Lifestyle / Komunitas
Rabu, 18 Februari 2026 | 13:36 WIB
Ilustrasi penderita diabetes memeriksa gula darah. (Foto oleh PhotoMIX Company dari Pexels)
Baca 10 detik
  • Perubahan pola makan dan metabolisme selama belasan jam menuntut kesiapan fisik penderita diabetes.
  • Namun bukan berarti penderita diabetes tak bisa optimal berpuasa sebulan penuh.
  • Pemilihan jenis karbohidrat yang lebih selektif jadi kunci. 

Suara.com - Bagi penderita diabetes, tantangan yang dihadapi saat puasa Ramadan tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menjaga keseimbangan kadar glukosa dalam tubuh.

Perubahan pola makan dan metabolisme selama belasan jam menuntut kesiapan fisik dan pengetahuan yang mumpuni agar ibadah tetap lancar tanpa risiko komplikasi.

Mengutip dari laman resmi American Diabetes Association (ADA), pengelolaan diabetes selama berpuasa harus dilakukan secara individual dan sangat bergantung pada kategori risiko pasien.

Tanpa manajemen yang tepat, penderita diabetes berisiko mengalami hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah), hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), hingga dehidrasi berat.

Lantas, bagaimana langkah-langkah aman agar penderita diabetes tetap bisa menjalankan puasa dengan optimal? Berikut panduan lengkapnya.

1. Lakukan Konsultasi Medis Pra-Ramadan

Langkah paling awal dan terpenting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan setidaknya 4 hingga 8 minggu sebelum Ramadan dimulai.

Melansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), penderita diabetes disarankan untuk melakukan screening risiko guna menentukan apakah kondisi tubuh mereka memungkinkan untuk berpuasa.

Dokter biasanya akan menyesuaikan dosis obat-obatan atau jenis insulin yang digunakan. Hal ini penting karena risiko hipoglikemia meningkat drastis jika dosis obat yang dikonsumsi saat sahur sama dengan dosis harian di luar bulan puasa.

2. Strategi Nutrisi saat Sahur dan Berbuka

Kunci utama keberhasilan puasa bagi diabetisi terletak pada apa yang ada di piring mereka. Pola makan harus tetap mengikuti prinsip gizi seimbang namun dengan pemilihan jenis karbohidrat yang lebih selektif. 

Baca Juga: Boleh Buka Puasa di KRL Saat Ramadan 1447 H, Ini Aturan dari KAI Commuter

  • Pilih Karbohidrat Kompleks saat Sahur: Konsumsilah makanan dengan indeks glikemik rendah seperti nasi merah, oat, atau gandum utuh. Karbohidrat jenis ini melepaskan energi secara perlahan, sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama selama berpuasa.
  • Hindari "Balas Dendam" saat Berbuka: Penderita diabetes sebaiknya membatasi asupan gula sederhana dan lebih memilih kurma dalam jumlah terbatas (1-2 butir) serta air putih untuk membatalkan puasa. Setelah itu, makanlah dengan porsi kecil tapi sering guna menghindari lonjakan gula darah mendadak (postprandial hyperglycemia).

3. Pantau Kadar Gula Darah secara Berkala

Banyak orang khawatir bahwa menusukkan jarum ke jari untuk cek gula darah akan membatalkan puasa. Namun, para ulama dan ahli medis sepakat bahwa pengecekan gula darah secara mandiri (BGM) tidak membatalkan puasa dan justru sangat dianjurkan.

Lakukan pengecekan minimal 3-4 kali sehari, yakni saat bangun tidur, tengah hari, sebelum berbuka, dan dua jam setelah berbuka. Jika Anda menggunakan Continuous Glucose Monitoring (CGM), pemantauan akan jauh lebih mudah dan akurat dalam mendeteksi tren penurunan atau kenaikan gula darah secara real-time.

4. Menjaga Hidrasi dan Aktivitas Fisik

Dehidrasi adalah risiko nyata, terutama di iklim tropis seperti Indonesia. Pastikan untuk mencukupi asupan cairan minimal 8 gelas sehari dengan pola 2-4-2, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas antara makan malam dan sebelum tidur, serta dua gelas saat sahur.

Hindari minuman berkafein seperti kopi atau teh pekat saat sahur karena bersifat diuretik yang justru mempercepat keluarnya cairan dari tubuh.

Untuk aktivitas fisik, tetaplah bergerak namun hindari olahraga intensitas tinggi saat matahari sedang terik. Jalan santai atau melakukan salat Tarawih sudah dianggap sebagai aktivitas fisik yang cukup untuk menjaga metabolisme tubuh.

5. Kapan Harus Segera Membatalkan Puasa?

Penderita diabetes harus memiliki keberanian untuk membatalkan puasa demi keselamatan nyawa jika muncul tanda-tanda bahaya.

Merujuk pada konsensus yang diterbitkan oleh International Diabetes Federation (IDF), penderita diabetes wajib segera berbuka jika:

  • Kadar gula darah berada di bawah 70 mg/dL (Hipoglikemia).
  • Kadar gula darah berada di atas 300 mg/dL (Hiperglikemia).
  • Muncul gejala pusing hebat, keringat dingin, gemetar, atau kebingungan (disorientasi).

Puasa bagi penderita diabetes bukanlah hal yang mustahil, namun memerlukan disiplin tinggi dan perencanaan medis yang matang.

Dengan konsultasi dokter yang tepat, pemantauan gula darah yang disiplin, dan pengaturan nutrisi yang bijak, penderita tetap dapat meraih keberkahan Ramadan tanpa harus mengorbankan kesehatan.

Load More