Lifestyle / Komunitas
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:15 WIB
film Pesta Babi (YouTube/Indonesia Baru)
Baca 10 detik
  • Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menyutradarai dokumenter investigasi mengenai dampak ekspansi industri besar di Papua Selatan.
  • Film ini menyoroti deforestasi 2,5 juta hektar hutan akibat proyek pembangunan yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat setempat.
  • Proses produksi selama empat tahun di Papua menghasilkan karya yang memicu diskusi publik luas terkait isu agraria.

Bagi masyarakat adat Papua, pesta babi adalah ritual budaya penting yang melambangkan perdamaian, hubungan sosial, dan perayaan.

Dalam film, judul ini menjadi metafor tajam untuk menggambarkan “pesta” eksploitasi tanah dan sumber daya yang dilakukan atas nama pembangunan, sekaligus mengkritik pola kolonialisme baru di era kontemporer.

5. Fokus pada Perjuangan Masyarakat Adat

Film merekam perlawanan suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu yang mempertahankan tanah leluhur. Mereka memasang salib raksasa dan palang adat sebagai bentuk protes.

Banyak narasumber seperti perempuan Papua yang menjadi buruh sawit mengungkap realitas upah rendah dan hilangnya hutan sebagai sumber pangan tradisional.

6. Tayang Perdana di Luar Negeri

Pra-peluncuran dan gala premiere dilakukan di Papua, Selandia Baru (Auckland, 7 Maret 2026), Australia, dan kemudian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (12 April 2026).

Film ini juga diputar di forum internasional, menarik perhatian global terhadap isu Papua.

7. Kontroversi dan Pembubaran Nobar

Baca Juga: Link Nonton Film Pesta Babi Gratis, Tinggal Isi Google Form Ini

Film ini menjadi viral karena sejumlah acara nonton bareng (nobar) di kampus dan komunitas dibubarkan, seperti di Yogyakarta, Mataram, dan Ternate.

Meski pemerintah menyatakan tidak ada larangan resmi, film ini memicu perdebatan sengit tentang kebebasan berekspresi dan narasi seputar Papua. Semakin dilarang, semakin banyak orang penasaran.

8. Melibatkan Risiko bagi Pembuatnya

Proses syuting dilakukan di bawah bayang-bayang militerisasi dan pembatasan akses media di Papua.

Sutradara dan tim mengungkapkan pengalaman berjalan kaki berhari-hari, kehujanan, serta risiko pribadi dalam mengungkap fakta-fakta sensitif ini.

9. Bukan Sekadar Dokumenter Lingkungan

Load More