- Wisatawan domestik di Indonesia menjadi penggerak utama pariwisata pada 2025 dengan pangsa mencapai 48 persen dari total pemesanan.
- Perilaku wisatawan domestik menunjukkan tren pemesanan lebih spontan, masa tinggal lebih singkat, serta penurunan tingkat pembatalan hotel secara global.
- Distribusi pemesanan liburan kini semakin merata sepanjang tahun, memberikan peluang bagi pelaku industri hotel untuk meningkatkan inovasi pelayanan.
Suara.com - Pariwisata Indonesia tengah memasuki babak baru. Bukan lagi semata ditopang wisatawan mancanegara, kini justru wisatawan lokal tampil sebagai penggerak utama dan dampaknya terasa langsung pada meningkatnya minat menginap di hotel.
Data terbaru dari SiteMinder memperlihatkan bahwa tahun 2025 menjadi periode kebangkitan kuat perjalanan dalam negeri. Dalam laporan Hotel Booking Trends yang disusun dari lebih dari 130 juta pemesanan hotel, tercatat bahwa pangsa tamu domestik mencapai 48%, naik 5,6 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan proporsi wisatawan lokal tertinggi kedua di dunia setelah Kanada. Di sisi lain, pangsa tamu internasional menurun menjadi 52% dari sebelumnya 57% pada 2024.
Artinya, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, permintaan domestik dan internasional hampir berada di titik seimbang. Lonjakan ini selaras dengan pertumbuhan perjalanan domestik yang meningkat 19% sepanjang tahun.
Perubahan ini juga diikuti pergeseran perilaku wisatawan. Tingkat pembatalan hotel turun menjadi 11,38%, terendah secara global. Wisatawan juga kini lebih spontan, dengan waktu pemesanan rata-rata hanya 19 hari sebelum menginap, jauh di bawah rata-rata global 32 hari.
Menariknya, mayoritas perjalanan kini bersifat singkat. Sebanyak 80% pemesanan hotel di Indonesia adalah untuk satu malam saja, melampaui rata-rata global 74%. Sementara itu, tarif kamar rata-rata turun 9,38% menjadi Rp1.884.476, membuat perjalanan terasa lebih terjangkau.
Country Manager Fifin Prapmasari melihat fenomena ini sebagai peluang besar bagi industri perhotelan.
“Menurunnya jumlah pembatalan, pemesanan yang dilakukan semakin dekat dengan tanggal menginap, serta durasi tinggal yang lebih singkat mencerminkan semangat wisatawan lokal untuk menjelajahi negeri sendiri. Bagi hotel, hal ini membuka peluang baru,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tren ini memberi ruang bagi hotel untuk lebih inovatif dalam menarik tamu. Peningkatan permintaan untuk perjalanan domestik kata dia, memungkinkan penerapan harga berdasarkan kebutuhan dan kreativitas yang lebih besar terhadap penawaran lokal.
Baca Juga: Hemat BBM, Kemenimipas Terapkan WFH hingga Pangkas Perjalanan Dinas Mulai April 2026
"Hal ini memanfaatkan pengetahuan mendalam mereka tentang apa yang disukai dan dibutuhkan oleh wisatawan lokal untuk mempromosikan fasilitas hotel yang unik, sekaligus merancang berbagai penawaran yang menarik dan tidak hanya memaksimalkan pemasukan per tamu tetapi juga memberikan pengalaman menginap yang menyenangkan. Wisatawan domestik merupakan kekuatan yang signifikan,” jelasnya.
Tren Baru: Liburan Lebih Fleksibel dan Merata
Laporan SiteMinder juga menunjukkan bahwa musim liburan di Indonesia mulai berubah. Jika sebelumnya puncak wisata terpusat di Juli dan Agustus, kini distribusi permintaan lebih merata.
Juli tetap menjadi bulan dengan pangsa pemesanan tertinggi sebesar 9,36%, diikuti Agustus 9,31%. Namun, Juni mulai menunjukkan peningkatan menjadi 8,98%. Bahkan Januari mencatat lonjakan tertinggi secara tahunan, naik 15% menjadi 7,69%, didorong oleh libur panjang Tahun Baru dan perayaan Imlek yang lebih awal.
“Distribusi pemesanan yang lebih merata di pertengahan tahun memberikan gambaran tentang evolusi pola pemesanan yang sedang berlangsung. Wisatawan kini semakin strategis dalam merencanakan perjalanan, mencari suasana yang tidak terlalu ramai dan harga yang lebih baik,” tambah Prapmasari.
12 Sumber Pemesanan Teratas bagi Hotel di Indonesia
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT ke-81 RI: BRI Bersama Danantara Terus Mendukung Ekonomi Rakyat, Termasuk UMKM
-
Meski 4 Pasar Rusak, Pemerintah Jamin Warga NTT Tak Kelaparan
-
Persija Masuk Fase Panas TC Thailand, Shin Tae-yong Mulai Tentukan Pemain Pilihan
-
HUT ke-81 RI, BRI Dukung Danantara Senantiasa Perkuat Ekonomi Rakyat
-
Pengendara Motor di Deli Serdang Jadi Korban Begal, Paha Ditusuk, Motor hingga HP Raib
-
Review Novel Jejak Langkah: Ketika Pena Menjadi Senjata Perlawanan
-
Menembus Tembok Longsor: Drama Penyelamatan Ibu Hamil di Jantung Flores yang Terisolasi
-
RI Ditargetkan Bisa Swasembada 11 Komoditas Pangan dalam 3 Tahun
-
Green Energy Jadi Arah Baru Industri Maritim Indonesia
-
HUT ke-81 RI, BRI Perluas Dampak Ekonomi Lewat 8 Kontribusi bagi Negeri