- Pakar CX Yuliana Agung menyatakan bahwa perusahaan tahun 2026 wajib mengutamakan layanan tanpa hambatan demi memenuhi ekspektasi konsumen.
- Pelanggan kini semakin selektif dan cenderung berpindah merek jika perusahaan gagal memberikan pengalaman layanan yang cepat serta mudah.
- Pelaku bisnis harus mengintegrasikan teknologi dan mengukur kualitas layanan melalui standar baru untuk menjamin loyalitas jangka panjang pelanggan.
Suara.com - Banyak pelaku usaha, atau calon pengusaha, masih berpikir bahwa kunci memenangkan hati pelanggan adalah menciptakan pengalaman yang “wow”. Padahal, menurut para pakar, pola ini sudah mulai bergeser. Di 2026, pelanggan justru menginginkan hal yang lebih sederhana: layanan yang mulus, cepat, dan tanpa hambatan.
Perubahan ini mencerminkan naiknya standar ekspektasi konsumen, terutama di era digital yang serba instan. Pengalaman pelanggan atau customer experience (CX) kini bukan lagi pembeda, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar.
Pakar Customer Experience (CX) Indonesia sekaligus Co-Founder Heracx.ai, Yuliana Agung, MBA, menjelaskan bahwa perusahaan harus mengubah cara pandang mereka dalam melayani pelanggan.
“Dulu kita berfokus menciptakan momen ‘WOW’ sebagai pembeda. Namun di tahun 2026, CX adalah sebuah ekspektasi dasar. Target utama perusahaan saat ini harus bergeser dari sekadar memuaskan menjadi zero friction—menghilangkan semua hambatan agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang mulus dan tanpa drama,” ujarnya dalam acara CXtraordinary Evening di Jakarta beberapa waktu lalu.
Pelanggan Makin Kritis dan Nggak Loyal
Data terbaru menunjukkan bahwa pelanggan kini semakin selektif. Sebanyak 90% konsumen bahkan bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman layanan yang lebih baik—naik dari 85% pada periode sebelumnya.
Namun di sisi lain, risiko kehilangan pelanggan juga semakin tinggi. Sekitar 95% konsumen tidak ragu untuk berpindah ke merek lain setelah mengalami pengalaman buruk. Artinya, satu kesalahan kecil dalam layanan bisa berdampak besar pada loyalitas.
Tak hanya itu, ekspektasi terhadap respons juga makin tinggi. Setidaknya separuh pelanggan berharap keluhan mereka ditangani maksimal dalam waktu satu minggu—bahkan lebih cepat di beberapa industri.
Apa yang Harus Diubah oleh Pengusaha?
Baca Juga: Daftar Pengusaha Rokok Dibidik KPK di Kasus Bea Cukai, dari Haji Her hingga Rokhmawan
Menurut Yuliana, ada beberapa perubahan pola pikir yang perlu segera diadopsi pelaku bisnis. Salah satunya adalah fokus pada keseluruhan perjalanan pelanggan (customer journey), bukan hanya di titik transaksi.
Selain itu, empati juga harus bisa diterapkan dalam skala besar, bukan sekadar pendekatan personal. Pengalaman yang diharapkan pelanggan saat ini adalah yang terasa ringan, tidak berbelit, dan minim usaha (effortless experience).
Pelaku usaha juga perlu lebih jeli dalam mengidentifikasi pain points atau titik masalah yang sering dialami pelanggan. Di saat yang sama, teknologi seperti AI mulai memainkan peran penting dalam menjaga keterlibatan (engagement) pelanggan secara konsisten.
Standar Baru dalam Menilai Layanan
Seiring perubahan ini, muncul juga pendekatan baru dalam mengukur kualitas layanan pelanggan. Penilaian tidak lagi hanya berdasarkan kepuasan, tetapi juga mencakup keterlibatan emosional, konsistensi layanan, hingga pengalaman digital.
Dalam konteks ini, diperkenalkan integrasi tiga indeks utama—ESEI, CCSEI, dan DIGICCXI—yang menjadi tolok ukur baru dalam menilai keberhasilan customer experience. Standar ini mendorong perusahaan untuk tidak hanya fokus pada transaksi, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap perusahaan yang berhasil menerapkan standar tersebut, turut diperkenalkan penghargaan khusus bagi brand dengan performa CX terbaik di berbagai dimensi.
Perubahan perilaku pelanggan ini jadi sinyal kuat bagi pelaku usaha: di tengah persaingan yang semakin ketat, pengalaman yang sederhana, cepat, dan tanpa hambatan justru bisa menjadi kunci utama untuk mempertahankan loyalitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Dari Kulit hingga Tekstil Ramah Lingkungan, Tren Fashion Masa Depan Makin Berkelanjutan
-
Wali Kota Solo Tegaskan Tak Toleransi Miras Ilegal, Empat Outlet Ditutup
-
Dari AI hingga Alat Diagnostik Presisi, Inovasi Teknologi Dorong Deteksi Penyakit Lebih Cepat
-
Watak Weton Rabu Pon Milik Presiden Prabowo Subianto, Simak Kelebihan dan Kekurangannya
-
BPS Ungkap Penjualan Truk hingga Pikap Melonjak 38,76%
-
Mendagri Siapkan Tiga Langkah Sebagai Solusi Operasional Gaji Pegawai Pemda
-
BRI Dukung Optimalisasi Dana SAL, Perkuat Penyaluran Kredit ke Sektor Produktif
-
Deposit Judi Online Piala Dunia 2026 Tembus Rp1 Triliun! QRIS Paling Banyak Disalahgunakan
-
Purbasari White Glow Body Serum Bisa Memutihkan Kulit? Cek Ulasan Pengguna
-
Meski Tampil Singkat, Mariano Peralta Ungkap Kesan Debut di Persib Bandung