Suara.com - Temuan kasus virus Nipah (NiV) mengalami peningkatan di negara bagian Benggala Barat, India Timur.
Hal ini membuat sejumlah negara lain turut waspada. Bahkan, beberapa negara di kawasan Asia termasuk Indonesia, memperketat pengawasan kesehatan terhadap warganya.
Sebagai salah satu penyakit zoonosis yang paling mematikan, merebaknya virus Nipah tentu memicu kekhawatiran warga dunia akan terjadinya peningkatan wabah yang lebih luas.
Berdasarkan laporan, virus ini mempunyai tingkat kematian sampai 75% dan hingga saat ini belum ada pengobatan yang memadai.
Sebagai salah satu upaya pencegahan diri, mari simak baik-baik ulasan seputar pengertian virus Nipah, penyebab, faktor risiko penularan, ciri-ciri hingga cara perlindungan diri.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus Nipah merupakan infeksi virus yang sangat berbahaya hingga dapat menyebabkan radang otak.
Virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus, termasuk kelompok virus Langya dan virus Hendra, yang menyerang hewan dan dapat menular ke manusia. Hewan pembawa virus ini adalah kelelawar buah yang berasal dari famili Pteropodidae.
Berdasarkan laporan, wabah virus Nipah pertama kali ditemukan di peternakan babi di desa dekat sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1999 dan menyebar sampai ke Singapura. Itulah mengapa virus ini akhirnya populer dengan sebutan Nipah.
Diketahui, merebaknya virus Nipah terjadi akibat adanya penebangan hutan secara besar-besaran yang mengakibatkan ratusan hingga jutaan kelelawar berpindah mendekati area peternakan warga.
Perpindahan habitat kelelawar ini kemudian menularkan virus Nipah ke babi lalu ke manusia.
Penyebab dan Faktor Risiko Penularan Virus Nipah
Virus Nipah sendiri termasuk infeksi zoonosis, yang berarti dapat menular dari hewan ke manusia.
Tidak hanya babi, beberapa hewan peternakan atau peliharaan lainnya, seperti kambing, sapi, kuda, anjing, atau bahkan kucing, juga dapat tertular dan akhirnya menularkan virus Nipah ke manusia.
Adapun penularan virus Nipah ke manusia terjadi apabila seseorang mengonsumsi hewan ternak yang sebelumnya telah terinfeksi atau terpapar cairan tubuh, seperti darah dan kotoran dari hewan yang juga terinfeksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- 5 Mobil Bekas 80 Jutaan dengan Pajak Murah, Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
6 Zodiak Paling Hoki dan Cuan di Akhir Januari 2026, Bakal Banjir Rezeki Melimpah
-
5 Rekomendasi Air Fryer Low Watt yang Awet untuk Penggunaan Jangka Panjang
-
5 Rekomendasi Merk Lipstik saat Puasa untuk Melembapkan Bibir Kering
-
5 Shio yang Paling Beruntung 29 Januari 2026, Rezeki Mengalir Lancar
-
Apakah Onitsuka Tiger Mexico 66 Cocok untuk Usia 50 Tahun? 5 Series Ini Juga Tak Kalah Nyaman
-
5 Rekomendasi Commuter Bike Termurah untuk Pekerja: Gowes Nyaman, Dompet Aman
-
Terpopuler: Es Gabus Terbuat dari Apa hingga Deretan Lipstik Paling Laris
-
5 Pilihan Lipstik di Bawah Rp50 Ribu, Meski Murah Tetap Nyaman dan Tahan Lama
-
5 Rekomendasi Sepatu Lokal Alternatif Veja, Murah Mulai Rp100 Ribuan
-
4 Cushion Wardah untuk Tutupi Kerutan Lansia Usia 50 Tahun ke Atas