Suara.com - Di ujung timur Indonesia, di hamparan Papua Selatan yang didominasi hutan monsun dan sabana, berdiri sebuah “bangunan” alami yang kerap luput dari perhatian: Musamus.
Dari kejauhan, ia tampak seperti gundukan tanah raksasa yang membisu. Namun di balik bentuknya yang sederhana, sarang rayap ini menyimpan sistem kehidupan yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan.
Dilansir dari World Resources Institute Indonesia (11/5/2026), Musamus bukan sekadar sarang rayap biasa. Struktur ini dibangun oleh koloni rayap tanah Macrotermes sp. dengan campuran tanah, rumput kering, air liur, dan material organik lain yang dipadatkan secara bertahap selama bertahun-tahun.
Hasilnya adalah konstruksi alami yang bisa mencapai tinggi hingga 5 meter dengan lebar sekitar 2 meter.
Di dalamnya, Musamus bekerja seperti sebuah “gedung ber-AC” alami. Saluran-saluran kecil yang tersusun rapi berfungsi sebagai sistem ventilasi untuk menjaga suhu tetap stabil di kisaran 29–32 derajat Celcius.
Sistem ini memungkinkan koloni tetap bertahan di tengah perubahan cuaca ekstrem Papua Selatan, termasuk saat kebakaran hutan melanda area sekitarnya, sebagaimana dicatat oleh Indonesia Kaya (11/5/2026).
Bentuk luarnya pun bukan kebetulan. Setiap kemiringan dan alur tanah dirancang secara alami untuk mengalirkan air hujan agar tidak masuk ke dalam sarang. Adaptasi ini lahir dari lingkungan hidup rayap yang keras—wilayah yang basah saat musim hujan, namun bisa berubah sangat kering ketika musim kemarau tiba.
Namun, Musamus tidak lagi hidup dalam ruang yang sepenuhnya tenang.
Di tengah gencarnya pembangunan Papua Selatan, lanskap tempat Musamus berdiri mulai berubah. Sejumlah proyek besar yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029, seperti food estate, pengembangan kawasan pemerintahan Daerah Otonomi Baru, hingga rencana bioetanol berbasis tebu, diproyeksikan memanfaatkan sekitar 2 juta hektare lahan.
Baca Juga: Bia dan Kapak Batu: Kisah Inspiratif Perempuan Papua di Tengah Arus Zaman
Perubahan skala besar ini membawa konsekuensi ekologis. Alih fungsi lahan berpotensi mengganggu ekosistem hutan monsun dan sabana yang menjadi ruang hidup Musamus. Risiko deforestasi dan degradasi lahan pun ikut meningkat, perlahan mengikis habitat yang selama ini menopang keseimbangan alam di wilayah tersebut.
Dalam catatan World Resources Institute Indonesia, pembangunan di kawasan ini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan daya dukung ekosistem. Kolaborasi antar pemangku kepentingan dan penggunaan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dinilai menjadi kunci agar lanskap unik seperti Musamus tidak hilang di tengah arus pembangunan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar