Lifestyle / Female
Jum'at, 20 Maret 2026 | 09:42 WIB
ilustrasi mandi wajib (freepik/yanalya)
Baca 10 detik
  • Mandi wajib setelah haid merupakan kewajiban syar'i bagi muslimah.
  • Rukun utama mandi wajib ini meliputi niat spesifik dalam hati dan meratakan air suci ke seluruh tubuh tanpa penghalang.
  • Tata cara meliputi niat, wudhu, menyela rambut, mengguyur tubuh dari kanan ke kiri, serta membersihkan area tertentu dengan wewangian.

Suara.com - Dalam ajaran Islam, kebersihan jasmani dan rohani merupakan bagian penting dari iman. Salah satu bentuk penyucian diri yang wajib dilakukan oleh kaum muslimah adalah mandi wajib setelah haid berakhir.

Saat darah haid sudah berhenti total, seorang muslimah harus segera mandi wajib agar terbebas dari hadas besar dan dapat kembali melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, serta hubungan suami-istri dengan sah.

Mandi wajib setelah haid bukan sekadar membersihkan badan secara fisik, melainkan juga mensucikan diri secara syar’i.

Tanpa mandi wajib, ibadah seorang wanita tidak diterima. Oleh karena itu, memahami bacaan niat, syarat, rukun, serta tata cara yang benar menjadi sangat penting.

Niat merupakan syarat utama yang membedakan mandi wajib dengan mandi biasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat dilakukan di dalam hati saat mulai mengguyurkan air ke tubuh.

Bacaan Niat Mandi Wajib setelah Haid

Berikut lafal niat yang dianjurkan menurut ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i yang banyak diikuti umat Islam Indonesia:

Baca Juga: Niat dan Tata Cara Mandi Sebelum Sholat Idulfitri, Perhatikan Urutannya

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ مِنَ الْحَيْضِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu ghusla liraf’il hadatsil akbari minal haidhi fardhan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar disebabkan haid secara fardhu karena Allah Ta’ala.”

Bacaan ini bisa diucapkan dalam hati atau dilafalkan dengan suara pelan.

Beberapa sumber fiqih menyebutkan variasi yang lebih ringkas seperti “Nawaitul ghusla liraf’i hadatsil haidil lillahi ta’ala”, namun versi lengkap di atas lebih sempurna karena menyebutkan “fardhan” (wajib) dan “minal haidhi” secara spesifik.

Syarat dan Rukun Mandi Wajib

Syarat mandi wajib adalah air yang digunakan harus suci dan menyucikan (air mutlak), tidak ada penghalang air seperti cat kuku tebal, dan badan dalam keadaan tidak ada najis yang melekat.

Sedangkan rukunnya hanya dua: (1) niat, dan (2) meratakan air ke seluruh tubuh, termasuk pangkal rambut, sela-sela jari, telinga dalam, dan lipatan kulit. Jika salah satu rukun tidak terpenuhi, mandi dianggap tidak sah.

Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Sunnah

Berikut tata cara mandi wajib setelah haid yang sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Membaca niat di dalam hati saat akan mulai mengguyur air.
  2. Mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
  3. Membersihkan kemaluan dan dubur dari sisa darah atau najis dengan tangan kiri.
  4. Mencuci tangan lagi hingga bersih.
  5. Berwudhu seperti wudhu untuk shalat (termasuk berkumur dan istinsyaq).
  6. Menyela-nyela pangkal rambut dengan jari yang basah agar air masuk ke kulit kepala.
  7. Menyiramkan air ke kepala sebanyak tiga kali sambil menggosok dengan kuat (khusus haid, disunnahkan menggosok lebih kuat agar air sampai ke akar rambut).
  8. Mengguyur seluruh tubuh mulai dari sisi kanan lalu kiri, memastikan air mengalir ke setiap bagian termasuk lipatan tubuh.
  9. Khusus setelah haid, disunnahkan mengambil kapas atau kain bersih yang diberi minyak kasturi atau parfum, lalu mengusap bekas darah di kemaluan untuk menghilangkan bau (seperti yang diajarkan dalam hadits Asma’ binti Umais, HR. Bukhari dan Muslim).

Dalil dan Keutamaan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 222: “...Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub dengan menyiram kepala tiga kali dan mengguyur seluruh tubuh (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk haid, hadits Asma’ menambahkan penggunaan daun bidara dan mengusap farji dengan kain berminyak.

Mandi wajib setelah haid membawa banyak keutamaan: membersihkan diri dari hadas, mengembalikan kemampuan beribadah, serta mendekatkan diri kepada Allah.

Selain itu, secara kesehatan, mandi ini membantu menjaga kebersihan organ intim dan mencegah infeksi.

Doa Setelah Mandi

Setelah selesai, dianjurkan membaca doa:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj’alnii minat-tawwaabiina waj’alnii minal-mutathahhiriina.

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.”

Dengan memahami dan mengamalkan bacaan niat serta tata cara mandi wajib setelah haid ini, seorang muslimah dapat menjaga kesuciannya dengan sempurna. Semoga kita semua selalu diberi kemudahan untuk menjalankan ibadah dengan ikhlas dan sesuai sunnah.

Load More