Lifestyle / Komunitas
Kamis, 19 Maret 2026 | 12:25 WIB
Kajian Ramadan hingga Konser Religi Kini Bisa Dinikmati di Roblox. (dok. Neo Coffee)
Baca 10 detik
  • Buat Gen Z dan Gen Alpha, cara mengisi waktu jelang berbuka kini mulai bergeser ke dunia yang lebih digital.
  • Bukan cuma scroll media sosial, tapi juga “nongkrong” di metaverse seperti Roblox—platform yang kini berkembang jadi ruang interaksi, hiburan, bahkan refleksi diri.
  • Acara ini menunjukkan pergeseran Gen Z dan Alpha mengisi waktu jelang berbuka ke ruang interaksi digital metaverse.

Suara.com - Ngabuburit biasanya identik dengan berburu takjil atau sekadar jalan sore. Tapi buat Gen Z dan Gen Alpha, cara mengisi waktu jelang berbuka kini mulai bergeser ke dunia yang lebih digital. Bukan cuma scroll media sosial, tapi juga “nongkrong” di metaverse seperti Roblox—platform yang kini berkembang jadi ruang interaksi, hiburan, bahkan refleksi diri.

Melihat perubahan ini, Neo Coffee menghadirkan pendekatan yang cukup unik di Ramadan 2026. Lewat kampanye #FlipRamadanLo, brand kopi instan dari WINGS Group ini menggelar Kajian Ramadan hingga konser religi langsung di Roblox, tepatnya di map AHQUOTE Land. Program ini berlangsung dari 28 Februari hingga 12 Maret 2026, dan jadi salah satu contoh bagaimana ruang virtual bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih bermakna.

Bukan sekadar gimmick, konten yang dihadirkan juga dekat dengan realitas anak muda. Salah satu sesi yang paling menarik adalah kajian bersama Ustadz Wajdi Azim yang mengangkat topik “Validasi Digital vs. Nilai Diri”—isu yang relevan di tengah kebiasaan membandingkan diri lewat likes, views, dan komentar di media sosial.

Lewat kajian ini, peserta diajak untuk melihat ulang makna nilai diri yang sering kali terdistorsi oleh dunia digital. Bahwa tidak semua hal perlu divalidasi secara online, dan bahwa ketenangan justru datang saat seseorang bisa menerima “warna hidupnya” sendiri tanpa terus membandingkan dengan orang lain.

"Di era digital ini, kita  sering terjebak dalam perlombaan mencari 'validasi digital' lewat likes, views, atau komentar di media sosial sampai lupa bahwa nilai diri kita yang sesungguhnya ada pada ketulusan hati, bukan pada angka di layar. Jangan sampai kebaikan yang dilakukan hanya demi pengakuan manusia lewat konten digital karena hasilnya bisa berubah menjadi riya. Dalam Islam, setiap orang memiliki takdir, kemampuan, dan jalan yang sudah Allah tetapkan. Ketika kita berani menjalani “warna” hidup kita sendiri tanpa terus membandingkan dengan orang lain, kita akan lebih mudah menemukan ketenangan dan tujuan hidup. Karena itu, mari bangun nilai diri di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Sebab validasi dari Allah adalah satu-satunya yang abadi dan benar-benar menenangkan jiwa," ujar Ustadz Wajdi Azim.

Suasana Ramadan di dunia virtual ini juga terasa semakin lengkap dengan kehadiran konser Haddad Alwi. Penyanyi religi yang sudah lama dikenal ini membawa nuansa syahdu ke dalam Roblox—membuktikan bahwa teknologi tidak mengurangi kedalaman pesan, justru bisa jadi medium baru yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Menariknya, pengalaman ini juga dibuat interaktif. Neo Coffee membagikan ribuan Robux sebagai bentuk apresiasi untuk peserta yang aktif mengikuti kajian. Responsnya pun cukup positif, terlihat dari antusiasme warganet di media sosial yang ikut meramaikan sesi kajian virtual ini.

Di balik semua keseruan digital ini, Neo Coffee tetap membawa identitasnya sebagai teman momen Ramadan. Dengan varian seperti Tiramisu, Moccachino, hingga Caramel Macchiato, brand ini ingin jadi “mood booster” saat sahur atau berbuka—melengkapi pengalaman Ramadan yang kini tak lagi terbatas ruang fisik.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: cara anak muda menjalani Ramadan terus berevolusi. Dari masjid ke layar, dari dunia nyata ke metaverse—tanpa kehilangan esensi refleksi dan kebersamaan.

Baca Juga: Ngabuburit Anti-Mainstream: Mandi Bola dan Pentingnya Penuhi Kebutuhan Bermain Bagi Anak Yatim

Load More