Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:17 WIB
Komunitas Dear Tante melakukan kegiatan di taman (Dok. Pribadi/Dear Tante)

Suara.com - Beban pengasuhan anak yang tidak seimbang sering kali memicu fenomena kurangnya kehadiran figur ayah atau laki-laki dalam tumbuh kembang anak. Isu ketimpangan pengasuhan ini terus menjadi pengingat bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk menyuarakan pentingnya pembagian tugas dan peran yang setara antara laki-laki dan perempuan, terutama di tengah meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja.

Menteri PPPA dalam siaran persnya pada Mei 2026 mengaku masih mendapati berbagai tantangan yang dihadapi oleh perempuan dalam keluarga, mulai dari beban ganda, pengasuhan yang belum seimbang, hingga kekerasan yang terjadi di ruang publik. Menurutnya, untuk mengatasi permasalahan tersebut, organisasi perempuan di tingkat akar rumput menjadi penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat.

Dear Tante Hadir Sebagai Ruang Inklusif

Tidak hanya tante, om atau laki-laki pun boleh bergabung dengan komunitas ini menjadi support system (Dok. Pribadi/Dear Tante)

Salah satu komunitas yang bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan, Dear Tante, turut menjawab tantangan tersebut. Berawal dari ruang aman yang didominasi oleh perempuan muda dan para ibu baru, komunitas ini secara organik meluas dan mulai menarik perhatian serta keterlibatan para laki-laki yang kerap disapa "Om". Perubahan ini disadari betul oleh sang founder, Izza Fidaul, yang melihat ruang diskusi mereka bertransformasi menjadi lebih inklusif.

Bagi Dear Tante, melibatkan laki-laki dalam ekosistem pendukung pengasuhan adalah langkah krusial. Seorang "Om" atau figur laki-laki tidak harus mengalami proses biologis ibu untuk bisa memberikan empati yang nyata. Mereka bisa memberikan dukungan yang sangat berarti hanya dengan memahami fase-fase pengasuhan, seperti proses menyapih anak, agar tidak memberikan stigma atau tuntutan berlebih pada ibu baru.

"Core-nya komunitas ini 'kan seputar keperempuanan, jadi memang konten-kontennya lebih banyak tentang perempuan dan pemberdayaan perempuan. Tapi perlu dicatat juga bahwa pemberdayaan perempuan itu tidak hadir dalam ruang yang hampa, bahwa support dari laki-laki itu juga sangat perlu. Jadi, kita tidak perlu bilang, 'ayo laki-laki juga harus ikut,' tetapi ketika ada laki-laki yang punya semangat dan visi yang sama, itu sudah langsung memfilter bahwa pasti mereka juga turut dilibatkan tanpa harus merasa jadi yang harus bersuara," jelas Izza.

Visi inklusivitas ini kembali ditegaskan oleh Izza:

"Kalau misalnya kita mendakwa ini hanya sebagai komunitas perempuan, kita akan menihilkan suara dan anggota laki-laki yang sebenarnya ingin ikut belajar. Makanya, kami menetapkan sapaan khas 'Halo Tante dan Om' atau 'Salam Tante dan Om' di setiap komunikasi kami. Kami ingin ruang ini menjadi wadah kolaborasi di mana laki-laki juga bisa belajar menjadi support system yang peka."

Dengan konsistensi sapaan hangat tersebut, Dear Tante membuktikan bahwa ruang pengasuhan bukanlah wilayah eksklusif perempuan saja. Langkah kecil ini menjadi salah satu solusi konstruktif dalam mengikis sekat gender, mengubah persepsi kaku mengenai pola asuh, dan membangun masyarakat yang lebih berempati secara kolektif.

Reporter: Vicka Rumanti

Baca Juga: Persulungan, Ruang Aman dan Tumbuh bagi Mereka yang Terlahir sebagai Anak Sulung

Load More