Suara.com - Pekan ini masyarakat Tionghoa merayakan Imlek 2026. Pada tahun Kuda Api yang dipercaya sebagai tahun penuh keberuntungan, masyarakat Tionghoa menyimpan banyak harapan.
Rasanya kurang afdol apabila Imlek tak dimeriahkan dengan kue keranjang. Sejarah kue keranjang pun banyak dikulik karena lekat dengan tradisi masyarakat Tionghoa.
Kue keranjang merupakan salah satu sajian khas yang hampir selalu hadir dalam perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kue berbentuk bulat, berwarna cokelat keemasan, dengan tekstur lengket dan rasa manis ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol tradisi, doa, dan harapan yang telah diwariskan selama ribuan tahun.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue keranjang dikenal dengan nama nian gao. Secara harfiah, nian berarti “tahun” dan gao berarti “kue”, tetapi pelafalannya mirip dengan kata yang bermakna “lebih tinggi” atau “meningkat”.
Dari permainan makna inilah lahir filosofi bahwa menyantap kue keranjang adalah doa agar kehidupan di tahun yang baru menjadi lebih baik, rezeki meningkat, serta derajat dan keberuntungan semakin tinggi.
Sejarah kue keranjang diyakini bermula di wilayah Tiongkok kuno. Dalam catatan sejarah dan cerita rakyat, nian gao sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, bahkan sebelum masehi.
Pada awalnya, kue ini dibuat sebagai persembahan kepada para dewa dan leluhur menjelang pergantian tahun. Masyarakat agraris kala itu menggantungkan hidup pada hasil panen, sehingga beras ketan—bahan utama kue keranjang—menjadi simbol kemakmuran dan rasa syukur.
Salah satu legenda populer menyebutkan bahwa kue keranjang digunakan untuk “menyuap” Dewa Dapur. Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, Dewa Dapur akan naik ke langit menjelang Tahun Baru Imlek untuk melaporkan perilaku manusia kepada Kaisar Langit.
Dengan memberikan kue keranjang yang lengket dan manis, diharapkan mulut sang dewa “melekat” sehingga hanya hal-hal baik yang disampaikan, atau setidaknya laporan buruk menjadi sulit terucap.
Baca Juga: Tak Hanya Angpao, Ini 5 Inspirasi Kado Imlek yang Penuh Makna
Seiring waktu, fungsi kue keranjang berkembang. Dari yang semula hanya sebagai sesaji ritual, kue ini kemudian menjadi hidangan keluarga dan simbol kebersamaan.
Proses pembuatannya yang memerlukan kesabaran—mulai dari merendam beras ketan, menggilingnya menjadi tepung, mencampurnya dengan gula, hingga mengukus dalam waktu lama, mencerminkan nilai ketekunan dan keharmonisan. Tak heran, kue keranjang kerap dibuat dan dinikmati bersama keluarga besar menjelang Imlek.
Masuknya budaya Tionghoa ke Nusantara membawa serta tradisi kue keranjang. Di Indonesia, kue ini mengalami penyesuaian, baik dari segi rasa maupun cara penyajian. Jika di Tiongkok kue keranjang sering dikukus ulang atau dimakan langsung, di Indonesia kue ini kerap diolah kembali, misalnya digoreng dengan balutan telur atau dijadikan campuran hidangan lain. Meski demikian, makna simbolisnya tetap terjaga.
Bentuk kue keranjang yang bulat juga memiliki arti tersendiri. Lingkaran melambangkan keutuhan, persatuan, dan kelanggengan. Teksturnya yang lengket dimaknai sebagai perekat hubungan antaranggota keluarga agar tetap rukun dan saling terhubung. Sementara itu, rasa manisnya menjadi harapan agar kehidupan di tahun mendatang dipenuhi kebahagiaan.
Pada era modern, kue keranjang tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat Tionghoa. Ia telah menjadi bagian dari kekayaan kuliner lintas budaya di Indonesia. Banyak orang menantikan kehadirannya setiap awal tahun sebagai penanda suasana Imlek yang khas. Bahkan, kue keranjang kini mudah ditemukan baik di pasar tradisional maupun toko modern menjelang perayaan tersebut.
Pada akhirnya, sejarah kue keranjang adalah kisah tentang bagaimana sebuah makanan sederhana mampu bertahan lintas zaman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Waspada Godzilla El Nino! Ini Cara Tepat Pakai Sunscreen Agar Kulit Tidak Gosong
-
Kenapa Harga Plastik Naik? Ternyata Ini 'Biang Kerok' di Balik Layar
-
Apakah Sunscreen Bisa Memutihkan Wajah? Ini 6 Rekomendasi Terbaik Bikin Kulit Glowing
-
Apa Bedanya Jumat Agung dan Paskah? Bukan Hari Biasa, Ini Maknanya
-
6 Shio Paling Hoki pada 3 April 2026, Siapa Saja yang Beruntung Besok?
-
3 Bedak Tabur Wardah untuk Kulit Sawo Matang agar Makeup Tidak Abu-Abu
-
Diklaim Ramah Lingkungan, Ekowisata Justru Berisiko Gagal Redam Emisi Karbon Global: Mengapa?
-
Skincare Glad2Glow untuk Umur Berapa? Cek Panduan Lengkapnya di Sini
-
5 Bedak Murah yang Bagus dan Aman: Cocok untuk Sehari-hari, Mulai Rp20 Ribuan
-
Apakah SNBP Itu Beasiswa? Cek Penjelasan Lengkapnya Supaya Tidak Kaget