- Penelitian Asana 2026 mengungkapkan 78 persen Gen Z di Indonesia mengalami imposter syndrome yang menghambat produktivitas mereka.
- Sebanyak 176 ribu mahasiswa bergabung dalam Novo Club Batch 4 pada 25 April 2026 untuk melawan keraguan.
- Ekosistem kolaboratif dari ParagonCorp ini berhasil mendorong mahasiswa menciptakan lebih dari 260 proyek inovatif di berbagai daerah.
Suara.com - Di era di mana informasi mengalir deras melalui media sosial, Generasi Z (Gen Z) sering kali terperangkap dalam ekspektasi yang tidak realistis. Fenomena imposter syndrome atau keraguan akut terhadap kemampuan diri sendiri kian menjamur. Berdasarkan laporan penelitian Anatomy of Work dari Asana pada awal 2026, lebih dari tiga perempat atau sekitar 78 persen Gen Z melaporkan pernah bergulat dengan perasaan imposter syndrome. Perasaan takut gagal inilah yang sering kali membuat anak muda lumpuh dalam bertindak, memilih menunggu segalanya terasa "sempurna" sebelum berani mengambil langkah pertama.
Namun, sebuah gebrakan masif yang terjadi pada hari Sabtu (25/4/2026) membuktikan bahwa narasi keraguan tersebut perlahan mulai dipatahkan. Lebih dari 176 ribu mahasiswa dari berbagai kawasan di Indonesia Barat hingga Timur memutuskan untuk menembus batasan keraguan mereka dengan bergabung dalam Novo Club.
Memasuki angkatan keempatnya pada April 2026, ekosistem nasional yang diinisiasi oleh ParagonCorp sejak 2023 ini hadir bukan sekadar sebagai program pelatihan. Novo Club menjadi ruang kolaboratif yang menantang para pemuda untuk menjadi changemakers atau pembawa perubahan di daerahnya masing-masing.
Mendobrak Budaya Overthinking
Narasi mengenai pentingnya mendobrak budaya overthinking ini ditekankan dengan tajam oleh Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI). Dalam acara Welcoming Novo Club Batch 4 yang mengusung semangat “Berani Berinovasi, Berdampak Tanpa Batas”, Salman memberikan refleksi yang menampar kebiasaan kaum muda yang kerap menunda aksi.
"Masa muda bukan masa untuk menunggu. Masa muda adalah masa untuk mulai. Mulai mencoba. Mulai belajar. Mulai menentukan arah hidup," pesan Salman.
Ia mengingatkan para mahasiswa bahwa kesempurnaan hanyalah ilusi yang menghambat kemajuan. "Banyak perubahan besar di dunia ini tidak dimulai dari orang yang paling siap, tetapi dari mereka yang cukup berani untuk melangkah. Jangan tunggu sempurna untuk memulai. Karena semua orang hebat hari ini pernah berada di titik yang sama: belum siap, tapi tetap melangkah," tambahnya dengan tegas.
Keberanian di Tengah Ketidakpastian
Tentu saja, melangkah di tengah ketidakpastian bukanlah hal yang mudah. Namun, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., yang turut hadir dan mengapresiasi ekosistem ini, menegaskan bahwa keberanian adalah kunci.
Baca Juga: Dana Kelola Reksa Dana Makin Tumbuh, OJK Bidik Gen Z Investasi dari Rp10 Ribu
“Yang kita siapkan hari ini bagaimana cara berpikirnya, nilai yang dipegang, keberanian yang dimiliki untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian," ujar Prof. Brian. Menurutnya, acara hibrida tersebut merupakan titik temu yang sangat krusial. "Di sinilah ilmu pengetahuan, kepemimpinan, pengalaman dan keberanian itu bertemu. Di sinilah gagasan diuji, nilai dibentuk, dan generasi masa depan Indonesia akan menemukan arah perannya.”
Dampak Nyata yang Berkelanjutan
Mengubah keraguan menjadi dampak nyata tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Menyadari hal tersebut, Novo Club dirancang sebagai perjalanan pengembangan komprehensif selama 1,5 tahun. Mahasiswa tidak hanya dicekoki teori, tetapi didorong untuk membangun inisiatif dan menjalankan proyek kolaboratif di komunitasnya.
Pendekatan ini terbukti sukses dengan lahirnya lebih dari 260 program dan kegiatan yang diinisiasi langsung oleh mahasiswa di berbagai daerah. Dilengkapi dengan fase alumni empowerment untuk membuka jejaring profesional dan peluang karier, inisiatif ini memastikan bahwa keberanian yang dimulai hari ini akan terus hidup. ParagonCorp berharap, ke depannya semakin banyak anak muda yang sadar bahwa ide sehebat apa pun tidak akan mengubah Indonesia jika tidak dibarengi dengan keberanian untuk mengeksekusinya.
Berita Terkait
-
Dear Gen Z, Ini Tips dari Menkeu Purbaya untuk Investasi ke Pasar Saham
-
Di Balik Stabilitas Metropolitan Land: Strategi Cerdas Diversifikasi Bisnis Properti
-
Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak
-
Dari Cemas Jadi Percaya Diri, Perjalanan Ibu di Era Gen Z Berubah
-
Generasi Z dan Ilusi Kesuksesan Modern: Jabatan Masih Relevan Nggak Sih?
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
7 Fenomena Langit Sepanjang Agustus 2026, Hujan Meteor Perseid hingga Gerhana Matahari
-
3 Rekomendasi Shade Bedak Tabur Viva untuk Kulit Sawo Matang, Hasil Natural dan Menyatu
-
Hidup Berpindah Mengikuti Hutan: Perjuangan Punan Batu Benau-Sajau Mempertahankan Ruang Hidup
-
Rampok Toko Emas Pakai Senpi Dinas, Briptu MZ Dipecat dari Polda Aceh
-
Sukses Mulia Story: Ketika Mimpi Besar Menjadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan
-
Diiringi Lagu Glenn Fredly, Delvis Rettob Dinobatkan sebagai Ketua Presidium PP PMKRI
-
522 Anak dan Remaja Hidup dengan HIV di Sidoarjo, Pentingnya Memahami Angka dan Mencegah Stigma
-
Bupati Pemalang Kena OTT, Jadi Operasi Tangkap Tangan KPK ke-18 Sepanjang 2026
-
Sayembara Tangkap Begal Dedi Mulyadi Dinilai Disfungsional, Terkesan Tak Percaya Polda Jabar
-
Rumah Sakit Jepang Seperti di Zona Perang, Kewalahan Obati Korban Gempa Bumi Kumamoto