari puncak, serta menjaga jarak 500 meter dari jalur aliran lahar di bantaran sungai.
Di tengah aktivitas vulkaniknya yang mengancam, banyak yang bertanya-tanya: benarkah Gunung Semeru adalah "Paku Pulau Jawa" seperti yang diceritakan dalam legenda kuno? Simak penjelasan berikut ini.
Asal-Usul Gunung Semeru Sebagai Paku Pulau Jawa
Jauh sebelum menjadi destinasi favorit para pendaki, Gunung Semeru telah diabadikan dalam Kitab Tantu Pagelaran, sebuah naskah kuno abad ke-15 yang mengisahkan asal-usul mistis gunung ini. Menurut legenda tersebut, Pulau Jawa pada masa lampau terus terombang-ambing di tengah samudra akibat terjangan ombak yang ganas.
Melihat kondisi ini, para dewa di kahyangan menggelar pertemuan untuk mencari solusi. Keputusannya? Memindahkan Gunung Mahameru dari India untuk dijadikan "paku" yang menancapkan Pulau Jawa agar stabil.
Dalam misi pemindahan yang epik ini, Dewa Wisnu berubah wujud menjadi kura-kura raksasa yang menggendong Gunung Mahameru di punggungnya. Sementara Dewa Brahma menjelma sebagai ular naga untuk mengikatkan gunung tersebut dengan kokoh.
Ketika tiba di Pulau Jawa, para dewa awalnya meletakkan Gunung Mahameru di bagian barat. Namun hal ini justru menciptakan masalah baru karena bagian timur pulau menjadi terangkat dan tidak seimbang. Dalam perjalanan memindahkannya ke timur, serpihan gunung yang tercecer membentuk deretan pegunungan yang membentang dari barat hingga timur Pulau Jawa seperti yang kita kenal sekarang.
Bahkan setelah berhasil dipindahkan ke timur, posisi Pulau Jawa masih belum stabil. Akhirnya, para dewa memutuskan untuk memotong ujung Gunung Mahameru. Potongan ini kemudian diletakkan di wilayah barat laut dan diberi nama Gunung Pawitra, yang kini dikenal sebagai Gunung Penanggungan di Jawa Timur. Sedangkan bagian utama gunung tetap berada di timur dengan nama Gunung Semeru atau Mahameru.
Fakta Geologis di Balik Mitos Gunung Semeru
Terlepas dari kisah mitologisnya yang memikat, Gunung Semeru memiliki sejarah geologis yang tidak kalah menarik. Berdiri megah dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, Semeru adalah puncak tertinggi di Pulau Jawa dan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Kerinci (3.805 mdpl) dan Rinjani (3.736 mdpl).
Baca Juga: Jejak Erupsi Gunung Semeru Sejak 1818, Letusan Terbaru Tahan 178 Pendaki di Ranu Kumbolo
Secara ilmiah, Gunung Semeru terbentuk akibat proses subduksi, sebuah fenomena tektonisme di mana Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Proses ini menciptakan zona vulkanik aktif yang membentuk deretan gunung berapi di sepanjang Pulau Jawa.
Meski sains modern telah menjelaskan proses pembentukan Gunung Semeru, legenda dari Kitab Tantu Pagelaran tetap hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat Jawa. Kisah ini tidak sekadar dongeng, melainkan bagian dari identitas budaya yang menghubungkan generasi masa lalu dengan masa kini.
Pengaruh Hindu-Buddha yang kental dalam legenda ini dengan tokoh-tokoh seperti Dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa mencerminkan warisan sejarah Nusantara yang kaya. Cerita ini terus diwariskan secara turun-temurun, mengingatkan kita bahwa setiap gunung bukan hanya formasi geologi, tetapi juga rumah bagi narasi spiritual yang mendalam.
Kekinian saat Gunung Semeru kembali menunjukkan kekuatannya melalui erupsi pada 19 November 2025, kita diingatkan bahwa sang "Paku Pulau Jawa" masih aktif menjaga keseimbangan, baik secara mitologis maupun geologis.
Kontributor : Trias Rohmadoni
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Terpopuler: Shio Paling Hoki 12 April 2026, Top 7 Sepatu Lokal Senyaman Nike dan ASICS
-
Minat Investasi Emas Melonjak, Ini Cara Jual Beli Aman Tanpa Potongan Tersembunyi
-
5 Sunscreen Spray SPF 50 Terbaik yang Bisa Kamu Gunakan
-
Strategi Atur Napas Finansial: Mengapa Pria Usia 30-an Kini Lebih Hobi Pakai Paylater?
-
Desain Indonesia Incar Panggung Global Lewat Pameran Furnitur Terbesar di Milan
-
Bukan Cuma Tabungan, Ini Alasan Asuransi Wajib Masuk Rencana Masa Depan
-
7 Sepatu Lokal Sekelas Nike dan ASICS, Fleksibel Buat Jalan Jauh dan Lari
-
5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
-
Lupakan Sandal Berat! Ini Tren Alas Kaki Cloud-Walking yang Bakal Dominasi Musim Panas 2026
-
Siap-siap Cuan, 5 Shio Bakal Hoki Besar Besok Minggu 12 April 2026