- BINUS University mendorong demokratisasi pengetahuan melalui kolaborasi global dengan institusi seperti Korean Institute of Information Technology.
- Penyebaran gagasan akademik diperkuat dengan menggandeng platform media, seperti podcast Endgame, agar lebih mudah diakses publik.
- Diskusi mengenai mobilitas talenta menekankan pentingnya *brain circulation* yang memberdayakan ekosistem nasional Indonesia.
Suara.com - Di era global yang semakin terhubung, tantangan dunia pendidikan tidak lagi sebatas menghasilkan riset berkualitas, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan tersebut dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Inilah esensi dari demokratisasi pengetahuan, sebuah upaya untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan publik agar gagasan tidak berhenti di ruang-ruang ilmiah, melainkan hidup dan berdampak nyata.
Langkah ini mulai terlihat nyata melalui inisiatif BINUS University yang aktif mendorong kolaborasi global sepanjang 2026. Melalui berbagai konferensi internasional, BINUS menghubungkan akademisi, industri, dan pembuat kebijakan dari Asia Tenggara hingga Asia Timur, termasuk Korea.
Salah satunya adalah ICOBAR 2026 yang digelar bersama Korean Institute of Information Technology, menghadirkan ratusan riset global yang membahas teknologi, bisnis, tata kelola, hingga keberlanjutan.
Namun lebih dari sekadar forum ilmiah, rangkaian ini menunjukkan arah baru bahwa pengetahuan harus relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Upaya mendekatkan akademik dengan publik semakin kuat ketika BINUS berkolaborasi dengan platform media seperti podcast Endgame yang diprakarsai oleh Gita Wirjawan.
Dalam kolaborasi ini, hadir pula Gi-Wook Shin dari Stanford University yang membahas isu penting seperti mobilitas talenta dan konsep brain circulation.
Diskusi ini tidak hanya menyasar kalangan akademisi, tetapi juga publik luas, menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat disampaikan secara lebih inklusif dan mudah diakses.
Wakil Rektor Riset dan Transfer Teknologi BINUS, Prof. Juneman Abraham, menekankan bahwa fenomena mobilitas talenta harus dilihat secara lebih konstruktif.
Baca Juga: Krisis Air Bikin Perempuan Kehilangan Akses Pendidikan, Bagaimana Hubungannya?
Ia menyatakan, fenomena seperti ‘Kabur Aja Dulu’ tidak bisa dilihat sekadar sebagai tren, tetapi juga sebagai refleksi dari kebutuhan akan ekosistem yang lebih mendukung.
"Yang perlu didorong bukan sekadar perpindahan talenta, tetapi brain circulation yang memberdayakan, agar talenta Indonesia tetap memiliki peran dan kontribusi bagi penguatan ekosistem nasional,” pungkasnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa ketika pengetahuan tersebar secara merata, talenta tidak hanya bergerak, tetapi juga membawa dampak balik bagi negara.
Dari perspektif global, Prof. Gi-Wook Shin melihat pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam membangun ekosistem akademik yang relevan.
“Saya melihat adanya tekad untuk membangun platform akademik yang relevan. Kolaborasi dalam forum seperti ini menjadi penting untuk mendorong pertukaran gagasan dan mendukung generasi muda di Indonesia,” ungkapnya.
Pernyataan ini memperkuat gagasan bahwa pertukaran ide tidak boleh eksklusif, melainkan harus terbuka dan melibatkan berbagai pihak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Produk Makanan Thailand Makin Diburu, Ternyata Ini yang Bikin Orang Ketagihan
-
Survei Ipsos 2026: Koneksi ke Platform Belanja Online Kini Jadi Alasan Orang Pilih Bank Digital
-
Bye-Bye Macet! Mengapa Filosofi 10 Minute City Living Jadi Kunci Kualitas Hidup Modern
-
Biar Muka Glowing Alami Pakai Apa? Ini Skincare Murah Viva yang Bisa Dicoba
-
3 Zodiak yang Kehidupannya akan Lebih Baik Setelah 13 Mei 2026, Waktunya Jemput Kebahagiaan!
-
Siap-Siap Kaya, 7 Shio Ini Mendadak Banjir Rejeki Tanpa Diduga pada Bulan Mei 2026
-
6 Shio Paling Beruntung dan Berlimpah Cuan Pada 14 Mei 2026
-
5 Skincare Laneige untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bisa Lawan Keriput hingga Garis Halus
-
Di Tengah Krisis Ikim, Mahasiswa Engineering Didorong Hadirkan Solusi Lingkungan Berkelanjutan
-
Pendidikan Aksa Uyun, Anak Soimah yang Sudah Jadi Direktur di Usia Muda