Lifestyle / Relationship
Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:15 WIB
ilustrasi komunikasi dengan pasangan (Pexels.com/Nguyễn Thanh Tùng)
Baca 10 detik
  • The Gottman Institute mencatat 73 persen pasangan jarang mendiskusikan kebutuhan seksual serta batasan pribadi secara mendalam dan terbuka.
  • Psikolog Febrizky Yahya menyatakan bahwa ketidakberanian berkomunikasi sering memicu asumsi salah yang merusak kualitas hubungan emosional pasangan dewasa.
  • Okamoto mengadakan acara Spill the (Safe) Tea untuk mendorong pasangan berani berkomunikasi jujur demi membangun hubungan yang sehat.

Suara.com - Komunikasi yang terbuka menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat dan berkualitas. Meski banyak pasangan kini lebih leluasa membicarakan urusan karier, keuangan, hingga rencana masa depan, pembahasan mengenai kebutuhan emosional dan keintiman masih kerap dianggap tabu.

Padahal, keterbukaan dalam menyampaikan kebutuhan, preferensi, maupun batasan dapat membantu pasangan saling memahami dan mengurangi potensi kesalahpahaman dalam hubungan.

Mengacu pada temuan The Gottman Institute, sebanyak 73 persen pasangan disebut tidak pernah mendiskusikan kebutuhan seksual, fantasi, maupun batasan mereka secara mendalam. Temuan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi mengenai keintiman masih menjadi tantangan bagi banyak pasangan dewasa.

Psikolog sekaligus sex educator Febrizky Yahya mengatakan banyak pasangan sebenarnya ingin membicarakan berbagai hal penting terkait hubungan, tetapi tidak tahu bagaimana memulainya. Rasa canggung, takut disalahpahami, atau khawatir memicu respons negatif dari pasangan sering menjadi penghalang.

"Sering kali tantangan terbesar dalam hubungan bukanlah perbedaan pendapat, melainkan ketidakberanian untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan. Alih-alih bertanya langsung, banyak pasangan memilih berasumsi. Akibatnya, muncul kesalahpahaman yang dapat mengganggu kualitas hubungan," ujar Febrizky.

Menurutnya, komunikasi yang terbuka membantu pasangan membangun rasa aman, baik secara fisik maupun emosional, sekaligus menciptakan kedekatan yang lebih kuat. Dengan saling memahami kebutuhan dan kenyamanan masing-masing, hubungan dapat berkembang menjadi lebih sehat dan saling menghargai.

Untuk mendorong percakapan yang lebih terbuka, Okamoto bersama komunitas DearMoms dan IVG menggelar acara bertajuk Spill the (Safe) Tea. Kegiatan ini melibatkan 15 pasangan dewasa dalam suasana yang santai dan personal untuk mendiskusikan berbagai aspek hubungan serta keintiman yang selama ini jarang dibicarakan.

Mengusung konsep afternoon tea, peserta diajak mengikuti sesi refleksi, permainan pasangan, hingga diskusi bersama sex educator mengenai kebutuhan, preferensi, kenyamanan, serta berbagai mitos seputar penggunaan kondom dan kesehatan seksual.

Senior Chief Marketer Okamoto Industries (HK) Ltd. Holly Kwan mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mendorong pasangan lebih berani membangun komunikasi yang jujur.

Baca Juga: 3 Tahun Pacaran, Ariana Grande dan Ethan Slater Resmi Berpisah

Menurut Holly, hubungan yang berkualitas lahir dari rasa saling memahami, bukan sekadar asumsi. Karena itu, ia menilai keberanian membicarakan kebutuhan emosional, kenyamanan, hingga batasan dalam hubungan merupakan langkah penting untuk membangun kepercayaan.

Melalui inisiatif tersebut, Okamoto berharap semakin banyak pasangan dewasa menyadari bahwa hubungan yang sehat tidak hanya ditunjang oleh perlindungan fisik, tetapi juga oleh komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, dan penghargaan terhadap kebutuhan satu sama lain.

Load More