Lifestyle / Komunitas
Rabu, 17 Juni 2026 | 10:40 WIB
Konservator melakukan proses jamasan benda pusaka di Museum Pusaka, TMII, Jakarta, Selasa (10/8/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Baca 10 detik
  • Warga berebut air bekas jamasan pusaka di Pura Mangkunegaran, Solo, pada Selasa (16/6/2026) malam.
  • Masyarakat meyakini air bekas cucian pusaka tersebut mengandung berkah.
  • Prosesi jamasan menggunakan bahan alami seperti jeruk nipis dan bunga untuk membersihkan benda pusaka warisan leluhur.

Banyak petani atau pedagang yang membawa pulang air ini untuk disiramkan di sawah atau tempat usaha.

Tujuannya adalah sebagai simbol harapan agar hasil panen melimpah atau dagangan laris di ttahun yang baru.

3. Keyakinan akan Kesehatan dan Tolak Bala

Beberapa warga menggunakan air bekas jamasan untuk membasuh muka atau menyiram sudut-sudut rumah.

Hal ini diyakini sebagai bentuk perlindungan diri dari energi negatif (tolak bala) serta harapan agar diberikan kesehatan sepanjang tahun.

Kandungan Air Jamasan

Secara teknis, air yang digunakan dalam jamasan biasanya bukan air biasa.

Seperti yang dijelaskan dalam artikel di Sonobudoyo, proses jamasan menggunakan bahan-bahan alami seperti jeruk nipis, mengkudu, dan air bunga setaman.

Jeruk nipis berfungsi sebagai asam alami untuk meluruhkan karat (oksidasi) pada besi pusaka tanpa merusak logamnya.

Aroma wangi dari bunga dan jeruk inilah yang seringkali membuat air bekas jamasan terasa khas.

Baca Juga: Asal-usul Malam 1 Suro Dianggap Sakral, Simak Sejarah dan Alasannya

Seecara medis sebenarnya tidak disarankan untuk diminum karena kemungkinan mengandung sisa-sisa karat besi atau bahan kimia pembersih seperti warangan atau arsenik.

Kendati demikian, masyarakat tetap memburunya sebagai simbol spiritual.

Load More