Lifestyle / Food & Travel
Senin, 16 Maret 2026 | 13:05 WIB
Ilustrasi mudik lebaran (Freepik/odua)

Jika memang kondisi perjalanan tidak berat, maka kebanyakan orang memilih untuk tetap berpuasa. Namun jika perjalanan terasa berat dan dapat mengganggu kondisi fisik, maka seorang musafir diperbolehkan berbuka.

Di kondisi tertentu, tidak berpuasa lebih dianjurkan agar tidak menimbulkan kesulitan atau membahayakan diri.

Dalam konteks modern, hal ini bisa mengacu pada perjalanan mudik yang dilakukan dengan kendaraan sendiri.

Jika puasa dipaksakan, maka bisa jadi kondisi fisik menurun dan justru meningkatkan risiko kecelakaan dalam perjalanan.

Kondisi ini yang kemudian dapat memberikan keringanan atas kewajiban puasa yang dilakukan.

Hikmah Keringanan Puasa bagi Musafir

Sebenarnya keringanan bagi musafir ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang penuh dengan kemudahan.

Syariat yang ada diturunkan tidak untuk memberatkan manusia, namun untuk memberikan kemudahan dalam menjalankan kehidupan beragama.

Keringanan ini mengajarkan keseimbangan antara menjalankan ibadah dan menjaga kondisi fisik. Selama berpuasa, Anda tidak dianjurkan memaksakan diri jika kondisi perjalanan dapat menimbulkan kesulitan yang berat.

Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Baqarah Ayat 185 yang berbunyi, "Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu."

Baca Juga: 1 Syawal 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwal Sidang Isbat Penentuan Lebaran

Itu tadi sedikit penjelasan tentang berapa jarak perjalanan boleh tidak puasa yang disarankan. Semoga bermanfaat!

Kontributor : I Made Rendika Ardian

Load More