Lifestyle / Male
Minggu, 30 November 2025 | 19:02 WIB
Ilustrasi film Pangku [Suara.com/Rochmat]
Baca 10 detik
  • Reza Rahadian memilih tahun 1998 sebagai latar film terbarunya berjudul Pangku karena memori personal saat menemani ibunya mencari kerja.
  • Aktor tersebut mengingat tekanan ekonomi krisis tahun 1998 saat ibunya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
  • Film tersebut juga menyoroti kebijakan era Presiden B.J. Habibie mengenai peningkatan kuota tenaga kerja perempuan.

Suara.com - Aktor sekaligus pembuat film kenamaan Indonesia, Reza Rahadian mengungkapkan alasan mendalam di balik pemilihan tahun 1998 sebagai latar waktu dalam film terbarunya yang bertajuk Pangku

Bukan sekadar ingin memotret gejolak politik yang ikonik pada masa itu, Reza Rahadian justru berangkat dari kepingan memori personal yang membekas kuat di benaknya.

Bagi Reza Rahadian, tahun 1998 bukan hanya catatan sejarah di buku pelajaran, melainkan sebuah pengalaman nyata tentang perjuangan hidup. 

Pada masa itu, Reza mengenang momen ketika dirinya harus menemani sang ibu mencari pekerjaan di tengah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

"Saya memilih tahun 1998, karena saya di waktu itu memiliki memori saya menemani ibu saya keliling di jalan Sudirman untuk nyebar CV, karena waktu itu beliau terkena PHK besar-besaran," ungkap Reza.

Kenangan berjalan menyusuri jalan protokol Jakarta demi menyebar surat lamaran kerja tersebut menjadi pondasi emosional yang ingin ia tuangkan ke dalam visual film Pangku.

Potret Reza Rahadian di jumpa pers jelang Gala Premiere film Keadilan (The Verdict) di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 12 November 2025. [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]

Reza menambahkan bahwa atmosfer tahun 1998 dipenuhi dengan ketidakpastian. Tekanan ekonomi yang tinggi membuat masyarakat, termasuk keluarganya berada dalam situasi yang serba sulit.

"Karena di waktu itu kita semua kena tekanan krisis yang cukup tinggi, cari kerja susah dan lainnya," jelasnya.

Namun di tengah himpitan krisis tersebut, Reza Rahadian juga menyoroti satu aspek kebijakan penting yang terjadi di era kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. 

Baca Juga: 7 Rekomendasi Cushion Anti Luntur untuk Natalan, Awet Tahan Seharian

Ia mencatat adanya perubahan regulasi yang memberikan perhatian lebih pada tenaga kerja perempuan, sebuah detail sejarah yang tampaknya menjadi elemen penting dalam narasi filmnya.

"Waktu itu juga kan Presidennya BJ Habibie, beliau sempat mengeluarkan Perpres yang menaikkan kuota tenaga kerja, khususnya perempuan dari berapa jadi berapa," tambah Reza.

Meski berlatar 27 tahun yang lalu, Reza Rahadian menilai bahwa isu yang diangkat dalam film Pangku masih sangat relevan dengan kondisi sosial ekonomi tahun 2025. 

Ia melihat adanya benang merah antara kesulitan yang dialami masyarakat pada tahun 1998 dengan tantangan yang dihadapi anak muda zaman sekarang.

"Tapi, ternyata kesulitan kerja di waktu itu gak jauh beda dengan sekarang, di mana sekarang juga banyak anak muda yang masih susah cari kerja," pungkasnya.

Melalui Pangku, Reza Rahadian tampaknya tidak hanya ingin mengajak penonton bernostalgia, tetapi juga merefleksikan kembali perjuangan bertahan hidup yang ternyata masih menjadi isu krusial lintas generasi.

Load More