Suara.com - Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Setiap provinsi memiliki berbagai spesies binatang dan tumbuhan yang khas.
Hingga saat ini, Indonesia memiliki sekitar 31.750 spesies flora dan sekitar 744.000 spesies fauna, sebagaimana disebutkan oleh Wakil Kepala BRIN, Prof. Amarullah Oktavian dalam sebuah artikel Universitas Gadjah Mada (6/4/2026).
Namun, keanekaragaman hayati tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan, salah satunya adalah ancaman dari spesies invasif asing. Spesies invasif bisa berupa tumbuhan, hewan, maupun organisme lain yang secara sengaja ataupun tidak sengaja memasuki lingkungan yang bukan habitat aslinya. Kehadiran spesies ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan berpotensi menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati.
Dilansir dari World Wide Fund for Nature (WWF) (6/4/2026), spesies invasif biasanya masuk ke sebuah lingkungan asing karena dibawa oleh manusia. S
elain itu, perubahan iklim juga menjadi salah satu penyebab perpindahan spesies ke wilayah yang tidak seharusnya mereka tempati.
Dampak dari Spesies Invasif
Spesies Invasif dapat diibaratkan seperti penjajahan terhadap suatu ekosistem karena dampaknya yang signifikan terhadap spesies lokal. Dampak yang ditimbulkan oleh spesies invasif cenderung besar, berbahaya, dan sulit dipulihkan. Dalam banyak kasus, mereka bisa menyebabkan kerusakan pada ekosistem yang baru mereka tempati.
Dilansir dari Natural History Museum (6/4/2026), spesies pendatang ini menyebabkan perubahan habitat dan mengurangi sumber daya serta makanan spesies lokal. Akibatnya, spesies lokal kesulitan bertahan hidup di habitatnya sendiri.
Selain itu, spesies invasif juga membawa parasit ataupun penyakit baru ke spesies setempat. Sama seperti manusia yang tidak memiliki antibodi terhadap virus atau penyakit baru, spesies lokal juga tidak memiliki pertahanan yang cukup terhadap penyakit atau virus baru. Sehingga spesies lokal rentan mengalami penurunan populasi.
Baca Juga: Statistik Teja Paku Alam di Bawah Mistar Gawang Gila! Rekor Kiper Persija Dilewati
Tidak hanya itu, terkadang para hewan setempat dijadikan mangsa oleh para spesies invasif asing yang membuat spesies lokal semakin langka.
Dampak lainnya tidak hanya dirasakan oleh keanekaragaman hayati, tetapi juga oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya hutan dapat terdampak secara ekonomi. Begitu pula, masyarakat adat yang tinggal di kawasan hutan dan sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem didalamnya.
Upaya Menangani Spesies Invasif Asing
Ancaman spesies invasif mendorong pemerintah untuk mengambil langkah dalam melindungi keanekaragaman hayati. Dilansir dari Food and Agriculture Organization of The United Nation (6/4/2026), Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Food and Agriculture Organization of The United Nation (FAO) meluncurkan proyek yang bernama Strengthening Capacities for Management of Invasive Alien Species (SMIAS) untuk memperkuat kapasitas negara dalam mengendalikan spesies invasif dengan dukungan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF).
Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem hutan.
“Dengan melindungi keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya, proyek ini bertujuan untuk juga memberi manfaat bagi banyak warga Indonesia yang mata pencaharian dan ketahanan pangannya bergantung pada hutan, termasuk Masyarakat Adat. FAO siap memberikan dukungan pengawasan, membantu Indonesia mewujudkan produksi yang lebih baik, gizi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang,” Ujar Rajendra Aryal.
Nantinya, proyek ini akan difokuskan pada dua kawasan konservasi di Indonesia, yaitu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur. Kedua kawasan tersebut dipilih karena merupakan habitat dari spesies endemik penting.
Dengan adanya proyek ini, diharapkan permasalahan mengenai spesies invasif asing dapat segera terselesaikan, sehingga keanekaragaman hayati serta masyarakat yang bergantung pada ekosistem hutan dapat terus terjaga.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Zodiak Apa yang Akan Membawa Keberuntungan di Tahun 2026?
-
3 Parfum Lokal dengan SPL Kuat tapi Tidak Bikin Pusing, Rekomendasi Molita Lin
-
6 Shio yang Bernasib Baik Hari Ini 8 Juli 2026, Naga hingga Kuda Banjir Hoki
-
Hoki Besar! 3 Zodiak Ini Akhirnya Menemukan Kebahagiaan pada 8 Juli 2026
-
On Squad Race Debut di Jakarta, Lomba Estafet Urban Satukan Komunitas Pelari dalam Format Unik
-
6 Shio Paling Beruntung pada 8 Juli 2026, Hoki Menghampiri Sepanjang Hari
-
Apa Itu Teknik Baking dalam Makeup? Ini Caranya agar Riasan Tahan Lama
-
Review Viva Velvet Cushion yang Cuma Rp70 Ribuan: Hasilnya Flawless dan Samarkan Pori-Pori
-
Dari Matras ke Yacht, Tren Gaya Hidup Sehat Kini Hadir dengan Cara yang Lebih Seru
-
Apa Bedanya Tone Up Cream dan Moisturizer? Sering Dianggap Sama Padahal Fungsinya Beda