Lifestyle / Food & Travel
Jum'at, 13 Februari 2026 | 12:12 WIB
Ilustrasi pemilihan perlengkapan kamar tidur di hotel. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Kualitas tempat tidur dan linen adalah inti produk hotel yang sangat memengaruhi kepuasan dan retensi tamu.
  • Pertumbuhan industri akomodasi meningkatkan permintaan perlengkapan kamar tidur yang harus tahan lama serta konsisten kualitasnya.
  • PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk melakukan ekspansi B2B dengan memenuhi pesanan perlengkapan kamar tidur untuk jaringan RedDoorz.

Suara.com - Salah satu pengalaman menginap di hotel yang paling diingat tamu adalah perlengkapan tidur, termasuk kasur. Entah itu karena empuknya pas, spreinya halus, atau bantalnya bikin susah move on.

Di industri hospitality, pengalaman tidur ternyata bukan hal remeh. Justru di situlah reputasi sebuah akomodasi dipertaruhkan.

Tamu Datang Boleh Sekali, Tapi Tidur Harus Bikin Balik Lagi

Dalam dunia perhotelan dan jaringan penginapan modern, kamar bukan sekadar ruang transit. Ia adalah “produk utama”. Dan inti dari kamar? Tempat tidur.

Menurut pelaku industri, keluhan tamu paling sering bukan soal dekorasi atau warna dinding, tapi kualitas kasur, sprei yang kasar, atau bed cover yang terasa panas. Karena itu, pengelola hotel kini makin selektif dalam memilih perlengkapan kamar tidur.

Kualitas bahan, daya tahan setelah ratusan kali pencucian, hingga tampilan visual yang tetap rapi jadi pertimbangan utama.

Industri Hospitality Makin Tumbuh, Kebutuhan Linen Ikut Melonjak

Pertumbuhan sektor akomodasi, terutama jaringan hotel budget dan menengah, membuat kebutuhan linen kamar meningkat signifikan. Setiap kamar bisa mengalami rotasi penggunaan sangat cepat, terutama di kota-kota besar dan destinasi wisata.

Artinya, perlengkapan seperti sprei dan bed cover bukan cuma harus nyaman, tapi juga tahan lama dan konsisten kualitasnya.

Baca Juga: Eksekusi Hotel Sultan Tinggal Menghitung Hari, Karyawan dan Penyewa Diminta Tenang

Di sinilah peluang business-to-business (B2B) di sektor hospitality makin terbuka. Produsen perlengkapan kamar tidur tak lagi hanya menyasar pasar ritel, tapi juga memperkuat lini korporasi.

Salah satunya dilakukan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk yang baru-baru ini memenuhi permintaan jaringan akomodasi RedDoorz untuk penyediaan perlengkapan kamar tidur melalui skema purchase order (PO). Tahap awal kerja sama difokuskan di wilayah Sumatera, seiring kebutuhan operasional properti di kawasan tersebut.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi nasional perusahaan dalam memperkuat penetrasi pasar hospitality.

Dari Ritel ke Hospitality: Adaptasi yang Tak Bisa Setengah-setengah

Berbeda dengan pasar ritel, kebutuhan sektor hospitality punya standar tersendiri. Selain produk harus nyaman untuk berbagai tipe tamu, juga harus tahan cuci berkali-kali serta mudah dirawat.

PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk, produsen Soraya Bedsheet yang berdiri sejak 2001, kini memperkuat transformasi bisnisnya dari pasar ritel menuju sektor korporasi dan hospitality. Dengan dua fasilitas produksi dan delapan gerai di Sumatera, perusahaan terus meningkatkan kapasitas untuk menjawab permintaan pasar nasional.

Direktur Utama PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk, Rizet Ramawi, menyebut pemenuhan permintaan dari RedDoorz menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkuat posisi dalam rantai pasok industri hospitality.

Karena Tidur yang Nyaman Itu Investasi, Bukan Pelengkap

Di era review online dan rating digital, satu komentar soal “kasurnya nggak enak” bisa berdampak besar. Sebaliknya, pengalaman tidur yang menyenangkan bisa jadi alasan tamu kembali atau merekomendasikan ke orang lain.

Bagi pelaku usaha hospitality, investasi pada perlengkapan kamar tidur bukan lagi sekadar kebutuhan operasional, tapi strategi mempertahankan loyalitas pelanggan.

Karena pada akhirnya, tamu mungkin datang karena lokasi atau harga. Tapi mereka akan kembali karena merasa nyaman — dan itu sering kali dimulai dari tempat tidur yang tepat.

Load More