- Nastar bukan asli Indonesia, melainkan adaptasi kue pie dari Belanda yang disesuaikan iklim tropis.
- Nama nastar berasal dari bahasa Belanda "Ananas" dan "Tart", bermakna kue tart rasa nanas.
- Chef Yongki Gunawan menyebut nastar bukan kue kering karena teksturnya yang lembut dan lembap.
Suara.com - Momen Lebaran 2026 sebentar lagi akan tiba. Berbicara soal Hari Raya Idulfitri di Indonesia, tentu rasanya tidak lengkap tanpa membahas primadona meja tamu: Kue Nastar.
Kudapan bertekstur lembut dengan cita rasa manis, gurih, dan aroma butter yang wangi ini selalu menjadi incaran pertama saat bersilaturahmi.
Ciri khasnya sangat ikonik, yakni berwarna coklat kekuningan mengkilap dengan isian selai nanas yang menggugah selera.
Saking populernya, nastar kini juga menjadi hidangan wajib di hari raya lain seperti Imlek dan Natal.
Namun, di balik kepopulerannya yang sangat lekat dengan budaya Indonesia, tahukah Anda bahwa kue ini sebenarnya menyimpan sejarah yang mengejutkan? Mari kita bongkar asal-usulnya!
Bukan Asli Indonesia, Begini Sejarah Uniknya
Banyak yang mengira nastar adalah resep turun-temurun asli Nusantara. Faktanya, jika ditelusuri sejarahnya, kudapan legit ini justru dibawa oleh orang-orang Belanda pada masa kolonial.
Menurut catatan dari Indonesian Chef Association (ICA), nama "Nastar" sejatinya berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Belanda, yaitu 'Ananas' yang berarti nanas, dan 'Tart' atau 'Taartjes' yang berarti kue tart.
Jadi, secara harfiah, nastar adalah "Kue Tart Nanas". Uniknya, jika kue tart pada umumnya berukuran besar, nastar adalah versi mininya yang bisa dinikmati dalam satu kali suap.
Baca Juga: Puluhan Ribu Kendaraan Padati Jalur Nagreg Jelang Mudik Lebaran
Di luar negeri, kue ini lebih dikenal dengan sebutan pineapple tarts atau pineapple nastar roll.
Kenapa Harus Nanas? Ini Alasan Cerdas di Baliknya
Resep awal nastar sebenarnya terinspirasi dari orang-orang Eropa yang terbiasa membuat kue pie loyang besar dengan isian buah-buahan subtropis seperti apel, blueberry, atau strawberry.
Saat orang Belanda menetap di Indonesia, mereka ingin melestarikan tradisi membuat pie tersebut.
Namun, mereka menghadapi satu kendala besar: buah-buahan seperti apel dan blueberry sangat sulit ditemukan di negara tropis saat itu.
Akhirnya, mereka memutar otak dan mengganti isian tersebut dengan buah nanas, yang tumbuh subur dan melimpah di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan