- Masyarakat tengah merayakan inovasi lokal komunitas Sabu Raijua dalam menghadapi krisis iklim.
- Inovasi penting mencakup Jaring Penangkap Embun, Pupuk Organik Cair, dan Filter Air Berlapis untuk kemandirian.
- Acara tersebut juga diisi penandatanganan Pakta Integritas Taman Gender untuk mendorong kepemimpinan perempuan setempat.
Suara.com - Di tengah tantangan geografis Pulau Sabu yang gersang nan kering, napas baru bagi kemandirian komunitas mulai berembus. Beragam inovasi menjadi tonggak baru kemandirian itu. Pelopornya berasal dari masyarakat lokal. Tujuannya hanya satu, sebagai solusi berkelanjutan untuk melawan krisis iklim.
Untuk merayakan ragam inovasi tersebut, Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia menggandeng Yayasan Pikul, Bacarita Pangan Lokal (Bapalok), dan mitra pelaksana program menggelar acara "Selebrasi Inovasi Lokal dan Kemandirian Komunitas" di Gedung DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Selasa (13/1/2026).
Bukan sekadar perayaan, acara ini menjadi etalase ketangguhan warga menghadapi dampak perubahan iklim lewat teknologi tepat guna. Kelahirannya dari rahim kebutuhan lokal.Selain itu, acara ini menandai capaian Fase 7 program GEF SGP Indonesia di wilayah bentang alam Pulau Sabu yang berfokus pada adaptasi perubahan iklim dan ketahanan pangan.
Acara dibuka secara resmi Asisten I Setda Kabupaten Sabu Raijua, Titus Bernadus Duri. Kehadiran dia mewakili Bupati Sabu Raijua Krisman Riwu Kore. Dalam sambutannya, Titus Bernadus Duri menyatakan inovasi yang lahir dari kebutuhan warga sendiri sangat selaras dengan arah kebijakan pembangunan daerah.
“Kegiatan ini sejalan dengan misi utama pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas SDM dan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan yang tertuang dalam RPJMD 2025-2029. Saya mengajak seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dan pemerintah desa lainnya untuk mereplikasi praktik baik ini agar menjadi warisan bagi generasi muda,” ujar dia.
Sementara itu, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menegaskan Sabu Raijua merupakan wilayah prioritas dalam rencana kerja jangka panjang 2022 hingga 2026. Alasannya, menurut Sidi, kondisi geografis Sabu Raijua cukup unik, namun sangat menantang.
"Kami hadir bukan untuk memberikan bantuan dana semata, melainkan mendukung pengembangan inovasi dan teknologi yang dibutuhkan masyarakat untuk bertahan menghadapi tantangan air, energi, dan pangan," ujar Sidi.
Inovasi Sederhana, Dampak Luar Biasa
Acara ini layak disebut selebrasi. Semua inovasi dirayakan. Tak hanya dipamerkan, ada pula workshop dan sesi praktik dari inovasi itu. Nah, salah satu terobosan paling memantik perhatian adalah Jaring Penangkap Embun. Inovasi ini merupakan teknologi adaptasi iklim yang diadopsi dari praktik di Nigeria untuk menjawab tantangan krisis air di wilayah kering.
Inovasi ini menangkap uap air di udara menggunakan jaring khusus yang dipasang pada titik strategis. Alhasil, jaring bisa menghasilkan setidaknya satu liter air per hari selama musim kemarau panjang. Selain efisien, alat ini sangat ekonomis karena dapat dibuat mandiri oleh warga dengan biaya kurang dari Rp200 ribu menggunakan material sisa pembangunan.
Baca Juga: Dari Konsep PES hingga Clean Label, Solusi Ketahanan Iklim dan Ekonomi Sabu Raijua
Ya, inovasinya bukan cuma itu. Di sektor pertanian, masyarakat mengembangkan pupuk organik cair (POC) untuk meningkatkan kesuburan tanah tanpa ketergantungan pada bahan kimia. Pupuk ini memanfaatkan kekayaan vegetasi lokal seperti daun gala-gala, pete-pete, sirsak, dan batang pisang yang difermentasi bersama gula sabu selama minimal dua pekan.
Hasilnya benar-benar manjur. Inovasi tersebut terbukti efektif mengatasi hama dan penyakit tanaman, seperti fenomena daun padi yang menguning. Bukan cuma itu, gara-gara POC, petani pun bisa menghemat iaya produksi secara signifikan. Praktis, pendapatan mereka pun bertambah sebagai imbas dari pemakaian POC.
Selain itu, diperkenalkan pula teknologi Filter Air Berlapis. Teknologi ini dirancang berdasarkan kebutuhan warga untuk mengolah air keruh menjadi air bersih. Sistem filtrasi ini menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersusun secara sistematis dalam wadah, mulai dari pasir yang dicuci bersih, arang, hingga kain atau tisu sebagai penyaring akhir.
Teknologi ini sangat mudah direplikasi untuk menyediakan air bersih bagi kebutuhan ternak maupun pertanian, menjadikannya warisan pengetahuan yang krusial bagi kemandirian desa di masa depan.
Meneken Pakta Integritas Taman Gender
Acara ini juga diwarnai dengan pembacaan dan penandatanganan Pakta Integritas Taman Gender. Komitmen ini bertujuan untuk mendorong kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya alam serta menjamin lingkungan yang aman dan inklusif bagi kelompok berkebutuhan khusus dan lansia.
Sebagai penutup rangkaian acara, diadakan sesi diskusi kelompok bersama para konsultan dari Universitas Brawijaya dan Yayasan Untuk Generasi untuk merumuskan langkah tindak lanjut terkait kebijakan lokal dan pengembangan ekonomi komunitas di Pulau Sabu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Kenapa Masalah Kecil Terasa Sangat Besar di Kepala?
-
Alasan Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?
-
Hasto Wanti-wanti Demokrasi Bisa Mati Tanpa Kudeta Militer, Tanda-tanda Mulai Terlihat
-
Pramono Ancam Cabut Izin Swasta yang Timbun Sampah Ilegal di Jakarta
-
Yusril Minta Polda Jabar Tingkatkan Patroli Usai Polemik Sayembara Tangkap Begal
-
Evolusi Konten GRWM: Dari Sekadar Tutorial Makeup Menjadi Ruang Curhat Paling Relatabel
-
Cak Imin Ajak Semua Parpol Revisi 108 UU demi Wujudkan Prabowonomics
-
10 Cara Menggunakan AC Inverter agar Listrik Tetap Hemat
-
BRI Peduli dan Petani Lokal di Karawang Bersinergi Tanam 24.000 Mangrove
-
Pulihkan Pesisir, BRI Peduli Tanam 24.000 Mangrove di Karawang