Suara.com - Setelah perayaan Idulfitri usai, sebagian masyarakat, khususnya di Pulau Jawa masih memiliki satu tradisi yang tak kalah meriah, yaitu Lebaran Ketupat. “Lebaran” ini dirayakan di tanggal 8 Syawal, atau satu minggu setelah Idulfitri. Tahun ini, lebaran ketupat jatuh pada tanggal berapa?
Lebaran Ketupat dirayakan pada hari ke-8 bulan Syawal. Penentuan waktu ini bukan tanpa alasan. Lebaran Ketupat berkaitan erat dengan anjuran menjalankan puasa Syawal selama enam hari, yang biasanya dilakukan mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal.
Setelah menyelesaikan puasa tersebut, masyarakat kemudian merayakannya dengan Lebaran Ketupat pada hari berikutnya. Sebagai contoh, jika Idulfitri jatuh pada hari Senin, maka Lebaran Ketupat biasanya dirayakan pada hari Senin berikutnya, setelah rangkaian puasa Syawal selesai dilakukan.
Tahun ini, kemungkinan besar akan ada dua versi lebaran, yakni Muhammadiyah pada 20 Maret besok, dan pemerintah yang menetapkan lebaran kemungkinan pada 21 Maret.
Jika merayakan Idulfitri pada 20 Maret, maka lebaran ketupat akan jatuh pada 27 Maret. Namun, apabila memilih versi lebaran pada 21 Maret, lebaran ketupat bisa dirayakan pada 28 Maret.
Tradisi yang Berakar dari Dakwah Wali Songo
Lebaran Ketupat memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan dakwah para Wali Songo di Pulau Jawa. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan tradisi ini adalah Sunan Kalijaga, yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan ajaran Islam.
Melalui tradisi ketupat, ajaran Islam disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima masyarakat. Ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol filosofis yang mengandung pesan moral dan spiritual. Kata “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa sering diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Hal ini selaras dengan semangat Idulfitri, yaitu saling memaafkan dan kembali ke fitrah.
Lebaran Ketupat tidak bisa dilepaskan dari makna simbolik yang terkandung dalam bentuk dan bahan pembuatannya. Anyaman daun kelapa muda (janur) yang membungkus ketupat melambangkan kompleksitas kesalahan manusia.
Baca Juga: Kapan Puncak Arus Balik Lebaran 2026? Ini Prediksi dan Tips Hindari Macet
Sementara itu, ketika ketupat dibelah, terlihat nasi putih di dalamnya yang melambangkan kesucian hati setelah memohon maaf. Proses memasak ketupat yang cukup lama juga mencerminkan perjalanan spiritual manusia dalam mencapai kesabaran dan keikhlasan. Selain itu, bentuk ketupat yang saling terkait juga menggambarkan pentingnya hubungan sosial dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Perayaan Lebaran Ketupat biasanya diisi dengan berbagai kegiatan seperti silaturahmi, makan bersama, hingga acara adat di beberapa daerah. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya, masyarakat sering mengadakan kenduri atau selamatan dengan menyajikan ketupat dan lauk-pauk khas.
Di beberapa daerah pesisir, tradisi ini bahkan dirayakan dengan festival atau arak-arakan yang meriah. Hal ini menunjukkan bahwa Lebaran Ketupat bukan hanya tradisi keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Momen ini juga dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antarwarga, terutama setelah sebagian orang kembali dari kampung halaman usai mudik Idulfitri.
Di tengah perubahan gaya hidup menjadi lebih modern, Lebaran Ketupat tetap bertahan sebagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Meski tidak semua orang menjalankan puasa Syawal, banyak yang tetap merayakan Lebaran Ketupat sebagai bagian dari budaya dan kebersamaan.
Bahkan, pada era digital seperti sekarang, tradisi ini semakin dikenal luas melalui media sosial. Banyak orang membagikan momen Lebaran Ketupat mereka, mulai dari memasak ketupat hingga berkumpul bersama keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa Lebaran Ketupat bukan sekadar tradisi lama, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang terus beradaptasi dengan zaman.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Sambut HUT RI ke-81, PB ORADO Gelar Turnamen Bertajuk Piala Panglima TNI
-
Terancam Sanksi! FK UGM Investigasi dr. Elda Putri Soal Komentar Rendahkan Pasien BPJS
-
Tiket Pesawat Jakarta-Yogyakarta Rp890 Ribuan! Ini Daftar Promo untuk Liburan Hemat
-
Perang Timur Tengah Belum Goyahkan Ekspor RI, BPS Ungkap Mesin Pertumbuhan Ekonomi Masih Ngebut
-
Bukan Sekadar Tempat Transit, Wajah Baru Lounge Bandara Ini Setara Hotel Berbintang
-
Bahlil Beri Tugas Baru Lemigas Urus Impor Minyak dan LPG, Targetkan Pasokan Nasional Lebih Terjamin
-
Tunda Kenaikan Gaji Kepala Daerah! Korupsi Itu Soal Integritas, Bukan Kurang Penghasilan
-
Industri Kecantikan Indonesia Makin Bergairah, Inovasi dan Teknologi Jadi Kunci Persaingan
-
Dari Kulit hingga Tekstil Ramah Lingkungan, Tren Fashion Masa Depan Makin Berkelanjutan
-
Wali Kota Solo Tegaskan Tak Toleransi Miras Ilegal, Empat Outlet Ditutup