- Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita jadi sorotan karena mengangkat isu konflik agraria, deforestasi, dan perjuangan masyarakat adat Papua.
- Film ini menarik perhatian publik karena tema sensitif dan pesan sosial yang kuat.
- Banyak orang ingin tahu platform penayangan dan cara menonton secara legal sebagai bentuk dukungan.
Lantas, bagaimana cara mengadakan nobar film "Pesta Babi"? WatchDoc dan pihak terkait lain telah menyiapkan link resmi, yakni https://bit.ly/musimnobar_pestababi.
Link tersebut berisi form pendaftaran acara nobar yang harus diisi oleh penyelenggara acara. Beberapa data yang harus diisi adalah:
- Nama email penyelenggara
- Penanggung jawab penyelenggara
- Nama komunitas/lembaga yang menyelenggarakan acara nobar
- Film yang dipilih: Versi bahasa Indonesia, English Version, atau Berbahasa Indnoensia (iwth English Subtitle)
- Alamat nobar (meliputi provinsi, kabupaten, dan kecamatan)
- Tanggal dan waktu nobar
- Nomor WhatsApp
- Akun media sosial
Dalam form tersebut juga terdapat ketentuan nonton bareng yang perlu dipenuhi, yakni:
- Dilarang menyebarkan film dalam bentuk apa pun
- Diikuti minimal 10 orang
- Wajib mengirimkan bukti dokumentasi nobar
- Penyelenggarakan mengirimkan tiket sukarela yang dikumpulkan dari penonton untuk pengungsi Papua yang akan disalurkan melalui lembaga sosial dan kemanusiaan
- Setelah mengisi form pendaftaran, panitia akan melakukan verifikasi dan mengirimkan tautan film resmi melalui email. Disebutkan bahwa proses ini dilakukan sekitar H-2 jadwal nonton bareng.
Sinopsis Film 'Pesta Babi', Bercerita Tentang Apa?
Secara garis besar, film "Pesta Babi" mengikuti kehidupan masyarakat adat Papua yang menghadapi perubahan besar akibat pembukaan hutan dalam skala masif untuk proyek pangan dan bioenergi.
Film dokumenter ini berfokus pada wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, daerah yang disebut mengalami konversi hutan terbesar dalam sejarah modern Indonesia.
Cerita dokumenter dibangun melalui pengalaman warga adat seperti Yasinta Moiwend dari suku Marind, Vincen Kwipalo dari suku Yei, dan komunitas Awyu yang mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri.
Penonton diajak melihat bagaimana hutan adat perlahan berubah menjadi kawasan perkebunan besar, sementara masyarakat lokal menghadapi ancaman kehilangan ruang hidup, sumber pangan, hingga identitas budaya mereka.
Film ini juga menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek investasi, konflik lahan, serta tekanan terhadap masyarakat yang menolak pelepasan tanah adat.
Salah satu simbol perlawanan yang muncul dalam film adalah pemasangan "salib merah" oleh warga sebagai bentuk penolakan terhadap pembukaan hutan dan penguasaan lahan oleh perusahaan besar.
Baca Juga: Viral Nobar Film Pesta Babi Digelar di Masjid, Ratusan Anak Muda Datang Menonton
Judul "Pesta Babi" dipakai bukan sekadar untuk tujuan provokatif, melainkan memiliki makna budaya yang kuat. Dalam tradisi masyarakat Papua, babi merupakan simbol sosial dan spiritual yang penting.
Hewan ini hadir dalam ritual adat, penanda status sosial, hingga bagian dari sistem ekonomi tradisional masyarakat adat.
Melalui judul tersebut, film ingin menunjukkan kontras antara tradisi masyarakat adat yang menjaga keseimbangan alam dengan praktik eksploitasi sumber daya yang dianggap merusak lingkungan atas nama pembangunan modern.
Karena itu, frasa "Kolonialisme di Zaman Kita" digunakan untuk menggambarkan bentuk baru penguasaan tanah dan sumber daya yang dinilai masih terjadi hingga hari ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
6 Aturan Emas Posisi Kulkas Menurut Feng Shui agar Rezeki di Rumah Lancar
-
4 Cushion SPF 50 Terbaik untuk Dipakai Sehari-hari, Lengkap dengan Harga dan Review
-
3 Sepatu Lari Wanita ANTA Terlaris di Shopee, Simak Penilaian dari Pembeli
-
Apakah Pakai Sunscreen Harus 2 Ruas Jari? Ini 3 Rekomendasi Tabir Surya SPF 50 Terbaik
-
Penjual Shopee Bakal Kena Potongan Pajak 0,5% Per Agustus 2026, Ini Cara Biar Tetap Bebas Pajak!
-
Sepeda Lipat Ukuran 20 Inch untuk Usia Berapa? Ini 4 Pilihan Terbaik Sesuai Tinggi Badan
-
Mengapa Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses Sebagian Konsumen?
-
Jejak Karier dan Harta Kekayaan Syah Afandin Bupati Langkat yang Kena OTT KPK
-
3 Kacamata Anti UV Stylish dengan Review Bintang Lima, Harga Murah Frame Bisa Dilipat
-
5 Parfum di Alfamart yang Tahan Lama Menurut Review Pembeli, Mulai Rp30 Ribuan