Ternyata, banyak orang merasa relate dengan pengalaman tersebut.
“Terus akhirnya di komen-komen tuh banyak yang ternyata pinpoint-nya sama. Kayak mereka juga ngerasain kalau iya kerja remote ternyata sepi, nggak se-flexible itu, nggak se-bisa kemana-mana itu,” ungkapnya.
Dari sana, komunitas WFC Journal mulai terbentuk sedikit demi sedikit. Pertemuan pertama mereka bahkan hanya dihadiri empat orang. Kini, jumlah anggotanya sudah mencapai ribuan.
Menjadi Wadah Bagi Para Pekerja Remote Untuk Berinteraksi
Saya mulai memahami mengapa konsep seperti ini terasa dekat bagi banyak pekerja remote. Setelah pandemi, bekerja dari rumah memang memberi fleksibilitas. Namun, di saat yang sama, banyak orang perlahan kehilangan ruang sosialnya.
Tidak ada lagi teman makan siang kantor, obrolan receh sebelum meeting, atau sekadar sapaan kecil di sela pekerjaan yang dulu terasa biasa saja.
Menurut Amelia, banyak pekerja remote kehilangan third space, yaitu ruang ketiga selain rumah dan kantor untuk membangun relasi sosial.
“Jadi kita biasanya punya rumah sebagai first space, terus tempat kerja sebagai second space, tapi kita nggak punya third space ini nih. Di mana kita bisa nyari teman selain dari di rumah atau di kerjaan,” jelasnya.
Hal itu juga dirasakan Healthy, salah satu anggota yang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan WFC Journal. Ketika saya bertanya soal pengalamannya, ia langsung tersenyum.
“Pengalamannya seru sih, jadi ketemu teman baru. Terus koneksi juga,” katanya.
Baca Juga: Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
Siang itu, saya melihat sendiri bagaimana suasana di ruangan perlahan berubah. Awalnya semua orang sibuk dengan layar laptop masing-masing. Suara ketikan keyboard mendominasi ruangan.
Namun menjelang sore, percakapan mulai muncul sedikit demi sedikit. Ada yang saling bertukar cerita pekerjaan, ada yang mengobrol soal keseharian, bahkan ada peserta baru yang perlahan ikut tertawa bersama orang-orang yang sebelumnya asing baginya.
Di sisi lain, Ganis, peserta yang baru pertama kali ikut, mengaku awalnya sempat merasa canggung ketika datang sendirian.
“Agak awkward ya, karena tadi dateng terus bingung ini yang mana komunitasnya,” katanya sambil tertawa.
Namun, rasa canggung itu perlahan hilang ketika percakapan mulai terbuka.
“Seru sih mendapatkan kenalan baru, teman baru,” ujarnya sambil tersenyum.
Perasaan welcoming itu juga saya rasakan saat berada di sana. Buat saya, bagian paling menarik justru bukan soal bekerja di kafe, melainkan interaksi kecil yang tercipta antar peserta. Di tengah budaya kerja yang semakin individual dan serba digital, ternyata banyak orang masih mencari hal sederhana: merasa terhubung dengan manusia lain.
Saya juga sempat berbincang dengan Ridho, anggota yang sudah dua tahun bergabung di komunitas ini. Ia bercerita bahwa WFC Journal mempertemukannya dengan banyak orang dari latar belakang berbeda.
“Gue bisa ketemu orang dari IT, finance, dan background lain. Itu membuka wawasan gue banget,” jelasnya dengan nada antusias.
Menurutnya, komunitas ini membuktikan bahwa bekerja bersama orang lain tidak selalu mengganggu produktivitas.
“Orang suka mikir kerja rame-rame pasti gak fokus. Tapi kita tetap bisa produktif kok meskipun rame-rame,” ujar Ridho.
Bahkan, hubungan yang terbentuk dari komunitas ini berkembang lebih jauh dari sekadar teman kerja. Ada yang akhirnya menjadi teman dekat, membuat proyek bersama, hingga merintis bisnis bareng.
Di tengah obrolan itu, saya akhirnya sadar bahwa WFC Journal bukan sekadar soal pindah tempat kerja dari rumah ke kafe lalu bekerja bersama orang asing. Bagi banyak orang, komunitas ini menjadi ruang untuk kembali merasa terhubung setelah terlalu lama menjalani hari sendirian di depan layar.
Mungkin, di era ketika semua orang bisa bekerja dari mana saja, hal yang paling dicari bukan lagi sekadar tempat kerja yang nyaman, melainkan perasaan bahwa kita tidak benar-benar sendirian.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
4 Bedak Tabur Lokal Terbaik untuk Kulit Berjerawat, Ringan di Wajah dan Harga Terjangkau
-
Apakah Ukuran Sepatu Lari Harus Pas? Ini Penjelasan yang Benar
-
Tahan Perubahan Iklim dan Kaya Gizi, Bisakah Sukun Menjadi Superfood Lokal Indonesia?
-
MPLS Pakai Baju Apa? Ini Pakaian yang Harus Dihindari untuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
-
5 Sepatu Lari Lokal Rekomendasi dr Tirta, Ada Full Cushion hingga Carbon Plate
-
Blush On Viva Apakah Sudah BPOM? Cek Review Jujur Perona Pipi Legendaris Rp6 Ribuan
-
Apakah Kacamata Anti Radiasi Efektif Mencegah Mata Minus dan Lelah? Dokter Bongkar Faktanya!
-
Apakah Parfum Scarlett Boleh Dipakai Sholat? Pahami Kandungannya
-
Parfum Vitalis Apa yang Best Seller? Ini 3 Pilihan Murah tapi Wanginya Gak Murahan
-
4 Review Bedak Padat Wardah Terbaik yang Bikin Glowing, Andalan Wanita Usia 40 Tahun