Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 20 Maret 2026 | 09:02 WIB
ilustrasi sungkem (Google Gemini)
Baca 10 detik
  • Tradisi sungkem saat Lebaran adalah ritual berlutut untuk memohon maaf tulus kepada orang yang lebih tua.
  • Permintaan maaf efektif memerlukan persiapan niat spesifik dan penyampaian yang jelas.
  • Setelah sungkem, perubahan nyata dan doa syukur harus ditunjukkan sebagai bukti keikhlasan permintaan maaf.

Suara.com - Sungkem sudah menjadi tradisi Jawa yang penuh makna, terutama dilakukan saat Lebaran. Dalam posisi berlutut sambil mencium tangan orang yang lebih tua, momen ini bukan sekadar ritual, melainkan kesempatan emas untuk menyampaikan permintaan maaf yang benar-benar tulus.

Banyak orang hanya mengucapkan kata-kata tanpa hati yang ikhlas, sehingga maafnya terasa formal belaka. Agar sungkem kamu bermakna dan menyentuh hati, berikut 10 cara menyampaikan permintaan maaf yang tulus saat sungkem.

1. Persiapkan niat tulus sebelum berlutut

Sebelum mendekat, tarik napas dalam dan renungkan kesalahan Anda secara spesifik.

Jangan hanya “maaf ya, Bu”, tapi ingatkan diri sendiri: “Saya pernah membantah dan menyakiti hati beliau”.

Niat yang jernih akan terpancar dari mata dan nada suara kamu.

2. Pilih waktu yang tenang dan pribadi

Hindari sungkem saat ramai atau orang lain sedang menunggu. Tunggu momen setelah semua orang selesai, atau saat hanya ada kamu berdua.

Suasana tenang membuat orang tua lebih fokus mendengar permintaan maaf Anda.

Baca Juga: 35 Ucapan Sungkem Lebaran Bahasa Indonesia Penuh Makna, Siap Bikin Hati Bergetar

3. Mulai dengan sembah yang penuh hormat

Berlututlah dengan lutut kanan lebih dulu, badan tegak tapi kepala sedikit menunduk. Pegang tangan orang tua dengan kedua tangan kamu sambil mencium punggung tangannya.

Gerakan ini menunjukkan kerendahan hati yang lebih kuat daripada kata-kata.

4. Sebutkan kesalahan secara jelas dan spesifik

Jangan pakai kalimat umum. Katakan: “Saya minta maaf karena kemarin pernah membentak Ibu saat diminta tolong membersihkan rumah. Itu sangat tidak sopan.”

Pengakuan spesifik membuktikan kamu benar-benar sadar dan menyesal.

5. Ungkapkan penyesalan dengan emosi yang terukur

Suara kamu boleh bergetar, mata boleh berkaca-kaca, tapi jangan berlebihan hingga terlihat dramatis.

Kalimat sederhana seperti “Hati saya sakit sekali mengingat itu, Bu” akan terasa lebih tulus daripada tangisan berlebih.

6. Janjikan perubahan nyata

Tambahkan komitmen konkret: “Mulai hari ini saya akan selalu menjawab panggilan Ibu dengan sopan dan membantu pekerjaan rumah tanpa diminta.”

Janji yang realistis menunjukkan bahwa maaf kamu bukan sekadar ucapan kosong.

7. Dengarkan respons dengan sabar

Setelah mengucapkan maaf, diamlah dan dengarkan apa yang dikatakan orang tua. Mungkin beliau akan memberi nasihat atau sekadar mengusap kepala kamu.

Kesabaran ini adalah bagian penting dari keikhlasan.

8. Gunakan bahasa Jawa atau dialek lokal jika memungkinkan

Jika orang tua kamu terbiasa berbahasa Jawa, ucapkan: “Kulo nyuwun sepuh, mboten badhe ngulangi kesalahan kulo malih.

Penggunaan bahasa ibu membuat permintaan maaf terasa lebih dekat dan menghormati akar budaya.

9. Tunjukkan permintaan maaf melalui tindakan lanjutan

Setelah sungkem, buktikan dengan perbuatan. Bantu masak, ajak ngobrol, atau kirim pesan pagi hari.

Orang tua lebih percaya pada perubahan perilaku daripada kata-kata saja.

10. Akhiri dengan doa dan ucapan syukur

Tutup sungkem dengan: “Terima kasih sudah mau memaafkan saya. Semoga Ibu selalu sehat dan panjang umur.”

Doa singkat ini menunjukkan bahwa kamu tidak hanya meminta, tapi juga mendoakan kebaikan untuk mereka.

Dengan menerapkan kesepuluh cara di atas, sungkem kamu bukan lagi sekadar tradisi tahunan, melainkan momen penyembuhan hubungan yang mendalam.

Load More