- Laporan Ampverse menyatakan jumlah pemain gim di Asia Tenggara diproyeksikan mencapai 290 juta orang pada tahun 2025.
- Indonesia menjadi pasar terbesar dengan 150 juta gamer yang menjadikan aktivitas bermain gim sebagai pengalaman sosial kolektif.
- Ekosistem gim di Asia Tenggara bertransformasi menjadi ruang komunitas yang membutuhkan pendekatan autentik dari berbagai brand global.
Suara.com - Dulu, bermain game sering dianggap sekadar hobi untuk mengisi waktu luang. Tapi hari ini, di Asia Tenggara, terutama Indonesia gaming telah menjelma menjadi ruang berkumpul, tempat orang membangun koneksi, berbagi cerita, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Gambaran ini terasa kuat dalam laporan terbaru yang dirilis Ampverse bertajuk Ampverse Playbook: Unlocking the Value of Gaming in Southeast Asia. Laporan tersebut menunjukkan bahwa skala dunia gaming di kawasan ini sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Pada 2025 saja, jumlah gamer di Asia Tenggara diperkirakan mencapai sekitar 290 juta orang, dengan nilai pasar sekitar US$6,6 miliar. Angka ini bahkan diproyeksikan terus tumbuh, dengan total gamer melampaui 330 juta pada 2030.
Namun yang menarik, pertumbuhan ini bukan hanya soal angka, melainkan tentang bagaimana gaming berkembang sebagai ekosistem sosial yang hidup, dari komunitas, kreator, hingga interaksi sehari-hari yang terjadi di dalamnya.
Indonesia menjadi contoh paling nyata dari perubahan ini. Dengan lebih dari 150 juta gamer, Indonesia bukan hanya pasar terbesar di kawasan dari sisi jumlah pemain, tetapi juga salah satu yang paling kuat secara komunitas.
Di sini, bermain game bukan sekadar aktivitas individual, melainkan pengalaman kolektif, dari mabar bersama teman, mengikuti streamer favorit, hingga aktif dalam komunitas online yang terasa seperti “rumah kedua”.
Charlie Baillie, CEO dan Co-Founder Ampverse, menyoroti perubahan cara pandang ini. Menurutnya, gaming di Asia Tenggara masih kerap dipandang terlalu sempit, sekadar sebagai hiburan atau hanya sebagai salah satu kanal media digital. Indonesia menunjukkan dengan jelas bahwa cara pandang seperti itu sudah tidak lagi relevan.
Ia menekankan bahwa kekuatan Indonesia bukan hanya pada jumlah pemain, tetapi pada bagaimana kreator dan komunitas membentuk cara orang menemukan dan mengadopsi game.
“Bagi brand dan publisher, peluang di Indonesia bukan hanya soal skala, tetapi juga soal memahami bagaimana pengaruh dibangun dan dipertahankan di pasar ini,” ucapnya.
Baca Juga: 65 Kode Redeem FF Max Terbaru 12 April 2026: Raih Skydive Undersea, Doctor Red, dan Topi
Yang membuat lanskap ini semakin menarik adalah fakta bahwa pengalaman gaming kini meluas jauh di luar permainan itu sendiri. Lebih dari separuh gamer di Asia Tenggara secara rutin menonton konten gaming melalui livestream, YouTube, dan media sosial.
Artinya, hubungan antara gamer, kreator, dan komunitas menjadi semakin erat dan di situlah nilai terbesar sebenarnya terbentuk. Bahkan, meskipun pendapatan industri gaming diproyeksikan naik menjadi sekitar US$7,1 miliar pada 2028, Ampverse melihat peluang yang jauh lebih besar justru berada di ekosistem yang lebih luas ini, yang diperkirakan bisa mencapai US$14 miliar pada 2030.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa banyak strategi global sering kali tidak berjalan mulus di Asia Tenggara. Meski mobile gaming menyumbang sekitar 70% dari total pendapatan, perilaku gamer tidak hanya ditentukan oleh platform, tetapi oleh siapa yang mereka percaya dan komunitas mana yang mereka ikuti.
Di kawasan ini, keaslian menjadi kunci. Audiens cenderung cepat mengenali dan menolak, kampanye yang terasa tidak relevan atau tidak memahami budaya lokal. Karena itu, pendekatan yang berhasil bukan lagi sekadar “hadir” di platform, melainkan benar-benar terlibat dalam komunitas.
Brand dan publisher dituntut untuk memahami dinamika lokal, bekerja sama dengan kreator yang dipercaya, dan membangun hubungan yang terasa autentik sejak awal.
Kembali lagi, Indonesia memegang peran penting dalam lanskap ini. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan basis gamer yang sangat besar, negara ini menjadi pusat perhatian dalam strategi gaming Asia Tenggara. Namun lebih dari itu, Indonesia menunjukkan bagaimana sebuah hobi bisa berkembang menjadi kekuatan budaya.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
8 Kesalahan yang Bikin Mesin Cuci 1 Tabung Cepat Rusak, Ibu-ibu Harus Waspada!
-
5 Sabun Cuci Muka Glad2Glow untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat
-
5 Sepeda Lipat Lokal Terbaik di Indonesia, Murah sampai Mewah Sesuai Bujet
-
5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
-
4 Krim Wajah Pencerah Terbaik yang Bikin Kulit Cerah Merata dan Bebas Noda
-
4 Shio Perlu Waspada pada 13 April 2026, Energi Hari Ini Bisa Bawa Tantangan
-
Ketidakseimbangan Lipid Picu Ketombe dan Rambut Kering, Ini Solusi Perawatan Menyeluruhnya
-
5 Serum Lokal untuk Mencerahkan Wajah, Bye-Bye Kulit Kusam dan Noda Hitam
-
5 Parfum Wangi Minyak Telon, Aromanya Lembut dan Bikin Tenang
-
5 Mesin Cuci Front Loading Langsung Kering Tanpa Jemur, Baju Bisa Langsung Dipakai