Lifestyle / Food & Travel
Selasa, 28 April 2026 | 13:42 WIB
Warga melihat kondisi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO//Darryl Ramadhan/app/agr]

4. Strategi Keamanan dan Kenyamanan

Tujuan utama adanya gerbong khusus perempuan adalah untuk memberikan rasa aman, terutama dari risiko pelecehan seksual di transportasi umum. 

Dalam kondisi KRL yang padat, interaksi fisik sulit dihindari. Oleh karena itu, gerbong khusus menjadi solusi untuk menciptakan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi perempuan.

Penempatan di ujung juga membantu meminimalkan interaksi dengan arus penumpang campuran yang biasanya lebih padat di tengah rangkaian.

5. Bagian dari Kebijakan Afirmasi Sejak 2010

Gerbong khusus perempuan mulai diterapkan sejak tahun 2010 oleh Kementerian Perhubungan sebagai respons terhadap meningkatnya kasus pelecehan di transportasi umum. 

Biasanya, dalam satu rangkaian KRL terdapat dua gerbong khusus perempuan yang ditempatkan di bagian depan dan belakang.

Penempatan ini bukan keputusan acak, melainkan hasil evaluasi operasional yang mempertimbangkan keamanan, aksesibilitas, dan efektivitas layanan.

6. Tidak Lepas dari Kritik dan Tantangan

Baca Juga: KRL ke Cikarang Belum Beroperasi, 25 Perjalanan KA Masih Terganggu

Meski memiliki banyak manfaat, penempatan gerbong perempuan di ujung juga mendapat kritik. Keluhan yang sering muncul adalah jarak tempuh yang lebih jauh dari akses utama stasiun seperti tangga atau eskalator. Selain itu, kritik mengenai keselamatan pada penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian kereta. 

Akibatnya, sebagian penumpang perempuan harus berjalan lebih jauh untuk mencapai gerbong tersebut, yang terkadang justru dianggap kurang praktis. Selain itu, kapasitas gerbong khusus yang terbatas juga membuatnya sering penuh, terutama pada jam sibuk.

Kontributor : Rishna Maulina Pratama

Load More